Jumat, 06 Maret 2009

Para Pewaris Iblis

Mengapa Iblis dinyatakan kafir serta dilaknat Allah sampai Hari Kiamat? Sementara itu, ketika Nabi Adam melanggar larangan Allah, yaitu agar tidak memakan buah dari pohon larangan yang oleh Iblis dinamakan sebagai ‘Syajaratul Khuldi’, beliau lantas diberi ampunan, bahkan dijadikan orang pilihan sebagai rasul?

Jawaban yang penting dikemukakan di sini adalah Iblis dinyatakan kafir dan dilaknat sampai Hari Kiamat karena ia menolak satu hukum Allah saja, yaitu wajibnya sujud kepada Nabi Adam as. Tidak cukup melakukan hal itu, ia juga mengkritik hukum itu dengan ucapannya:

أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

Apakah aku pantas sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?

Sikap Iblis inilah yang menyebabkan dirinya digolongkan dalam kelompok orang-orang kafir. Maka, siapa saja yang mengikuti sikap iblis di atas, yaitu menolak dan mengkritik hukum Allah, ia menjadi kafir seperti kafirnya iblis.

Berbeda dengan Iblis, Nabi Adam as ketika dilarang untuk memakan buah dari pohon terlarang di atas, beliau menerima hukum tersebut dengan sikap tunduk dan patuh; beliau sama sekali tidak menolak atau mengingkarinya. Pelanggaran beliau terhadap larangan itu di kemudian hari bukan karena sikap menolak atau mengingkari larangan Allah di atas, tapi karena kelalaian beliau akibat bisikan iblis yang terkutuk.

Dengan demikian, dapat dibedakan antara orang yang menolak atau mengingkari hukum Allah dengan orang yang menerima dan tunduk kepadanya, namun kadangkala tergelincir atau melakukan pelanggaran karena kelalaiannya akibat bisikan syaithon atau dorongan hawa nafsu. Orang yang pertama telah kafir dan tidak diberi ampunan Allah kecuali bila bertaubat dan memperbaharui keislamannya, sedang orang yang kedua dianggap sebagai pelaku kemaksiatan yang pintu-pintu taubat masih terbuka lebar dan ia tidak masuk dalam lingkup kekafiran.

Di zaman kita yang penuh berbagai macam kekafiran ini, kita dapati bahwa jenis kekafiran yang sangat besar dominasinya di dunia adalah bersikap seperti sikap iblis di atas: menolak dan mengkritik hukum Allah. Hampir di seluruh negeri-negeri di atas bumi saat ini, kekuasaan negara ada di tangan para penolak serta pengingkar hukum Allah; rakyatnya pun tidak berbeda dengan para penguasanya. Mereka mencampakkan hukum Allah dan sebagai gantinya memberlakukan undang-undang yang mereka buat menurut akal-akal mereka yang dipenuhi hawa nafsu dan kepentingan syahwat hewani.

Sikap mengkritik terhadap hukum Allah yang mereka lakukan pun juga sangat jelas tatkala mereka mengatakan bahwa hukum Allah tidak sesuai dengan tuntutan zaman modern; hukum pidana Islam sangat kejam; poligami dan hukum waris Islam adalah hukum yang tidak adil dan merugikan kaum wanita; jilbab adalah lambang keterbelakangan, dsb…dsb…

Apapun sistem pemerintahan yang mereka jalankan, hakekat kekafiran mereka –di samping kekafiran-kekafiran yang lain seperti berloyal kepada kaum kuffar- tidaklah bergeser dari apa yang dilakukan iblis, yaitu menolak dan mengkritik hukum. Kalaupun ada perbedaan antara mereka dengan iblis, hal itu terletak pada kuantitas hukum Allah yang ditolak. Iblis hanya menolak dan mengkritik satu hukum Allah saja, sedang hukum Allah yang mereka tolak dan kritik jauh lebih banyak, bahkan ada di antara mereka –dia adalah orang yang dianggap cendikiawan muslim (!)- yang terang-terangan menolak syari’at Islam sama sekali. “Yang saya tolak not only islamic state but islamic rule”, katanya dalam sebuah pertemuan.

Dalam pemerintahan yang memakai sistem parlemen misalnya, tidak ada perbedaan antara lembaga legistatif, yudikatif atau eksekutif dalam kekafiran ini; semuanya bersatu padu untuk keluar dari Islam; lembaga legistatif berperan sebagai pencipta undang-undang jahiliyah setelah hukum Allah ditolak oleh para anggotanya; lembaga eksekutif berperan sebagai pelaksana undang-undang ciptaan thoghut legistatif di atas dan kadang diberi wewenang untuk membuat sendiri peraturan-peraturan; sedang lembaga yudikatif berperan untuk mengadili orang-orang yang melanggar hukum jahiliyah itu, meskipun pelanggaran itu terjadi karena ketaatan pelakunya kepada hukum Allah.

Mayoritas rakyat yang hidup di negara-negara tersebut telah masuk dalam ketaatan kepada orang-orang kafir, yakni para pemerintah yang menolak hukum Allah dan menerapkan hukum jahiliyah sebagai gantinya; mereka rela dihukumi dengan hukum yang didasarkan atas sikap mengingkari hukum Allah. Bahkan, akibat kebodohan mereka, banyak di antara umat Islam yang termakan propaganda orang-orang berotak iblis yang mengkritik hukum Allah; akibatnya, mereka akhirnya masuk di barisan orang-orang yang menolak hukum Allah dan melontar berbagai macam kritik terhadapnya, sementara mereka tidak sadar bahwa hal tersebut dapat membuat mereka terlepas dari Islam sama sekali.

Jalan keluar dari fitnah kekafiran ini adalah hijrah. Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum hijrah fisik adalah menjauhi seluruh sikap taat dan tunduk kepada peraturan atau undang yang bersumber dari hawa nafsu para pengikut iblis di atas. Selanjutnya, sebagai konsekuensi dari keislaman, kaum muslimin harus mendirikan suatu sistem kehidupan di mana hanya hukum Allahlah yang diterima dan berlaku di bumi ini. diambil dari situs Muslim http://dakwahdanjihad.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar