Jumat, 06 Maret 2009

Ringkasan Kitab Pendidikan Jihad Menurut Penjelasan Al-Qur’an dan As- Sunnah

Kitab At-Tarbiyyah Al-Jihadiyyah Fii Dlaul’ Kitabil Was Sunnah

(Kitab Pendidikan Jihad Menurut Penjelasan Al-Qur’an dan As- Sunnah)

Oleh : Fadhilatush Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Mujahid Abdul Aziz bin Nashir Al-Julayyil-Hafidzhahulloh Ta’ala Diterjemahkan oleh : Santri Madrasah Aliyah Kh. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, Bekasi Editor: Ustadz Muhammad Lukman As-Sundawy, SH, I Al-Akh Ovry K Adrianto, S, Kom Muraja’ah : Al-Ustadz Abu Hanifah Muhammad Faishal Al Bantani al-Jawy, Spd, I Al-Ustadz Abu Faqih Abdul Wahab At-Teghaly

 Pendahuluan  Pembukaan  Pendidikan Jihad Aspek persiapan untuk jihad di medan sesungguhnya :  Akibat-akibat/sebab  Pendahuluan  Pembukaan

- Pembukaan Pertama : Makna Jihad secara umum dan tingkatannya - Pembukaan Kedua : Macam-macam Jihad - Pembukaan Ketiga : Keinginan untuk berjihad - Pembukaan Keempat : Keutamaan berjihad - Pembukaan Kelima : Keinginan untuk meninggalkan Jihad

 Pendidikan Jihad dan Aspek persiapannya di medan sesungguhnya:

- Masalah pertama : Jihad secara umum tidak dibebankan kepada setiap muslim uang mukalaf. - Masalah Kedua : Persiapan keimanan untuk berjihad bukan berarti meninggalkan jihad untuk melawan sehingga sempurna persiapannya. - Masalah Keempat : Makna persiapan keimanan atau jihad secara maknawi. - Masalah Kelima : Asal – usul Pendidilan jihad melawan nafsu dan tingkatannya.

 Sebab-sebab  Pendahuluan - Jihad itu suatu keharusan bagi umat yang mengajak kepada Alloh, Amar Ma’ruf, Nahi mungkar. - Menyempurnakan segala bentuk persiapan bagi umat Islam yang hendak berjihad disetiap aspek. - Merancang segala bentuk kegiatan umum dan kegiatan persiapan jiwa dan pendukung-pendukungnya dari kemunduran sebelumnya, menghidupkan jihad dan meyakinkan jiwa dengannya. - Orang-orang yang akan berperan andil dalam berjihad.

Muqaddimah :

• Muqaddimah Pertama : “Makna Jihad secara umum dan tingkatannya”. - Secara bahasa : Jihad dengan sebenar-benarnya, dalam artian keinginan yang kuat. - Menurut Syara’ kaidah agama) yang mutlak : memerangi orang Kafir (menurut empat madzhab) - Menurut Syara’ secara umum : Mencurahkan segala kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang dicintai, dan memerangi apa-apa yang menghalangi kebenaran. - Tingkatan-tingkatannya - Manfaatnya. 1. Jihad dalam pengertian umum meliputi jihad melawan hawa nafsu dan syaithan dan meliputi jihad orang kafir dan munafik, dan Jihad kepada orang ahli bid’ah dan kemungkaran. 2. Jihad terhadap orang kafir yang menemui kendala adalah suatu kesempatan untuk lebih menyempurnakan jihad. 3. Sesungguhnya yang menyempurnakan manusia dalam hal Jihad dan mengerjakan bagian-bagiannya, semuanya itu menuntut persiapan jiwa dan segala sesuatu yang dibutuhkan.

• Muqaddimah Kedua : - Jihad berperang : Wajib ‘ain - Jihad menuntut ilmu : Wajib Kifayah, kecuali : 1. Apabila seorang imam sudah mewakili dari keseluruhan umat Islam untuk berjihad. 2. Atau apabila keluar suatu keputusan - Manfaat : Jihad memnuntut ilmu tidak diartikan sebagai fardhu kifayah karena seorang muslim yang sudah mengerjakan maka yang lain tidak terkena.

• Muqaddimah Ketiga : Keinginan untuk Berjihad 1. Mendekatkan diri kepada Alloh dengan landasan ayat-ayat yang mulia. 2. Balasannya mendapatkan keridhaan Alloh dan syurga-Nya di akhirat. 3. Bentuk penghambaan manusia kepada Tuhan Semesta Alam dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan mengeluarkan mereka dalam menyembah makluk menuju ibadah kepada Alloh yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya suatu keputusan dalam beragama dan cara-cara hidup menuju keadilan Islam dan dari sempitnya dunia beserta kesusahan menuju keluasan dan kebahagiannya, dan dari adzab neraka pada hari kiamat dan menuju Jannatu Na’im (syurga yang abadi). - Dan menolak kepada orang-orang yang meragukan akan Jihad dari sebagian umat Islam: “ Apakah Jihad itu atau berperang?”

Sesungguhnya Jihad untuk berperang dalam pandangan Islam masih mengalami iktilaf untuk masalah itu yang berkembang menuju kepada peperangan, jadi hanya sebatas kepitisan seorang Raja (Ulil Amri) pemimpin yang beriman. - Sesungguhnya hadits tentang keinginan untuk berjihad bukan berarti suatu kelalaian dari hal jihad itu sendiri dan memperhatikan kekuatan kaum muslimin dan kelemahan-kelemahan mereka. Dan apakah mereka mampu mengerjakannya atau tidak? Bukan berati bagi orang-orang yang menggunakan pedang. Sebagaimana yang diturunkan dalam Q.S At-Taubah. Sudah dihapus setiap hal yang bersangkutan tentang jihad:

“Gerakan Jihad yang demikian itu adalah Jihad yang dilakukan oleh umat muslim. Di Afganistan, Syeisyan dan Kashmir, Palestina, dsb. Karena sesunggungnya gerakan itu sudah disyariatkan untuk membebaskan Negara mereka dari Negara kafir, dan melucuti baju-baju umat Islam di tempat itu sebagaimana Jihad untuk berperang dalam beragama dan mengusir sehingga tempat-tempat itu tidak lagi dikunjungi oleh orang-orang kafir. - Adapun Jihad menurut Ilmu : Sesungguhnya yang demikian itu tidak dilakukan setelah melaksanakan beberapa hal, dan memastikan kekuatan umat Islam.

• Muqaddimah Keempat : “Keutamaan Berjihad”. - Dampak di dunia : 1. Dengan berjihad tampaknya hakekat kecintaan terhadap Alloh dan kejujuran dalam beribadah kepadaNya. 2. Menyebarkan Tauhid dan Syari’at Islam. 3. Dengan berjihad akan terhindar dijalan Alloh adalah orang yang menunjukkan manusia kepada kebenaran dan menolong mereka di jalan Allah, dimana banyak perbedaan suatu jalan. 4. Orang-orang yang berjihad dijalan Alloh adalah orang yang menunjukkan manusia kepada kebenaran dan menolong mereka di jalan Alloh, dimana banyak perbedaan suatu jalan. 5. Jihad di jalan Alloh salah satu cara yang paling bagus untuk mendidik jiwa dan mensucikan bathin dan dzhahirnya. 6. Menyatukan shaf (barisan) umat Islam dan masyarakat seluruhnya. - Dampak di akhirat : tidak disebutkan (dar Al-Qur’an dan Hadits-hadits yang shahih dan perkataan Salafush Ash-Shalih). - Manfaatnya : kenapa keutamaan-keutamaan yang besar yang dipersiapan untuk para mujahid dan syuhada-syuhada dijalan Alloh itu menguatkan, ruhiyah dan akan diberikan kenangan yang besar darinya. Sebagai tanda kesungguhan dan kecintaan kepada Alloh. Dan jihad perbuatan yang mulia, agung dan terpuji dan akan diperoleh manfaatnya bagi orang yang menyelamatkannya. • Muqaddimah Kelima : “ Keinginan untuk meninggalkan jihad”. - Salah satu dosa besar dari dosa-dosa yang besar. - Perihal meninggalkannya itu akan memperluas kesyirikan, kedholiman dan memperbanyak kaum kafir. Dan menyembah manusia kepada yang satu dan lainnya. - Meninggalkannya menyebabkan keburukkan dan kehancuran. - Dalam perihal meninggalkannya menghalangi kemaslahatan yang besar didunia dan akhirat. - Menyebabkan permusuhan dan perpecahan diantara umat Islam.

 Pendidikan dari aspek persiapan untuk berjihad dijaman sekarang.

• Putusan Pertama : Jihad dalam pengertian umum tidak dibebankan kepada muslim mukalaf. - Bahwasanya Jihad melawan orang kafir fardhu ‘ain baik melalui hati, ucapan, harta kekayaan. Atau dengan lisan dan tangan (kekuasaan) dan Jihad yang berada dibawah Jihad hati maka yang demikian itu sekecil-kecilnya iman. - Jihad dengan hati berarti memutuskan hubungan dengan orang-orang kafir, atau sebagian orang kafir. Dan pergaulan dengan mereka dan meyakinkan jiwa untuk memerangi mereka dan segala bentuk persiapannya.

• Putusan Kedua : Persiapan keimanan untuk Jihad, yaitu menghindari Jihad yang bersifat peperangan sehingga sempurna persiapan. - Yang demikian itu bukan berarti menghindari jihad melawan orang kafir, memerangi mereka, dalam menegakkan suatu keadilan, sehingga sempurna persiapan keimanan. - Dan bukan berarti menyesali segala bentuk persayaratan keimanan atau materi dalam jihad (perang). - Bahwasannya mendatangi jihad di jalan Alloh adalah sebaik-baik ba’iat yang diajarkan oleh para mujahid-mujahid baik keimanan, pendidikan, kezuhudan, dan keihlasan.

• Putusan Ketiga : Ikhtilaf dan kesepakatan Negara-negara diantara Jihad menuntut (ilmu) dan Jihad perang. • Putusan Keempat : Makna persiapan iman atau Jihad secara maknawi - Asal usul persiapan iman tertera dalam Q.S. At-Taubah : 111-112 • Putusan Kelima : Asal usul pendidikan Jihad bagi jiwa dan tingkatannya - Jihad jiwa atas petunjuk dan agama yang hak: : o Wajib ‘Ain o Wajib Kifayah o Wajib bagi orang yang memperhatikan dakwah dan pendidikan manusia, tausiyah, kepada mereka, dan persiapan berjihad. Dan hal ini merupakan hal yang sangat diperhatikan. Dan memusatkan kegiatan-kegiatan mereka untuk berdakwah dan perkembangan-perkembagan masalah yang beraneka ragam, atas kebenaran haq yang rendah dari ilmu, dengan jalan orang-orang yang beriman. (Ahlu Sunnah wal Jama’ah). - Kesungguhan jiwa untuk beramal yang sesudah mempelajari : o Perbuatan hati o Perbuatan lisan o Perbuatan anggota tubuh

- Sesungguhnya jiwa untuk dakwah kepada petunjuk, dan mengajarkannya kepada manusia. o Bahwasannya kesungguhan jiwa untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. o Dimulai dengan jihad memberikan penjelasan dan disampaikan kepada manusia dan memberi pengertian kepada mereka akan hakikat jalan orang-orang yang beriman, dan hakikat jalannya orang kafir yang diharamkan. o Seperti yang tidak kita lupakan akan wasilah ilmu-ilmu hadits dalam meluaskan kaidah-kaidah dakwah dan menyampaikan kepada orang banyak. o Seperti yang tidak kita lupakan akan peredaran harta dikalangan jalan orang yang beriman, dan jalan orang berdosa dengan berbagai alasan. o Sebagaimana yang telah dicantumkan tausyiah ini diantara para muakhir melalui dakwah dan jihad.

- Sesungguhnya jiwa dalam bersabar akan dakwah dan penjelasan yang haq, penyiksaan dan penbedaan. o Bahwasannya dakwah itu kepada kesabaran atas persiapan jiwa untuk berjihad dan menjelaskan suatu kebenaran kepada manusia. Dan menyesali keikutsertaan di tempat-tempat orang kafir sebelumnya atau sesudahnya, maka yang demikian itu suatu pelarian yang buruk,dan tiada selamat serta tidak dibenarkan.

Akibat-akibat : - Memasukkan tingkatan jihadun Nafsyi (jihad melawan hawa nafsu) kedalam bagian yang lain.  Menuntut untuk ditertibkan seluruhnya dan meyempurnakan segala hal yang belum sempurna. - Para Murotib berselisih dalam memutuskan tingkatan jihad dan inayah dengan sesuatu yang ditimbulkannya.  Sekumpulan mubariz dari da’i dan mujahidin yang doruroh karena meyalahi kaidah yang ditetapkan oleh Alloh ketika dalam keadaan mendesak. - Berhati-hati dalam bergaul dengan orang munafiq yang masuk shaf (barisan) umat Islam, yang ikut campur dalam urusan.  Ini merupakan buah dari persiapan yang kuat dalam kaidah shalibiyah, ketahuilah yang demikian itu mengetahui orang Islam dalam bersiap-siap, berjihad dari orang-orang munafiq yang menampakan kebaikan dan menyukai dakwah dan jihad.  Wajib bagi yang bersandar kepada dakwah, persiapan, dan pendidikan sangat hati-hati terhadap orang munafik yang ikut campur dalam urusan kaum muslimin.  Dan salah satu terpenting dari wasilah yang kokoh yaitu memperhatikanaa kaidah shalibiyah. Dan memperbagus persiapan dan pendidikan meskipun waktunya lama. Dan tidak menghubungkan dengan hal yang serupa dan persiapan-persiapan kecuali orang-orang yang menghancurkan pendidikan dan menampakan kesabarannya dan ketaqwaannya, keutamaannya, dan kejujurannya, dan berusaha untuk mendidik dengan mujadalah dan segala usaha. Dan berhati-hati terhadap orang yang memiliki seluk-beluk munafiq walaupun setelaha itu ia baik. Dan berhati-hatilah terhadap siapa saja yang meninggikan namanya dan datang di areal pendakwahan dan lebih mementingkan ketenaran/figuritas (Maksudnya Manhaj bukan sebagai Figuritas/ketenaran, untuk lebih jelas lihat Majalah As-Silmi Sub Judul Manhaj bukan Figuritas ) .

- Akan diterima segala bentuk pendidikan Jihad dari orang-orang yang Jihad apa-apa yang tidak diterima Qodrat mereka. - Macam-macam persiapan harta, tertera dalam Q.S. Al-Anfal : 10 dan apa-apa yang paling dari aspek persiapan akan dijelaskan sebagai berikut : 1. Persiapan harta 2. Persiapan ilmu-ilmu (syar’i/agama) yang utama. 3. Persiapan fisik 4. Persiapan akan keahlian memanah (berperang), dll. - Kesalahan sebagian mujahidin bukan berati kesalahan dalam berjihad dan diganti hal demikian itu dengan sikap wala’ mereka sehingga tidak membatalkan Jihad mereka.  Sesungguhnya para mujahidin itu manusia seperti yang lainnya mereka bisa berbuat salah, dan mereka diberi musibah (ujian), tidak maksum (sempurna) seperti para Nabi dan Rasul. Kitab-kitab yang telah di karang oleh: Fadhilatush Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Mujahid Abdul Aziz bin Nashir Al-Julayyil –Hafidhahulloh Ta’ala adalah : 1. Kitab Fabi Hudaahum Iqtadihi. 2. Kitab Faayyu al-Fariqayni Ahhaqqu bi al-Amni. 3. Kitab Walihillahi al-Asmaa’ al-Husnaa’ 4. Kitab At-Tarbiyyah Al-Jihadiyyah Fii Dlaul’ Kitabil Was Sunnah (untuk lebih jelas tentang kitab yang telah dikarang Asy-Syaikh Al-Faqih Al-Julayyil Hafidhahulloh Ta’ala lihat majalah Dunia Islam Hal. 24-29 Edisi ke – 8 Th. 1 Desember 2006 M/Dzulhijjah 1427 H). Sekian, semoga Risalah ini dapat bermanfaat bagi umat Islam, Barolallohu’ fiik, wallohu’ Ta’ala a’lam bish showab. Subhanakallahummaa’ wabihamdiika, waashadu’alla illahailla ‘anta astaqfiruka Wa’atubuhu ilaai’ka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar