Jumat, 06 Maret 2009

“ TUJUH JURANG KEHANCURAN “


Oleh: Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy, Spd, I

Hadist As-Sab’ul al-Mubiqat

Hadist yang menjelaskan tentang as-sab’ul al-mubiqat (tujuh hal yang membinasakan) diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Rosululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:” Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan, (yakni) ; Menyekutukan Alloh; Sihir; Membunuh jiwa yang diharamkan Alloh kecuali dengan cara yang haq; Memakan Riba; Memakan harta anak yatim; Lari dari medan pertempuran; Menuduh berzina wanita mukminah yang lengah (tidak terlintas olehNya untuk melakukan itu) “.

· Menyekutukan Alloh Azza wa Jalla.

Sudah dimaklumi bahwa Syirik atau menyekutukan Alloh Azza wa Jalla merupakan dosa

terbesar yang banyak diperingatkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, serta merupakan kezhaliman yang paling besar. Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezhaliman yang besar “. (QS. 31:13). “ Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui “. (QS. 2:22).

Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda, “ Maukah kalian aku beritahukan dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Para Shahabat menjawab, “ Tentu ya Rosululloh “. Beliau bersabda, “ (Yaitu) Menyekutukan Alloh “. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ketika beliau ditanya oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallohu’ anhum, “ Dosa apakah yang paling besar? “ maka beliau menjawab, “ Jika engkau menjadikan untuk Alloh tandingan, padahal Dia telah menciptakan kamu “. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan Syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Alloh Azza wa Jalla sebelum pelakunya bertaubat, sebagaimana firman-Nya, artinya, “ Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa Syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya “. (QS. An-Nisaa’: 48).

· Sihir.

Sihir secara bahasa adalah sesuatu yang tersembunyi dan sangat halus. Ibnu Qudamah berkata, “ Sihir yaitu buhul, mantera, atau ucapan-ucapan yang dibaca atau ditulis dan digunakan untuk menyakiti atau mempengaruhi badan atau hati atau akal orang yang disihir dengan tanpa melalui sentuhan sama sekali (kiriman, red) “. Macam-macam sihir amatlah banyak, namun pada hakikatnya semua sama yaitu kekufuran kepada Alloh Azza wa Jalla, sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla, artinya, “ Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan pada masa Kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithan Itulah yang kafir (mengerjakan sihir) “. (QS. Al-Baqarah: 102). Hadd (hukuman) bagi tukang sihir adalah dibunuh sebagaimana yang diriwayatkan dari para shahabat Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallam. Maka haram bagi seorang muslim mendatangi tukang sihir, kahin (dukun), ‘arraf (tukang ramal/juru tebak) dan membenarkan apa yang mereka ucapkan. Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda, “ Tiga golongan yang tidak masuk syurga; Pecandu minuman keras; Pemutus silaturrahim; Orang yang membenarkan tukang sihir “. (HR. Ahmad dan al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi).

Tidak boleh mengobati pengaruh sihir dengan sihir pula, berdasarkan riwayat dari Jabir Radhiyallohu’ anhum ketika Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallam ditanya tentang nusyrah (mengobati sihir) dengan sihir beliau bersabda, “ Itu merupakan pekerjaan syaithan “. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “ Nusyrah yaitu melepaskan sihir dari orang yang tersihir, dan ini ada dua macam, yaitu; Melepaskan sihir dengan sihir serupa, ini perbuatan syaithan dan yang ke dua; Nusyrah dengan ruqyah dengan ta’awwudz dan pengobatan yang mubah maka itu dibolehkan “.

· Membunuh Jiwa yang Diharamkan, Kecuali Secara Haq.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Dan siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan mengutuk serta menyediakan adzab yang besar baginya “. (QS. An-Nisaa’: 93). Di dalam ayat lain disebutkan, “ Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israel, bahwa siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya “. (QS. Al-Maidah: 32).

Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda, “ Apabila dua muslim saling menyerang dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka“. Lalu ditanyakan, “ Wahai Rosululloh, yang membunuh sudah jelas, lalu bagaimana dengan yang terbunuh? Maka beliau menjawab, “ Sesungguhnya dia juga berkeinginan untuk membunuh temannya itu “. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

· Memakan Harta Anak Yati

Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala “. (QS. An-Nisaa’: 10). Juga firman-Nya, artinya, “ Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa “. (QS. Al-An’am: 152). Memakan harta anak yatim merupakan dosa besar, yakni jika memakannya secara zhalim. Adapun jika wali (yang mengurusi) anak yatim tersebut seorang yang fakir, maka boleh baginya untuk memakan dengan cara yang baik (wajar).

Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Siapa (di antara pemelihara itu) yang mampu, maka hendaknya ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan siapa yang miskin, maka bolehnya ia makan harta itu menurut yang patut “. (QS. An-Nisaa’: 6). Larangan ini mencakup segala jenis perbuatan yang menyebabkan musnah atau tersia-sianya harta anak yatim apa pun bentuknya, meskipun tidak untuk dimakan. Penyebutan dengan kata “ memakan “ adalah karena hal itu yang biasa terjadi.

· Riba

Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Raabnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa “. (QS. 2: 275-276).

Dalam kelanjutan ayat disebutkan, “ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Alloh dan RosulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya “. (QS. 2: 278-279).

· Lari dari Medan Perang

Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Alloh, dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya “. (QS. 8:16). Lari dari medan perang merupakan dosa besar, yaitu kabur pada saat peperangan sedang berkecamuk dalam jihad fi sabilillah, karena hal itu Menyebabkan kehinaan bagi umat Islam dan melemahkan kekuatan mereka, dan juga karena jihad itu hukumnya wajib bagi siapa saja yang terkena panggilan.

· Menuduh Mukminah Berzina

Alloh Azza wa Jalla berfirman, artinya, “ Sesungguhnya orang-orang yang baik menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar “. (QS. 24:23). firman-Nya kembali, artinya, “ Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka Itulah orang-orang yang fasik “. (QS. 24:4).

Serta firman Alloh Azza wa Jalla kembali, artinya, “ Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata “. (QS. 33:58). Sekian. Barakallohu’ Fiik, Semoga tulisan ini bermanfaat. Wa’akhiru Dakwathuna. Subhanakallohumma’ Wabihamdikaa’ Ashadu’alaa ‘illaa Anta Astaqfiruka Wa’athubuhu ‘Ilaika. Nun Wal Qolami Wamaa’ Yasthurun. Wallohu’ Ta’ala A’lam bish Showab.

Sumber: Kitab Hasyiyah ad-Durus al Muhimmah, Oleh: Syaikh Kami yang Mulia Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Faqih Muhadist Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rohimahulloh Ta’ala (Mantan Mufti dan Qodhi di Kerajaan Saudi Arabia)

Dibuat oleh, Al-Faqir illalloh Ta’ala

Salam Taqdim, Bekasi, 11 Januari 2008

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy bin Shalih Abu Ramadhan

Seorang Hamba yang mengharap Ridho dan ampunan RaabNya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar