Jumat, 06 Maret 2009

Percakapan Antara Muwahid dan Moderat

Ditulis pada oleh abu ghozi

Moderat

Apakah Anda mengetahui tentang jihad fi sabilillah ?

Muwahid

Kami tidak akan menjawabnya secara ratio, kami menjawabnya sebagaimana Rasulullah saw. menjawab pada saat para Shahabat bertantang kepadanya,

“Apa hijrah yang terbaik? Beliau saw. menjawab, “Al Jihad Fii sabilillah”, mereka bertanya, “Apa jihad itu yaa Rasulullah?”Beliau saw. menjawab, “memerangi Kuffar jika kamu datang kepada mereka (berperang).” Mereka bertanya, “Apa jihad yang terbaik?” Beliau saw. menjawab “Seseorang yang kudanya terjatuh dan darahnya mengalir.” (Musnad Imam Ahmad)

Dan dalam riwayat yang lain, Shahabah bertanya,

“Manakah (kondisi) terbunuh yang sebaik-baiknya ?” Rasulullah Saw. menjawab, “Seseorang yang darahnya mengalir dan kudanya terbunuh.” (Abu Daud)

Maka tidak ada seorangpun yang bisa mengatakan bahwa sebaik-baik jihad adalah menuntu ilmu dan sebagainya, tetapi sebaik-baik jihad adalah terbunuh. Juga dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda,

“Pergilah dan kembalilah ke medan pertempuran karena Allah, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya dan sebaik-baik Ghazwa adalah pada saat darahnya mengalir dan kudanya terbunuh.”

Moderat:

Tetapi waktu kita saat ini tidak sama dengan masa lalu, dimana ada Khilafah dan sebagainya, pada saat ini tidak ada jihad dengan pedang, tetapi pada saat ini jihad dengan pena, satelit dan sebagainya, dari ekonomi, voting dan sebagainya… kita harus membangun infrastruktur dari Ummat sebelum kita berperang.

Muwahid

Alasan mengapa kita harus berperang sekarang adalah karena Allah swt. memerintahkan kita,

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (QS An Nisaa’, 4: 84)

Allah menjelaskan bahwa kita hanya harus berusaha dan Allah selanjutnya akan mementukan hasilnya. Menghentikan jihad dan mencegah mujahidin atau mengecilkan hati orang-orang dari berperang adalah sebuah karakter dari Munafiqun. Allah swt. berfirman,

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka….” (QS Muhammad 47: 4)

Allah tidak mengatakan, pada saat kamu bertemu musuh, “tuntutlah ilmu” atau “bangunlah infrastruktur”, tetapi Dia swt. memerintahkan kita untuk memerangi mereka.

Lebih lanjut, Allah memerintahkan kita untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran. Salah satu dari menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah menyeru orang untuk shalat, puasa, membantu orang yang membutuhkan dan sebagainnya, dan diantaranya yang telah disepakati Ulama adalah,

“Tidak ada yang bisa menyamai jihad fii sabilillah (pada saat itu menjadi fardhu ‘ain)”

Pada saat jihad menjadi fardhu ‘ain, itu bahkan di atas shalat, zakat, haji dan semua ibadah lainnya, pada saat kita berperang dalam jihad defensif, jihad kita adalah shalat kita, kita tidak bisa menghentikan jihad bahkan untuk shalat, jadi bagaimana bisa menghentikan jihad dengan tujuan untuk menuntut ilmu?

Moderat

Kita tidak bisa berjihad; jika mempunyai hutang, bayarlah hutang terlebih dahulu.

Muwahid

Dalam jihad defensif kita tidak perlu membayar hutang terlebih dahulu, Imam Ibnu Qudama Al Maqdisi dalam Al Mughni jilid 9 berkata,

“Jika jihad menjadi Fardhu ‘ain, dia tidak perlu meminta izin dari seseorang yang memberikannya pijaman, itu teks dari Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas, “Jika jihad menjadi fardhu, dia tidak perlu meminta izin dari orang yang meminjamkannya.”

Moderat

Laksanakan Shalat dulu.

Muwahid

Shalat adalah kewajiban dan meninggalkannya adalah kufur, tetapi jika jihad menjadi fardhu ‘ain, itu menjadi lebih penting daripada shalat, Imam empat mahzab menyetujui bahwa shalat adalah Fardhu, puasa adalah fardhu, zakat adalah fardhu, tetapi jika jihad menjadi fardhu ‘ain, itu lebih utama dari semua ibadah yang lain tetapi dia seharusnya melakukan sebisa mungkin jika dia bisa melakukannya, Imam Ahmad bahkan berkata,

“Jika musuh datang, kemudian sepanjang dia berperang, dia tidak bertanggungjawab atas semua kewajibannya yang lain sampai musuh berhenti.”

Imam Qurtubi berkata,

“Adalah sebuah kewajiban atas Imam untuk tetap menaklukan musuh setiap tahun…”

Ibnu Katsir berkata,

“Kita harus memerangi kuffar yang paling dekat sampai kita berjalan untuk mendatangi mereka.”

Allah swt. berfirman,

“Wahai orang-orang beriman perangilah orang-orang kafir yang paling dekat denganmu.”

Ini mempunyai implikasi, jika musuh memasuki negeri kita, mereka sangat dekat dengan kita kemudian kita harus memerangi mereka, jika mereka tidak masuk ke negeri muslim tetapi pemerintah mendeklarasikan Kufur Bawah (kekufuran yang nyata), mereka adalah musuh yang paling dekat dengan kita. Kemudian, jika ada Khilafah, musuh yang paling dekat adalah Kuffar yang berada di luar batas negara yang tidak mempunyai perjanjian dengan kita.

Moderat

Mengapa kita berperang?

Muwahid

Karena kita bukan Munafiqun dan seseorang yang tidak berparang adalah Munafiq, Nabi Muhammad saw. bersabda,

“Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak berperang dan tidak juga mempunyai niat untuk berperang di jalan Allah dia mati dalam sebuah cabang Nifaq.”

Dan jika kita tidak mengatakan demikian, Allah swt., berfirman,

“Jika kamu tidak berperang Allah akan mengazabmu dengan amat pedih.”

Rasulullah saw. bersabda,

“Seseorang yang tidak berperang tidak juga menyiapkan orang-orang yang berperang, tidak juga memperhatikan keluarga orang-orang yang berperang, Allah akan mengirimkan kepadanya sebuah azab sampai hari pengadilan.”

Moderat

Setalah jihad, apakah yang kamu lakukan sebagai pengganti? Kita membutuhkan enginer (insinyur), dokter dan sebagainya.

Muwahid

Kita tidak mengatakan janganlah pergi berjihad karena kamu tidak mempunyai sebuah jawaban, kita membutuhkan enginer untuk membangun gedung, tapi, itu menjadi tidak penting jika kuffar masih membunuh Muslim, Allah swt. berfirman,

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).” (QS An Nisaa’, 4: 84)

Allah tidak pernah memerintahkkan kita untuk menteror Kuffar dengan gelar, derajat dan pendidikan, Allah swt. berfirman,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS Al Anfal, 8: 60)

sumber : http://almuhajirun.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=27

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar