Sabtu, 07 Maret 2009

Salafie Irja’ie

Sudah merupakan kesepakatan Ulama’ dengan berlandaskan nash-nash qath’ie yang begitu gamblang dan jelas, bahwa siapa saja yang membuat undang-undang baru yang bertentangan dengan syariat Allah, menerapkannya di kalangan manusia, atau berhukum kepadanya dengan suka rela, ia murtad keluar dari Al-Islam.

Al-Qur’an menyebutkan orang yang menetapkan undang-undang selain hukum Allah di antaranya sebagai thaghut (Q.S An-Nisa: ), syarik lillah –sekutu bagi Allah- (Q.S. Asy-Syura: ), rabb min dunillah -tuhan selain Allah- (Q.S. At-Taubah: ) orang kafir, dhalim, fasiq (Q.S Al-Maidah: ). Undang-undang itupun disebut sebagai hukum jahiliyyah (Q.S. Al-Maidah). Adapun orang yang taat dan berhukum dengannya dikatakan sebagai orang musyrik (Q.S. Al-‘An’am: ) memyembah tuhan-tuhan selain Allah (Q.S. At-Taubah: ), kafir, dhalim, fasiq (Q.S. Al-Maidah: ), sama sekali bukan orang beriman (Q.S. An-Nisa’: ). Betapa jeleknya sifat yang Allah berikan kepada orang-orang yang menciptakan hukum-hukum selain hukum Allah dan orang yang berhukum dan taat kepadanya dengan suka rela!!

Jelaslah dari nash-nash Al-Qur’an di atas, bahwa membuat undang-undang jahiliyyah, menerapkannya, dan berhukum kepadanya adalah termasuk perbuatan kufur

Semua perbuatan yang dinyatakan nash termasuk dalam barisan perbuatan kufur, menurut pendirian kaum salaf Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah, cukup untuk menjadi sebab kekafiran dan kemurtadan pelakunya, entah hatinya masih tetap meyakini haramnya perbuatan itu atau sudah menghalalkannya. Karena itu, orang atau badan pemerintah yang membuat undang-undang jahiliyyah, menerapkannya, dan berhukum kepadanya berarti telah kafir atau murtad, baik hatinya tetap menganggap haram perbuatanya atau tidak.

Sementara itu, ada kelompok tertentu yang mengklaim beraqidah dengan aqidah salaf dan menamakan diri mereka sebagai salafi ahlussunnah wal jamaah, berpendapat bahwa menerapkan undang-undang jahiliyyah dan berhukum dengannya bukanlah penyebab kekafiran kecuali jika diikuti kekufuran hati dalam artian menghalalkan perbuatan kufur tersebut.

Berangkat dari pendirian ini, mereka tetap menganggap pemerintah di negeri-negeri kaum muslimin sekarang ini yang telah mencampakkan hukum Allah dan menggantinya dengan hukum jahiliyyah sebagai pemerintah muslim. Sebab, kata mereka, “Apa memang hati pemerintah sudah mengingkari haramnya berhukum kepada undang-undang Jahiliyyah? Siapa dan bagaimana kita tahu isi hati pemerintah?”. Mereka maksudkan, pemerintah thaghut itu tetaplah dihukumi sebagai pemerintah muslim yang wajib ditaati, meskipun mereka telah mengganti hukum Allah dengan hukum Jahiliyyah, karena kita tidak tahu isi hati mereka, apakah sudah menghalalkan perbuatan itu atau masih menganggapnya haram!

Konsekuensinya, siapa saja yang menentang, memberontak bahkan hanya sekedar mengingatkan pemerintah di tempat umum, atau berdemo menuntut hak-haknya yang dirampas, mereka anggap sebagai teroris/ khawarij, anjing-anjing neraka, sejelek-jelek makhluk di bawah lengkungan langit. La haula wala quwwata illa billah!!

Pendirian mereka ini mengingatkan kita pada kelompok sesat bernama murjiah/ irja’ie, sebuah kelompok yang tidak menganggap kafir orang yang melakukan kekufuran sampai hatinya menghalalkan kekufuran itu. Maka, sejatinya kelompok ini dinamakan salafi irja’ie, salafi yang berpikiran aliran sesat Murji’ah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar