Kamis, 05 Maret 2009

Sebuah Jawaban Untuk Aboumeriya As-Salafy ; INILAH SALAFIYYUN…!!

Sebuah Jawaban Untuk Aboumeriya As-Salafy ; INILAH SALAFIYYUN…!!

Sebuah contoh kecil:

Ali Al Halabiy. Dia banyak digandrungi Ustadz-ustadz salafi maz’um dan anak muridnya, dan diantara pengagum beratnya adalah Yazid Jawwas (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta) dan banyak para tokoh Murji’ah Jahmiyyah lainnya yang mengaku salafi, pemilik fatwa yang masyhur perihal kewajiban melaporkan para du’at dan mujahidin yang telah dicap oleh dia dan para muqallidnya sebagai takfiriyyin,

…. Dan termasuk jenis ini perbuatan Al Halabiy sendiri, dimana telah terbukti darinya bahwa ia berkata: (Salafiyyah kami lebih kuat dari Salafiyyah Al Albaniy), terus tatkala dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya sebagian manusia mengatakan tentang anda bahwa anda telah berkata: Salafiyyah kami lebih kuat dari Salafiyyah Al Albaniy; maka dia berkata dengan sikap tidak punya rasa malu yang tiada tandinganya: “Maha Suci Engkau Ya Allah, ini adalah dusta yang amat besar…”!!! Perhatikan, padahal sesungguhnya kaset itu ada dengan suaranya, dan telah dikumpulkan oleh Doktor Abdurrezzaq Asy Syayijiy untuk menjelaskan kontradiksi sikap Robi.) Maka didatangkan kaset yang di dalamnya ada pertanyaan dan jawaban dengan suara Al Halabiy, maka dia terperangah dihadapan jama’ah yang mendengar pengingkarannya beberapa menit sebelumnya di Majlis yang sama yang berlangsung di rumah seorang Ikhwan di kota Zarqa (Yordania) setelah shalat Isya dan dihadiri kurang lebih 40 orang. Maka dia berbalik membela fatwanya itu dengan menggebu-gebu, dan bahwa dia memaksudkan orang-orang yang merusak dihadapan umat manhaj Assalaf Ash Shalih.

Kemudian dia ditanya: Apakah buku-buku dan pendapat-pendapat syaikh Safar Al Hawaliy, Syaikh Salman Al Audah dan Syaikh Umar Abdurrahman –Semoga Allah membebaskannya– serta orang-orang yang seperti mereka, apakah ia merusak pemuda muslim dari manhaj salaf?

Maka dia menjawab tanpa ada rasa malu dan takut: “Ia adalah pintu bagi kerusakan tanpa bimbang dan tanpa keraguan…!!! ( Pertanyaan dan jawaban ini bisa dicek juga di kaset, dan lihat bantahan kami terhadap sebagian manipulasi Al Halabiy dalam kitab kami Tabshirul ‘Uqala Bi Talbisat Ahlit Tajahhum Wal Irja (sudah diterjemahkan)

Dan dengan hal itu dia telah menyamai Firqoh Yazidiyyah dari firqoh-firqoh Khawarij, yaitu dalam ucapan mereka tawalliy kepada orang yang bersaksi, bahwa Muhammad Rasulullah walaupun tidak masuk ke dalam agamanya; disertai keterlepasan diri mereka dari kaum muwahhidin dan penghalalan daranhnya. Akan tetapi disana ada perbedaan antara Al Halabiy dengan Yazidiyyah, yaitu bahwa Yazidiyyah menghalalkan kaum Muwahhidin dengan sebab maksiat, adapun (Khawarij) Mariqoh Gaya Baru itu maka mereka telah menghalalkan Muwahhidin dengan sebab ketaatan seperti jihad, penjaharan ucapan al haq, bara’ dari para thaghut, takfier mereka serta yang lainnya.

Falah Ismail Mendikor, dan diantara keberanian dia mengkafirkan du’at adalah ucapannya dalam kaset rekaman: “…sesungguhnya mengelompoknya orang-orang yang ta’at beragama kepada jama’ah-jama’ah mereka adalah kemurtaddan…!!!” Dan disebrrang ini kamu melihat dia membela-bela tentang keberadaan Fahd memakai salib dan dia mencecar orang yang mengkafirkan Fahd karena sebab itu seraya berkata: “Apakah memakai salib kekafiran…?! Dan siapa yang mengatakan bahwa pelaku kekafiran itu kafir…?! Bila memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan saja mereka mengatakan kufrun duna kafrin…!!! Dan kedua apakah itu memang benar salib…?! Ini seremonial dan protokoler yang dijadikan kebiasaan diantara negara-negara, dan setiap negara itu memiliki lambang dan ini termasuk tukar menukar hadiah sebagaimana terjadi di masa Harun Ar Rasyid…!!!”

Tentunya anda tidak akan merasa heran setelah ini bila anda mengetahui bahwa musyrif (pembimbing) tesis Magister Mandikor ini dan guru terpentingnya adalah Aman Al Jamiy.

(Ditukil dari BAHAYA FIRQAH JAMIYYAH & MADKHALIYYAH Oleh: Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al Maqdisiy hafidzahullah)

Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan: Salaf adalah Hizbullah Yang Beruntung, Adapun Penamaan Dengan As-Salafi Atau Al-Atsari Tidak Ada Asal Usulnya

Seseorang bertanya, “Wahai Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan—semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya kepada Anda, kami mendengar sebagian orang mengatakan, ‘Tidak boleh intisab “menyandarkan diri” pada salaf dan Salafiyyah dianggap sebagai salah satu hizb ‘golongan’ yang hidup pada masa tertentu.’ Apa pendapat Anda mengenai pernyataan ini?”

Sayikh Shalih AL-Fauzan menjawab, “Iya! Salaf adalah hizbullah ‘golongan Allah’. Salaf adalah golongan, akan tetapi ia adalah hizbullah. Allah berfirman:

“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”. (Al-Mujadillah [58]: 22)

Barangsiapa menyelisihi salaf, maka mereka adalah golongan-golongan sesat lagi meyimpang. Golongan itu sendiri bermacam-macam. Ada golongan Allah (hizbullah) dan ada golongan setan (hizbusy syaithan) sebagaimana tercantum di akhir surat Al-Mujadilah. Ada hizbullah dan ada hizbusy syaithan. Golongan pun beragam. Barangsiapa berada di atas manhaj Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia adalah hizbullah. Sebaliknya, barangsiapa berada di atas manhaj sesat, maka dia adalah hizbusy syaithan. Engkau tinggal memilih; mau menjadi hizbullah atau menjadi hizbusy syaithan! Pilih sendiri!”

Kemudian Syaikh Hafizhuhullah ditanya, “Wahai Syaikh—semoga Allah senantiasa memberikan taufiknya kepada Anda, sebagian orang mengembel-embeli di belakang namanya dengan As-Salafi atau Al-Atsari. Apakah ini termasuk bentuk penyucian terhadap diri sendiri? Atau apakah memang sesuai dengan syariat?”

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhuhullah menjawab, “Yang wajib adalah seseorang mengikuti kebenaran. Yang wajib adalah seseorrang mengkaji dan mencari kebenaran serta mengamalkannya. Adapun dia menamai dirinya dengan As-Salafi atau Al-Atsari dan yang semisal, maka tidak ada alasan untuk dapat mengklaim dengan nama ini.

Allah Yang Maha Mengetahui berfirman:

“Katakanlah (kepada mereka), ‘Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurat [49]: 16)

Menamakan diri dengan As-Salafi, Al-Atsari, dan yang semisal adalah tidak ada asal-usulnya. Kita melihat pada substansi nyata; bukan perkataan, penamaan diri, maupun pengakuan.

Terkadang, seseorang mengatakan kepada orang lain, ‘Ia salafi’, padahal orang tersebut bukan salafi (pengikut manhaj salaf). Atau juga mengatakan, ‘Ia atsari’, padahal orang yang ditunjuk bukan atsari (pengikut atsar salaf). Sebaliknya, seseorang adalah salafi (pengikut manhaj salaf) dan atsari (pengikut atsar salaf), namun tidak mengatakan, “Aku ini atsari, Aku ini salafi.’ Hendaknya kita melihat pada substansi nyata; bukan pada penamaan maupun klaim pengakuan.

Seorang muslim harus komitment dengan adab terhadap Allah swt. Tatkala orang-orang Arab Badui mengatakan, ‘Kami telah beriman!’ Allah mengingkari mereka. Allah berfirman:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman’, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’.” (Al-Hujurat [49]: 14)

Allah mengingkari orang-orang Arab Badui yang menyifati diri mereka sebagai orang beriman. Padahal, mereka belum sampai pada tingkatan beriman. Mereka baru saja masuk Islam; itu pun masih diliputi keraguan.

Orang-orang Arab Badui itu datang dari pedusunan. Mereka menganggap diri mereka sudah lama menjadi orang beriman. Padahal tidak! Mereka baru saja masuk Islam. Apabila mereka melanjutkan keislaman mereka dan mau belajar, maka keimanan pun akan masuk ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit. Allah berfirman:

“Padahal iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (Al-Hujurat [49]: 14)

Kata lamma “belum” menunjukkan sesuatu yang masih menjadi harapan. Maksudnya, iman baru akan masuk tapi engkau sudah menganggap beriman dari pertama kali sebagai bentuk penyucian terhadap diri sendiri. Maka, tidak perlu engkau mengatakan, ‘Aku salafi! Aku atsari! Aku begini dan begini!’ Hendaklah engkau mencari kebenaran dan mengamalkannya. Perbaiki niatmu! Allah-lah Yang Maha Mengetahui substansi nyatanya.”

Sumber : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=89

Wajib Mengikuti Salaf; Bukan Membentuk Golongan yang Dinamakan “As-Salafiyyun”

Oleh: Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku.”

Hadits ini memberi arti bahwa apabila muncul banyak golongan di tengah-tengah umat, maka jangan berafiliasi kepada satu golongan pun. Dulu muncul sekte-sekte, seperti Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Syi’ah, bahkan Rafidhah. Lalu, akhir-akhir ini muncul Ikhwaniyyun, Salafiyyun, Tablighiyyun, dan kelompok lain yang semisal.

Letakkanlah semua kelompok ini di samping kiri dan teruslah melihat ke depan, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi saw, “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin.”

Tidak diragukan, wajib atas semua kaum Muslimin untuk mengambil paham salaf; bukan berafiliasi pada golongan tertentu yang disebut “As-Salafiyyun”. Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengambil paham salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Ada jalan salaf; ada pula golongan yang disebut “As-Salafiyyun”. Apa yang wajib? Mengikuti salaf!

Mengapa? Karena ikhwah As-Salafiyyun adalah kelompok paling dekat dengan kebenaran. Tidak diragukan. Akan tetapi, permasalahan mereka seperti kelompok lainnya. Sebagian individu kelompok ini saling menyesat-nyesatkan, membid’ahkan, dan memfasikkan. Kami tidak mengingkari hal ini apabila benar mereka layak untuk itu. Akan tetapi, kami mengingkari terapi bid’ah-bid’ah tersebut dengan cara ini. Yang wajib adalah pemimpin-pemimpin kelompok ini berkumpul. Hendaknya mereka mengatakan, “Di antara kita ada Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya. Marilah kita berhukum pada keduanya; bukan pada hawa nafsu, pendapat-pendapat, dan tidak pula kepada Fulan dan Fulan.” Setiap orang bisa salah dan bisa benar meski seberapa banyak ilmu dan ibadahnya. Akan tetapi, jaminan kema’shuman hanya pada agama Islam

Nabi saw memberikan petunjul dalam hadits ini untuk menempuh jalan yang menyelamatkan manusia; bukan berafiliasi kepada kelompok apa pun, kecuali kepada jalan salafus shalih, yaitu sunnah Nabi saw dan para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk

Sumber : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=33

Hakikat mereka sebenarnya adalah telah disimpulkan oleh banyak ‘ulama dan du’at di zaman kita dengan dua kalimat: “Mereka itu Khawarij Mariqun terhadap du’at dan Murji’ah Zanadiqah terhadap para thaghut”.

Mereka terhadap para du’at yang tulus adalah seperti orang-orang yang dikatakan oleh Ibnu Umar radliallaahu’anhu: “Makhluk yang paling jahat, mereka mengambil ayat-ayat yang turun perihal orang-orang kafir terus mereka menjadikannya terhadap orang-orang mu’min”. Sedangkan terhadap para pemerintah thaghut maka mereka itu bersikap dengan paham orang yang mengatakan: “Dosa apapun tidak berbahaya bersama keimanan” (Dikeluarkan Al Bukhariy secara mu’allaq dalam 1 bab Qatlil Khawarij wal Mulhidin dari Kitab Istitabatil Murtaddin, dan Al Hafidh berkata dalam Al Fath: Dimaushulkan oleh Ath Thabariy dalam Musnad Ali dari Tahdzibil Aatsar dan sanadnya shahih)

Syaikh Abu Qotadah Al Filisthiniy hafidhahullah berkata tentang kelompok ini:

“Dalam perkembangan yang bersifat ketentuan (Allah) tidak mungkin bagi para penganutnya untuk menyimpang darinya saat mereka telah mengambil sebab-sebabnya dan telah berjalan di atas muqaddimah-muqaddimahnya. Perkembangan inilah yang telah kami hati-hatikan darinya dan kami lakukan pengingkaran terhadap muqaddimah-muqaddimahnya, maka memerahlah banyak hidung-hidung karena pengingkaran ini dan marahlah banyak jiwa terhadap penghati-hati kami, akan tetapi ini dia apa yang dikhawatirkan telah terjadi dan Salafiyyah telah menjadi ‘Umalah (boneka) bagi dinasti Saud yang busuk, sedangkan muqaddimah pembonekaan (diri) ini adalah bahwa kaum salafiyyin itu meyakini keabsahan kepemimpinan dinasti Saud atas Jazirah Arab, bahkan sebagian mereka tenggelam dalam kesesatannya dimana dia tidak hanya meyakini kepemimpinan dinasti Saud namun pembicaraan menjadi berkisar seputar keyakinan raja yang terlaknat Fahd Ibnu Abdil Aziz apakah dia di atas aqidah salaf atau dia bukan salafiy, bahkan pembicaraan menjadi semakin mendekat dan bahkan pembicaraan masuk dalam penentuan siapakah Ath Thaifah Al Mansharah, dan apakah dinasti Saud ini Ath Thaifah Al Manshurah ataukan bukan? Dengan muqaddimah-muqaddimah yang aneh lagi ganjil semacam ini sampailah urusan pada tahap dimana kelompok ini dengan atas nama salafiyyah dan yang meyakini keimaman dan kesyaikhan Rabi’ Al Madkhali masuk ke dalam lingkaran pembonekaan diri yang jelas dan nampak bagi dinasti Saud yang terlaknat, yang berhukum dengan selain syari’at Ar Rahman, yang loyalitas penuh kepada musuh-musuh millah dan dien, yang memerangi Allah, Rosul-Nya dan kaum Mu’minin”.

FATWA ULAMA KIBAR TENTANG KELOMPOK INI :

SYAIKH AL-ALLAMAH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL-UTSAIMIN
========================================================

Syaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih
al-Utsaimin –rahimahullahu- berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh
(Pertemuan terbuka) no 1322,
sebagai berikut :

“Salafiyyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu `alaihi wa
Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita
yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah
salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang
tersendiri dengan menyesatkan orang-orang yang menyelisihinya walaupun
mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa
halini menyelisihi salafiyyah!!!

Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah
Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam, mereka tidak menyesatkan
orang-orang yang menyelisihinya karena perkara takwil/penafsiran yang
berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka
berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara
aqidah, maka telah sesat.

Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini,
menjadikan manhajnya dengan menyesatkan setiap orang yang
menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka
menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj
hizbi lainnya yang memecah belah islam. Hal ini adalah perkara yang
harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, `lihatlah kepada
madzhab salafus shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka
dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang
diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih
di dalam perkara aqidah dan ilmu… engkau dapati mereka, misalnya,
mengingkari Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam melihat Rabbnya
dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang
ditimbang pada hari kiamat nanti adalah anak dan sebagiannya
berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang. Engkau
dapati pula mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam
masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun
demikian, mereka tidak saling menyesatkan satu dengan lainnya.
Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana
di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menyesatkan selain mereka, maka
mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah
yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan,
amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih saying
sebagaimana sabda Nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam, `permisalan kaum
mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong
dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya
mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’
(HR Muslim), maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”

SYAIKH AL-ALLAMAH SHOLIH FAUZAN AL-FAUZAN
==============================================

Syaikh al-Allamah Sholih bin Fauzan al-Fauzan –hafidhahullahu ta’ala-
menasehatkan saat muhadharah tentang Aqidah dan Dakwah III/69, sebagai
berikut :

“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah
munculnya perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, dikarenakan
disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan tajrih (mencela) dan
memberi laqob (gelar) yang buruk, dan tiap-tiap mereka menghendaki
memenangkan dirinya dari lainnya, dan mereka menyibukkan kaum muslimin
dengan perihal mereka masing-masing, sehingga hal ini menjadi
kesibukan mereka melebihi daripada mempelajari ilmu yang
bermanfaat. Karena sesungguhnya, banyak dari para penuntut ilmu yang
beritanya sampai kepada kami, mereka menyibukkan diri dengan
perkataan-perkataan terhadap manusia dan mengusik kehormatan mereka,
sembari mereka menyalahkan hal ini dan membenarkan hal itu, memuji ini
dan menyesatkan itu… tidaklah mereka ini disibukkan, melainkan hanya
memperbincangkan perihal manusia…”

Syaikh hafidhahullah juga berkata dalam Dhahiratul
tabdi’, tafsiq wa takfir sebagai berikut :

“Sungguh telah muncul pada zaman ini di kalangan para pemuda dan
orang-orang Islam yang jahil terhadap hakikat Islam dikarenakan
semangat yang meluap dan tidak pada tempatnya, sikap tabdi’, tafsiq
dan takfir. Hingga kesibukan mereka dalam segala urusan hidup
dipenuhi oleh sifat-sifat tercela ini. Membahas aib-aib dan
menyebarkannya hingga tersebar luas. Ini merupakan tanda fitnah dan
kehancuran. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menjaga kaum
Muslimin dari kejelekannya dan mengarahkan para pemuda muslim pada
jalan yang benar dan menganugerahkan amal di atas manhaj salafus
sholih, meniti di atasnya serta menjauhkan mereka dari da’i-da’i
jahat.”

SYAIKH AL-ALLAMAH ABDUL MUHSIN ABBAD
=========================================

Berkata Syaikh kami yang mulia, al-Alim al-Muhaddits al-Madinah,
Syaikhnya Masyaikh, Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr –hafidahullahu-
dalam nasehat beliau terhadap syabab di risalah Rifqon ahlas sunnati
bi ahli sunnati, sebagai berikut :

“Pertama, Hendaknya orang yang menyibukkan dirinya dengan mencela para
ulama dan para penuntut ilmu serta mentahzir terhadap mereka tersebut
hendaklah ia merasa takut kepada Allah, lebih baik ia menyibukan diri
dengan memeriksa aib-aibnya supaya ia terlepas dari aibnya tersebut,
dari pada ia sibuk denga aib-aib orang lain, dan menjaga kekekalan
amalan baiknya jangan sampai ia membuangnya secara sia-sia dan
membagi-bagiakannya kepada orang yang dicela dan dicacinya, sedangkan
ia sangat butuh dari pada orang lain terhadap amal kebaikan tersebut
pada hari yang tiada bermanfaat pada hari itu harta dan anak keturunan
kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang suci.

Kedua, Hendaklah ia menyibukan dirinya dengan mencari ilmu yang
bermanafaat dari pada ia sibuk melakukan celaan dan tahziran, dan giat
serta bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu tersebut supaya ia
mendapat faedah dan memberikan faedah, mendapat manfa,at dan
bermanfa’at, maka dianatra pintu kebaikan bagi seorang manusia adalah
bahwa ia sibuk dengan ilmu, belajar, mengajar, berda’wah dan menulis,
apabila ia mampu melakukan hal yang demikian maka hendaknya ia menjadi
golongan yang membangun, dan tidak menyibukkan dirinya dengan mencela
para ulama dan para penuntut ilmu dari Ahlus Sunnah serta menutup
jalan yang menghubungkan untuk mengambil faedah dari mereka sehingga
ia menjadi golongan penghancur, orang yang sibuk dengan celaan
seperti ini, tentu ia tidak akan meninggalkan sesudahnya ilmu yang
dapat memberi manfa’at serta manusia tidak akan merasa kehilangan atas
kepergiannya sebagai seorang ulama yang memberi mereka manfa’at,
justru dengan kepergiannya mereka merasa selamat dari kejahatannya.”

SYAIKH AL-ALLAMAH MUHAMMAD NASHIRUDIN ALBANI
===================================================

Berkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid
al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani –Rahimahullah- di dalam kaset
Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut
: “Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para
pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana
tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu
untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan
begini dan fulan berkata begitu.

Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan
yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan
kedengkian serta kebencian di dalam hati… Wajib atasmu menuntut
ilmu!!! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini
yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki
banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul
bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan
dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk
mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya
kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di
tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada
dakwah al-Kitab dan as-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya,
Dakwah Salafiyah…!!! Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya
adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul
ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran.
Inilah nasehatku… karena telah sering aku ditanya, `apa pendapatmu
tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang
memihak atau memusuhi… dan terkadang orang yang ditanyakan adalah
diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang,
maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap
fulan dan fulan??

Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu!
Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana
yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq…!!! Kemudian
janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia
jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun
kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan
perkara lainnya ia tidak menyimpang. Kita dapati para Imam Ahli Hadits
yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di
dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua
adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang
mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya
keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya
terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa
ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”

Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam
kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai
berikut :

“Atsar Abu Hurairah Radhiallahu `anhu bermanfaat untuk menunjukkan
contoh dari terjatuhnya seorang alim kepada bid’ah tidaklah serta
merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan
haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara
ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman.
Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu `anhu ini menunjukkan
bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum
sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah
yang terkadang terjatuh kepada seorang alim, tidaklah dengan demikian
ia menjadi seorang mubtadi’. Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap,
aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya
mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang
mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena
ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia
mubtadi’!! contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini
adalah, seorang hakim yang dhalim yang terkadang berlaku adil pada
sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana
pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kedhaliman di
sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim dhalim. Hal
ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan
bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau
keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat
mengetahui siapakah mubtadi’ itu… maka, dengan demikian disyaratkan
bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid
namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadika bid’ahnya
sebagai kebiasaan dan agamanya.”

SYAIKH AL-ALLAMAH ABDUL AZIZ BIN BAZ
=======================================

Al-Allamah, al-Mufti al-Alim, Samahatus Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah
bin Bazz –rahimahullahu- berkata, sebagaimana termuat dalam harian
al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H.
sebagai berikut :

“Telah merebak di zaman ini tentang banyaknya orang-orang yang
menisbatkan diri kepada ilmu (tholibul `ilm, pent.) dan terhadap
dakwah kepada kebajikan (da’i, pent.) yang mencela kehormatan
kebanyakan saudara-saudara mereka para du’at yang masyhur dan
memperbincangkan kehormatan (menjelekkan, pent.) para thullabul `ilm
(penuntut ilmu), para du’at dan khatib (penceramah). Mereka
melakukannya secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) di dalam
majelis-majlis mereka, dan bisa jadi ada yang merekamnya di
kaset-kaset kemudian disebarkan kepada manusia. Terkadang pula mereka
melakukannya secara terang-terangan di dalam muhadharah `am (ceramah
umum) di masjid-masjid. Cara ini menyelisihi dengan apa-apa
yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dengan beberapa alasan :

Pertama, Hal ini merusak hak-hak kaum muslimin, dan khususnya para
penuntut ilmu dan da’i yang mengerahkan segenap usahanya di dalam
mengarahkan manusia, menunjuki mereka dan membenahi aqidah dan manhaj
mereka. Mereka bersungguh-sungguh di dalam mengatur/mengelola durus
(pelajaran-pelajaran) dan muhadharaat (pengajian-pengajian) serta
penulisan buku-buku yang bermanfaat.

Kedua, Hal ini memecah belah persatuan kaum muslimin dan
memporakporandakan barisan mereka, dimana ummat ini lebih membutuhkan
kepada persatuan dan menjauhi dari berkelompok-kelompok dan berpecah
belah serta menjauhi dari banyaknya qiila wa qoola (perkataan
-perkataan yang tidak jelas, pent.) di tengah-tengah ummat. Khususnya
kepada du’at yang dicela, padahal mereka adalah termasuk dari ahlis
sunnah wal jama’ah yang dikenal akan sikap mereka dalam memerangi
bid’ah dan khurofat, memerangi orang-orang yang menyeru kepada bid’ah
dan khurafat, dengan cara menyingkapkan kesalahan-kesalahan dan
kekurangan mereka (para penyeru bid’ah dan khurafat). Kami tidak
melihat adanya mashlahat (kebaikan) di dalam perilaku semacam ini
(yaitu mencela para du’at), melainkan akan memberikan maslahat bagi
musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, munafik, dan ahli bid’ah serta
kesesatan.

Ketiga, sesungguhnya perbuatan ini (yaitu mencela para du’at), akan
membantu dan menolong orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum
atheis, sekuler dan lainnya. Dimana mereka ini tersohor akan
permusuhannya terhadap para du’at islam dan terkenal akan pengadaan
kedustaan terhadap mereka dengan menghasut melalui buku-buku maupun
kaset-kaset rekaman. Hal ini (mencela para du’at) bukanlah hak dalam
persaudaraan dalam Islam bagi orang-orang yang dengki itu dengan
membantu musuh-musuh mereka terhadap saudara-saudara mereka
thullabul `ilmi dan para du’at.

Keempat, Hal ini akan menyebabkan rusaknya hati umat ini secara umum
dan mereka sendiri secara khusus, dengan menyebarkan dan mengedarkan
kedustaan serta merebakkan kebathilan. Hal ini merupakan sebab
berkembangnya ghibah, namimah (mengadu domba) dan pembuka pintu-pintu
kejahatan bagi orang-orang yang jiwanya lemah, yang mana mereka ini
akan menyebarkan syubuhat dan meluaskan fitnah serta mendorong mereka
menghancurkan kaum mukminin.

5. Sesungguhnya kebanyakan perkataan-perkataan tersebut tidaklah
berdasar. Sesungguhnya perkataan-perkataan tersebut hanyalah bersumber
dari dugaan (imajinasi) yang Syaithan menghiasinya danmemperdayainya.
Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari
purbasangka, karena sesungguhnya sebagaian purbasangka itu adalah
dosa.” (al-Hujurat : 11-12).
Selayaknyalah bagi seorang muslim membawa ucapan saudaranya seislam
pada sebaik-baik tempat (kepada makna yang paling baik). Sebagian
Salaf berkata, “Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan
yang dilontarkan saudaramu sedangkan engkau dapat membawa perkataan
tersebut pada makna yang baik.”

Keenam, Apa yang didapatkan dari ijtihad sebagian ulama dan penuntut
ilmu dari perkara-perkara yang memang memungkinkan di dalamnya
berijtihad, maka orang tersebut tidak boleh disalahkan apalagi dicela,
jika ia memang ahli ijtihad. Jika sekiranya ada orang lain yang
menyelisihinya, selayaknyalah ia berdiskusi dengannya dengan cara yang
baik, dengan mengharapkan memperoleh kebenaran dan dengan menolak
waswas syaithan yang hendak memecah belah kaum mukminin. Jika
hal ini tidak memungkinkan dan ia beranggapan harus menerangkan
penyelewengannya, maka hendaklah dengan ungkapan-ungkapan yang baik
dan ucapan-ucapan yang lembut tidak kasar tanpa celaan ataupun ucapan
yang sia-sia yang dapat menyebabkan seseorang menolak kebenaran atau
bahkan menjauhi kebenaran, juga tanpa menyebutkan perorangan atau
menuduh niat atau menambah ucapan-ucapan yang tidak dimaksudkannya.
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam bersabda tentang perkara
ini, `mengapa ada kaum yang berkata demikan dan demikian??’*”

Keterangan : * Isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan Sayyidah
Aisyah Radhiyallahu `anha ketika berkata, `Adalah Rasulullah
Shallallahu `alaihi wa Sallam jika menyampaikan sesuatu tentang
seseorang beliau tidak berkata, `mengapa fulan berkata demikian’,
namun beliau berkata, `mengapa ada kaum yang berkata demikian dan
demikian?’…’ Hadits Shahih diriwayatkan Abu Dawud dalam bab al-Idznu
wal Isti’dzan (izin dan meminta izin), lihat Silsilah ash-Shahihah no
2064. DIAMBIL DARI SITUS MUSLIM http://ghurabaunited.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar