Sabtu, 07 Maret 2009

Ukhuwwah Islamiyah

1.Pendahuluan

Muhamad sas. diutus Allah Ta’ala kepada seluruh manusia untuk menyeru mereka kepada dien Islam. Islam dibangun di atas lima pondasi, sebagaimana sabda Rasulullah sas. berikut:

بني الإسلام على خسس:شهادة أن لا إله إلا الله و أن محمد رسول الله, وإقام الصلاة و إيتاء الزكاة و حج البيت و صوم رمضان

Artinya:

Islam dibangun di atas lima perkara:(1)syahadat bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, (2) menegakkan sholat, (3) membayar zakat, (4) haji ke rumah (ka’bah), dan (5) puasa Ramadhan

Pondasi pertama dari bangunan Al-Islam adalah syahadat لا إله إلا الله dan محمد رسول الله . Bagian pertama dari syahadat ini, لا إله إلا الله)), berarti pengakuan bahwa Allahlah satu-satu-Nya Dzat Yang harus diabdi, tidak ada pantas diabdi kecuali hanya dia.

Menjadikan Allah satu-satu-Nya Dzat Yang diabdi tidak akan terwujud bila orang taat dan patuh kepada hukum atau aturan yang bersumber dari selain Allah. Artinya, tunduk dan menerima hukum Allah merupakan konsekuwensi mutlak pengabdian kepada Allah semata. Berdaulat serta berdirinya hukum Allah di muka bumi merupakan pertanda bahwa manusia sudah mengabdi kepada Allah.

Sebaliknya, bila ada hukum atau aturan yang bersumber dari manusia yang masih berdiri di muka bumi, masih berdaulat di tengah-tengah manusia, maka hal itu berarti manusia belum menjadikan Allah satu-satu-Nya dzat yang diabdi. Mereka masih mengabdi kepada selain Allah dalam wujud menerima dan patuh kepada hukum atau aturan tersebut.

Orang yang menerima seruan Rasulullah sas. disebut orang Islam (muslim). Islam, sebagaimana makna لا إله إلا الله yang menjadi pondasinya, adalah penyerahan diri secara bulat kepada Allah, pengabdian total kepada Allah semata, menerima dan tunduk kepada seluruh ketentuan Allah, yang wujud riilnya adalah mematuhi segala ketetapan Allah sekuat tenaga.

Jadi, orang Islam adalah orang yang berpegang kepada prinsip Islam, baik dalam keyakinan, ibadah ritual, maupun peraturan hukum. Ia menyakini hanya Allahlah satu-satu-Nya Dzat Yang harus diabdi, lalu ia wujudkan dalam upacara-upacara peribadatan yang diperuntukkan hanya kepada-Nya, dan tidak memerima ketentuan, hukum atau peraturan kecuali yang bersumber dari-Nya. Dengan singkat kata, ia mengabdikan dirinya bulat-bulat kepada Allah, tunduk dan menerima segala ketetapan yang berasal dari-Nya tanpa pilih-pilih.

Adapun orang yang tidak berprinsip Islam, tidak menyerahkan dan mengabdikan dirinya secara bulat kepada Allah, ia tunduk kepada selain-Nya, baik dalam wujud tidak menyakini bahwa hanya Allahlah satu-satu-Nya Dzat Yang harus diabdi, maupun dalam wujud melakukan ibadah ritual untuk selain-Nya, atau taat dan tunduk kepada kepada hukum dan aturan yang tidak berasal dari-Nya, sedikit atau banyak, ia bukanlah orang Islam, meskipun pernah bersyahadat لا إله إلا الله atau mengaku sebagai muslim, atau ber-KTP Islam.

Pengabdian kepada Allah tidak akan terwujud tatkala manusia tunduk kepada selain Allah, tatkala masih ada undang-undang, hukum atau aturan yang bersumber dari selain Allah, yang diikuti manusia. Allah baru menjadi satu-satu-Nya Dzat Yang diabdi ketika hanya hukum-Nya, syari’at-Nya, dan ketentuan-ketentuan-Nya yang berdaulat di bumi, di tengah-tengah manusia.

Orang masih berada dalam kesyirikan, dan belum menjadikan Allah satu-satu-Nya Dzat Yang ia abdi, tatkala ia masih taat dan patuh kepada aturan, hukum, atau undang-undang yang berasal dari manusia, dari selain Allah, baik seluruhnya dan sebagiannya, sedikit atau banyak.

Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang ahli kitab menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, bukan karena sujud dan ruku’ mereka kepada para pemuka agama tersebut, bukan pula karena mereka mengadakan ibadah ritual untuk mereka, tapi hanya karena ketaatan dan kepatuhan terhadap atuaran atau hukum yang mereka ciptakan.

ابخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح بن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا سبحانه عما يشركون

Artinya:

Mereka (ahli kitab) menjadikan para pendeta dan rahib mereka, serta Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk mengabdi kepada Satu Ilah (Allah), Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.

Hatim bin ‘Adi –waktu itu masih seorang nasrani- datang kepada Rasulullah sas. Beliau membacakan ayat ini kepadanya. Lantas ‘Adi membantah, “Mereka tidak mengabdi kepada para pendeta dan rahib tersebut!”, kata ‘Adi. Lantas Rasulullah sas mengatakan, “Benar! mereka mengabdi kepada para rahib dan pendeta itu. Bukankah tatkala para pendeta dan rahib itu mengharamkan barang halal atau menghalalkan barang yang haram, lantas mereka ikuti?”. “Ya”, kata ‘Adi. “Itulah pengabdian mereka!”, tegas beliau.

Jelaslah di sini bahwa taat dan patuh kepada hukum atau ketentuan yang berasal dari selain Allah, merupakan bentuk pengabdian kepadanya.

sebagaimana dikemukakan di atas adalah penyerahan total kepada Allah, mengabdikan diri secara bulat kepada Allah semata. Orang Islam adalah orang yang benar-benar menyerah kepada Allah, menjadikan-Nya satu-satu-Nya Dzat YangIa abdi.

2.Ukhuwah Islamiyah

Kata ukhuwah berasal dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara).

Ukhuwah Islamiyyah adalah persaudaraan yang berdiri di atas dasar prinsip Islam: penyerahan bulat-bulat kepada Allah, pengabdian mutlak kepada-Nya. Pelaku Ukhuwah Islamiyah tentunya hanyalah orang-orang Islam, orang-orang yang mengabdi hanya kepada Allah, dalam wujud tidak tunduk dan menerima kecuali kepada semua ketentuan yang bersumber dari Allah, Sang Penguasa jagat raya ini. Mereka bersaudara, saling mencintai, saling memberikan loyalitas atas dasar prinsip di atas. Adapun orang-orang kafir yang enggan mengabdi kepada Allah, menolak hukum dan ketetapan-Nya, meskipun hanya sebagiannya saja, sedikit atau banyak, juga orang-orang musyrik yang tidak bulat-bulat mengabdikan dirinya kepada Allah semata, melainkan juga mengabdi kepada selain-Nya, tentu saja tidak ada ukhuwah (persaudaraan) antara mereka dengan umat Islam, kecuali bersadarkan keduniaan/nasab yang kerdil, yang akan segera sirna.

Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang terwujud karena masing-masing pelakunya mempunyai satu aqidah, satu jalan hidup, satu prinsip, satu manhaj, satu tujuan atau cita-cita, yaitu: Islam, penyerahan diri secara total kepada Allah, pengabdian mutlak kepada-Nya, sikap menerima dan tunduk kepada seluruh ketentuan-Nya, tidak menolaknnya walaupun sebagiannya, sedikit ataupun banyak. Kesamaan aqidah, manhaj, jalan hidup, dan tujuan inilah yang mengikat di antara mereka sehingga terbentuklah Ukhuwah Islamiyyah yang kokoh.

Artinya, orang yang tidak mempunyai aqidah, jalan hidup, prinsip, manhaj, serta tujuan seperti disebutkan di atas secara otomatis keluar dari ikatan Ukhuwah Islamiyyah. Ia bukan termasuk saudara seiman.

3.Terbentuknya Ukhuwah Islamiyyah.

Ukhuwah Islamiyyah terbentuk jika ada sekelompok orang yang terus bertekat mengadakan ikatan loyalitas (kesetiaan), kecintaan dan perwalian di antara mereka, atas dasar prinsip Islam yang ada pada diri mereka masing-masing; setiap dari mereka memiliki tekat yang bulat untuk ber-islam, menyerahkan diri kepada Allah, tidak mengabdi kecuali hanya kepada-Nya semata; mereka menjual diri-diri mereka kepada Allah dengan imbalan Jannah (surga); sehingga, dengan demikian, mereka rela, menerima, dan tunduk kepada segala hukum dan ketentuan Allah.

Agar seseorang dapat masuk dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah, menjadi anggota dari kelompok yang telah terikat Ukhuwah Islamiyyah di atas, ia harus berprinsip dengan prinsip Islam di atas, meninggalkan pengabdiannya kepada selain Allah, tidak menerima hukum yang berasal dari selain-Nya; ia harus meninggalkan jahiliyyah, apapun bentuknya, yang semuanya memiliki satu ciri, yaitu: pengabdian kepada selain Allah, ketertundukan kepada ketentuan, hukum, atau undang-undang yang bersumber dari selain Allah.

فإن تابواوأقاموا الصلاة وآتوا الزكاة فإخوانكم في الدين

Artinya:

Makajika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara mereka dalam agama

Mereka yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang mengabdi tidak cukup hanya kepada Allah, tapi juga mengabdi kepada selain-Nya; mereka tidak cukup hanya tunduk kepada-Nya, melainkan juga tunduk kepada selain-Nya. Orang-orang muyrik itu apabila bertobat, meninggalkan kesyirikan mereka, lalu berpegang kepada prinsip Islam, mereka adalah saudara seagama, masuk dalam ikatan ukhuwah (persaudaraan) di atas prinsip Islam, Ukhuwah Islamiyyah.

4.Dalil-dalil Al-Qur`an tentang Ukhuwah Islamiyyah

· Semua orang beriman adalah saudarasatu sama lain

Firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara, maka damaikanlah antara kedua saudara kalian dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian mendapat rahmat(-Nya).

QS Al-Hujurat (49) : 10

· Orang beriman adalah wali (pengurus, kekasih) bagi orang beriman yang lain

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.

QS At-Taubah (9) : 71

· Perintah Allah untuk bersaudara dan melarang berpecah belah

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبُكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Ingatlah kalian nikmat Allah ketika kalian bermusuh-musuhan, lalu Allah menjinakkan hati-hati kalian, kemudian jadilah kalian dengan nikmat-Nya tersebut orang-orang yang bersaudara.

QS Ali Imran (3) : 103

5.Hal yang membatalkan Ukhuwah Islamiyah

Tidak ada yang membatalkan dari ikatan Ukhuwah Islamiyyah kecuali perbuatan murtad: keluar dari Islam, dari prinsip pengabdian kepada Allah semata, menuju kepada kekufuran, kesyirikan, kepada pengabdian kepada selain Allah, apapun bentuk pengabdian tersebut, termasuk berhukum kepada selain Allah. Orang yang murtad secara otomatis terlepas dari ikatan Ukhuwah Islamiyyah; ia bukan lagi saudara kaum muslimin.

Seorang selama ia masih muslim, bagaimanapun juga keadaannya, sepanjang tidak murtad ia adalah saudara bagi orang muslim lainnya, ia masih terikat Ukhuwah Islamiyyah. Kuat dan lemahnya ikatan tersebut tergantung kekuatannya dalam memegang prinsip Islam; semakin kuat ia memegang prinsip Islam, semakin kuatlah ikatan tersebut. Sebaliknya, semakin lemah ia memegangnya, semakin lemah pulalah ikatan Ukhuwah Islamiyahnya.

6.Anjuran-anjuran dalam Ukhuwah Islamiyah

· Memberitahukan kecintaan kepada orang yang kita cintai

عَنْ أَبِيْ كَرِيْمَةََ الْمِقْدَادِ بْنِ مَعْدِ يَكْرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ . - رواه أبو داود و الترمذي و قال حديث حسن

Dari Abi Karimah Al-Miqdad bin Ma’di Yakrib ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaknya dia memberi tahu saudaranya (yang ia cintai) bahwasanya dia cinta kepadanya”.

(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits hasan)

· Saling mendoakan kebaikan

عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهِ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقَوْلُ: (مَا مِنْ عَبْدٍ مَسْلِمٍ يَدْعُوْ لأَِخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ ) . - رواه مسلم .

Dari Abu Darda` ra. bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah dari seorang hamba yang mendoakan (kebaikan) untuk saudaranya pada waktu (saudaranya) tidak hadir (ghaib), melainkan Malaikat akan berkata: “Dan bagimu semilsal itu”.

(HR. Muslim)

· Senyum dan mengucapkan salam bila berjumpa

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْأً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ. - رواه مسلم

Dari Abu Dzar ra. dia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda kepadaku: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun kamu bertemu saudaramu dengan (menampakkan) wajah yang berseri-seri.

(HR Muslim)

· Berjabat tangan ketika bertemu (kecuali non muhrim)

عَنْ الْبَرَّاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا). - رواه أبو داود

Dari Al-Barra` ra. dia berkata: Rasulullah pernah bersabda: “Tidaklah dari dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling berjabat tangan melainkan pasti diampunkan (dosa-dosa) keduanya sebelum berpisah”.

(H.R Abu Daud)

· Sering berkunjung

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :( أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِيْ قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَهُ اللهُ تَعَالَى لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ : أَيْنَ تُرِيْدُ قَالَ : أُرِيْدُ أََخًا لِيْ فِيْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ فَهَلْ لَكَ مِنَ النِّعْمَةِ تَرُبُّهَا عَلَيْهِ ؟ قَالَ : لاَ ، غَيْرَ أَنِّيْ أَحْبَبْتُهُ فِيْ اللهِ تَعَالَى قَالَ : فَإِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيْهِ ) . - رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. : “Bahwasanya ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di desa yang lain, kemudian Allah menjaganya dalam perjalannya melalui malaikat, lantas ketika malikat telah sampai kepadanya, dia berkata: “Hendak kemana kamu?” Laki-laki tersebut menjawab: “Aku hendak ke desa ini”. Malaikat berkata lagi: “Maka apakah kamu punya hutang budi kepadanya yang kamu pelihara?” Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah Ta’ala”. Malaikat itu berkata: “(Ketahuilah) sesunggunya aku adalah utusan Allah (yang diutus) kepadamu untuk memberitahumu bahwa Dia mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya”.

(HR Muslim)

· Memberikan hadiah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : تَهَادُوْا تَحَابُّوْا. - رواه البخاري في الأدب

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Saling memberilah hadiah kalian niscaya kalian akan saling mencintai”.

(HR Bukhari dalam kitab Adab Mufrad nya)

· Membantu dan meringankan beban saudaranya

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ . . . الْحَدِيْثَ. - رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau pernah bersabda: “Barang siapa menghilangkan dari orang yang beriman satu kesusahan dari beberapa kesusahan dunia, Allah pasti akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari beberapa kesusahan di hari kiamat. Dan barang siapa memudahkan atas orang yang kesulitan, Allah pasti akan memudahkannya di dunia dan akhirat . . . Al-hadits.

(HR Muslim)

· Menunaikan lima hak saudaranya

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَي الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ. - متفق عليه

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.

(HR Bukhari dan Muslim)

· Menutupi aib saudaranya

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: . . . وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ . . . الحديث. - رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau pernah bersabda: “. . . Dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah pasti akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat . . . Al-hadits.

(HR Muslim)

· Menanyakan keadaan saudaranya

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ أَصْبَحْتَ ؟ قَالَ بِخَيْرٍ مِنْ قَوْمٍ لَمْ يَشْهَدُوْا جَنَازَةً وَلَمْ يَعُوْدُوْا مَرِيْضًا. - رواه البخاري في الأدب

Dari Jabir bin ‘Abdillah, dikatakan kepada Nabi saw. bagaimana keadaan Anda pagi ini? Beliau menjawab: Baik, dari sebuah kaum yang belum menghadiri jenazah dan belum menjenguk orang sakit.

(HR Bukhari dalam kitab Adabnya)

7.Larangan-larangan dalam Ukhuwah Islamiyah

· Saling menghina

· Memanggil atau memberi gelar yang jelek

· Berprasangka buruk

· Memata-matai untuk mencari kesalahan

· Menggunjing

· Dll.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 11-12 :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain bisa jadi mereka lebih baik dari mereka dan jangan pula para wanita (merendahkan) wanita lain bisa jadi mereka lebih baik dari mereka dan janganlah kalian mencela diri-diri kalian dan janganlah kalian memanggil dengan julukan-julukan yang buruk, seburuk-beruk nama kefasikan setelah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang yang dhalim”.

“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian dari banyak berprasangka buruk karena sesungguhnya sebagian prasangka buruk itu merupakan dosa dan janganlah saling memata-matai serta janganlah sebagian kalian menggunjing atas sebagian yang lain sukakah salah satu diantara kalian memakan daging bangkai sebagian yang lain? Maka pastilah kalian membencinya. Dan bertakwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah itu Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

8.Gambaran Ukhuwah Islamiyah dalam Al-Qur`an

· Ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar

Bagi orang-orang faqir yang berhijrah, yang mereka diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka karena mencari karunia Allah serta keridlaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (muhajirin); mereka adalah orang-orang yang mencintai orang-orang yang berhijrah; mereka tidak menaruh rasa keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin; dan mereka mengutamakan orang-orang muhajirin atas diri mereka, meskipun mereka memerlukannya. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Surat Al-Hasyr: 8-9

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka dan orang-orang yang memberikan tempat tinggal dan pertolngan kepada Muhajirin, mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atas kalian melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan dalam hal agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kalian dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Surat Al-Anfal : 72

Dari contoh di atas nampak kepada kita bahwa ukhuwah yang seharusnya diikat dan dipupuk agar semakin subur dan mendarah daging pada jiwa seorang muslim adalah ukhuwah Islamiyah, bukan ukhuwah jahiliyah, ukhuwah yang telah ditanam oleh orang-orang Muhajirin dan Anshar dalam-dalam pada hati mereka. Sehingga Islam mendapatkan kemenagan demi kemenangan yang gilang gemilang bagaikan fajar yang menyingising dari ufuk timur. Tak ada satupun makhluk yang bisa mencegah cahanyanya. Cahaya yang mampu menyapu semenanjung Arabia sampai China dengan cahaya Islam. Namun apa yang terjadi sekarang? Umat Islam bercerai berai, berpartai-partai, saling menjatuhkan demi jabatan, yang pada akhirnya memerosokkan mereka ke jurang kehancuran dan kehinaan serta kekalahan.

9.Manfaat ukhuwah di dunia dan akhirat

· Merasakan lezatnya Iman

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِْيْمَانِ : أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلَهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِيْ الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِيْ النَّارِ. - رواه البخارى

Barangsiapa yang tiga perkara ini ada padanya pasti ia akan mendapatkan manisnya Iman:

Bahwasanya Allah dan Rasulnya lebih dia cintai daripada selain keduanya.

Bahwasanya ia mencintai seseorang yang mana ia tidak mencintainya melainkan karena Allah.

Bahwasanya dia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci kalau dicampakkan ke dalam neraka.

(HR Bukhari)

· Mendapatkan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ يَوْمَ القِيَامَةِ أَيْنَ المَتَحَابُّوْنَ بِجَلاَلِيْ ؟ اليَوْمَ أَظِلُّهُمْ فِيْ ظِلِّيْ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلَّيْ. - رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan berfirman di hari kiamat: “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Aku akan menaungi mereka pada hari ini, hari yang tidak ada naungan kecuali naunganku.

(HR Muslim)

· Selalu dalam berkah dan ridla Allah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ رَضِيَ لَكُمْ ثَلاَثاً وَكَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاًَ ، … (وَمِنْهَا) أَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا . . . الحديث - رواه أحمد ومسلم

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah ridla kepada kalian terhadap tiga perkara dan benci tiga perkara: . . . (termasuk salah satunya) bahwasanya kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai berai . . . Al-hadits.

(HR Ahmad dan Muslim)

· Umat Islam menjadi kuat dan tidak mudah dicerai-beraikan

وَ أَطِيْعُوْا اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ لاَ تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَ تَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَ اصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ .

Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Janganlah kalian berbantah-bantahan, sehingga kalian menjadi takut dan hilanglah kekuatan kalian serta bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

QS Al-Anfal (08);46

· Mendapat pertolongan Allah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : . . . وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ … الحديث. - رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “… Dan Allah akan menolong seorang hamba selagi dia menolong saudarnya”.

HR Muslim

10. Perbedaan Ukhuwah Islamiyyah dan Ukhuwah Jahiliyyah

· Ukhuwah Islamiyyah berdasarkan aqidah Islam, manhaj Islam:, yaitu pengabdian kepada Allah semata; semua pelaku ukhuwah islamiyah mempuyai satu tujuan, satu cita-cita, yaitu mengabdi kepada Allah semata; karena kesamaan prinsip dan tujuan inilah maka terbentuklah ukhuwah Islamiyah tersebut. Sedang ukhuwah Jahiliyyah berdasarkan selain prinsip Islam, apapun namanya; ia berdiri di atas pengabdian kepada selain Allah, apapun bentuk pengabdian itu.

· Ukhuwah Islamiyyah bersifat Universal (luas/menyeluruh), tidak peduli jenis kulit, ras, bangsa, ataupun tingkatan; artinya manusia dari ras dan bangsa mana saja dan pada tingkatan apa saja bisa bersatu dan saling terikat berdasarkan manhaj Islam: pengabdian kepada Allah semata; selama orang mempuyai tujuan mengabdi kepada Allah, secara otomatis ia terikat ukhuwah Islamiyah, dari belahan dunia manapun ia berasal.

· Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi, kekal sampai di akherat, sebab ia berlandaskan pengabdian kepada Allah semata, sementara Ia adalah Dzat Yang Kekal. Sedang Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer, tidak akan bertahan lama, dan pasti akan sirna, sebab dalam ukhuwah seperti ini manusia mengabdi kepada selain Allah, padahal selain Allah tidak ada yang kekal. Contoh Ukhuwah Jahiliyyah:

- ikatan Bangsa, ukhuwah ini berdiri di atas pengabdian kepada bangsa, tidak peduli apakah bangsa itu muslim atau tidak.

- ikatan Suku,ukhuwah ini berdiri di atas pengabdian kepada suku, tanpa peduli agama yang mereka anut.

- ikatan Nasionalis, ukhuwah ini berdiri di atas pengabdian kepada kepentingan nasional, baik yang bertentangan dengan prinsip Islam ataupun tidak.

11. Cara mengetahui saudara seaqidah

· Ta’aruf (saling kenal)

Peran ta’aruf sangatlah urgen dalam merajut benang ukhuwah. Dengan ta’aruf tersebut seorang akan mengenal dan memahami saudaranya. Sehingga mudah baginya untuk menentukan langkah apa yang seharusnya ia perbuat untuk saudaranya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar