Minggu, 08 Maret 2009

PBB, Payung Kufur Global

un-logo-copy

PBB adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh tiga orang pemimpin Negara pemenang perang dunia kedua. Mereka adalah FD Roosevelt dari Amerika Serikat, Joseph Stalin dari Uni Sovyet, serta Winston Churchill dari negara adikuasa saat itu (yang keadikuasaannya hampir berakhir) yakni Inggris.

20080821221309yalta_summit_1945_with_churchill_roosevelt_stalin

unbuilding

Dalam sebuah majalah dirgantara dan kemiliteran yang terbit untuk umum, pernah dibahas mengenai perang dunia kedua. Perang dunia kedua rupanya adalah akal-akalan para ”juragan” senjata amerika yang berdarah yahudi. Perusahaan-perusahaan ini rupanya sedang kekurangan konsumen, sehingga butuh even besar untuk memasarkan produk-produk mereka, sekaligus agar karyawan-karyawan yahudi mereka tidak menganggur. Salah satunya adalah perusahaan klan Rockefeller (gedung PBB pusat di New York disumbangkan atas nama yayasan Rockefeller). Jadi barangkali cerita holocaust adalah sisa-sisa strategi pemasaran senjata yang kisahnya masih dilestarikan hingga kini.

PBB memiliki piagam yang sangat menggembar-gemborkan Human Rights. Menurut bahasa yang kita pakai sehari-hari, human rights memiliki makna persamaan hak antar sesama manusia. Dengan asas human right, kedudukan negara-negara di dalam PBB bisa saja sejajar dan memiliki hak yang sama rata. Hal ini dikarenakan manusia menurut HAM memang tidak dapat dibeda-bedakan. Ulama dan pezina memiliki harkat dan martabat yang sama di depan HAM. Tetapi pada kenyataannya hanya 5 negara dewan keamanan tetap plus satu anggota figuran (DK tidak tetap) yang punya kuasa di sini. Mereka adalah tiga negara pendiri PBB plus Cina dan Prancis, ditambah satu anggota figuran tadi.

Bagi manusia yang mau berpikir, kenyataan diatas sesungguhnya dapat membuka sebuah wacana baru. Mengapa HAM mesti ditegakkan? Padahal pendiri HAM itu sendiri malahan membatasi kekuasaan pada mereka sendiri. Padahal beberapa tentara dari sekelompok negara tersebut, terutama Amerika Serikat, merupakan pelanggar HAM nomor satu, bahkan beberapa saat sebelum HAM itu didirikan (ingatkah anda pada Hiroshima? Atau Nagasaki? Bahkan presiden Amerika saat itu pun tidak diajukan ke mahkamah internasional).

Jawabannya sebenarnya adalah bahwa HAM itu hanyalah sekumpulan nilai-nilai nisbi yang dicatut dan dibukukan untuk membentuk tatanan aturan baru yang membawa pada penataan penjajahan baru. Bagi anda orang-orang yang merasa beriman kepada Allah azza wa jalla, dihimbau untuk tidak mengikuti konsep HAM ini. Sebab HAM terlalu interpretatif . HAM akan menjadi sebuah senjata penindasan bagi penguasa kufur global untuk menjajah anda. Semua alat yang ada di PBB merupakan piranti sandiwara untuk membuka jalur penjajahan baru bagi Amerika dan anteknya.

Menurut Islam, penyamarataan derajat antar manusia merupakan hal yang bathil. Sama rata derajat ini juga dianut oleh paham-paham lain yang sejalan dengan HAM seperti sekularisme dan demokrasi. Satu suara pelacur sama nilainya dengan satu suara anggota majelis syuro partai Islam. Sedangkan Allah telah berfirman dalam al-Hujuraat ayat 13 :

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Memang, Allah tidak membeda-bedakan orang yang berbeda gender, suku, warna kulit dan sifat fisik lainnya. Namun Allah akan melihat seberapa besar ketakwaan kita pada-Nya (dengan masuk islam secara kaffah tentunya).

abdullahg_468x609

donatur pbb, rockefeller

donatur pbb, rockefeller

Di zaman modern ini PBB hanya menjadi alat peperangan meja (baca : perundingan) yang akan memenangkan Amerika dan sekutu-sekutunya. Ketika Paman Sam mulai terseok-seok di Afghanistan, Arab Saudi diisukan menjadi mediator antara Thaliban dengan Amerika. Padahal dengan jelasnya Amerika adalah agresor yang telah membunuh ribuan rakyat kecil tak berdosa di sana. Melempemnya negeri-negeri muslim di depan Amerika Serikat tidak lain adalah karena keikutsertaan mereka dalam PBB. Jadi adalah sebuah tipuan jika memperjuangkan tegaknya Islam melalui PBB, sebab PBB pada hakekatnya adalah alat pelanggeng kekuasaan imperialis dan penguasa yang kafir.

Sebagai contoh (untuk negara kafir) adalah pemberontakan Macan Tamil di Srilanka. PBB dan Amerika menganggap Macan Tamil sebagai organisasi teroris. Ketika pemerintah Srilanka mengalami kekalahan dalam pertempuran maka PBB dan Amerika akan segera mangajukan klausul gencatan senjata yang harus dilaksanakan. Sehingga akan tercipta suatu kekuasaan yang tetap dan langgeng bagi status quo di Srilanka, dengan cara yang beraneka macam termasuk mungkin bagi-bagi kekuasaan. Akan tetapi ketika Macan Tamil kalah, dan mengajukan gencatan senjata, PBB dan Amerika tidak akan menggubris permintaan tersebut dan membiarkan status quo meneruskan operasi militer (dan ini terbukti sekarang, sungguh kasihan Macan Tamil).

Amerika juga mencak-mencak ketika Myanmar mempersilahkan Cina membentangkan pipa gas mereka melalui Myanmar, akan tetapi saat ini tidak ada suara pelanggaran HAM bagi penyiksaan etnis rohingya oleh Myanmar dan beberapa kasus oleh aparat Thailand.

Bisa diambil kesimpulan bahwa kita jangan mempercayai komitmen suatu negara untuk melawan kekufuran jika ia masih bernaung di bawah kekufuran global itu sendiri. Memang saat ini beberapa daulah islam seperti Daulah Islam Iraq, Daulah Islam Kaukasus, dan Daulah Islam Tholiban, telah berdiri untuk melaksanakan iqomatuddin. Namun karena mereka tidak bergabung di PBB, seolah-olah mereka dianggap sebagai separatis. Sehingga dengan pengaruh dari media-media awam, kita lebih mempercayai perjuangan semu negara muslim anggota PBB, ketimbang negara Islam yang jelas-jelas menolak untuk bergabung dengan payung kufur global (baca: PBB).

diambil oleh Muhammad Lukman as-Sundawy dari Situs Islam di http://ibnu1edy.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar