Sabtu, 07 Maret 2009

Menjernihkan Masalah ‘Khawarij’

Ada satu fakta sejarah yang sangat penting di era kepemimpinan Khalifah Ali Ra., yaitu: menghadapi sekte Khawarij! Hal ini sangat penting, sebab saat itu perkembangan Khawarij mencapai puncaknya, hingga Khalifah Ali memutuskan untuk memerangi mereka. Setelah itu sekte Khawarij memudar, ide-idenya menyebar secara sporadis dalam sekte-sekte, atau kemudian ia mewujud dalam bentuk gerakan-gerakan politik tidak jelas.

Fitnah Khawarij sudah muncul sejak jaman Khalifah Utsman Ra., tetapi matang di era Khalifah Ali. Ummat Islam mengambil teladan dalam menyikapi Khawarij dengan melihat cara Khalifah Ali memperlakukan mereka. Khalifah Ali memerangi kaum Khawarij dan menumpas mereka di Nahrawan, setelah sebelumnya mengutus Ibnu Abbas Ra. untuk menyadarkan mereka. Setelah tidak bisa disadarkan dengan dakwah dan keberadaan mereka semakin mengganggu Ummat Islam, tidak ada pilihan lain, selain mereka diperangi.

Fitnah Khawarij di Era Modern

Di era modern, fitnah Khawarij ternyata muncul kembali. Bentuknya yang paling nyata ialah: (1) Memisahkan diri dari kehidupan jumhur kaum Muslimin, dan mencukupkan diri dengan kelompok eksklusif; (2) Mengkafirkan sesama Muslim, yaitu orang-orang yang berada di luar kelompok mereka; (3) Menentang kepemimpinan Islami, setelah sebelumnya mengkafirkan kepemimpinan itu. Demikian kurang lebih wajah Khawarij dalam konteks modern.

Fitnah itu makin menjadi-jadi ketika muncul fitnah dari arah lain. Sebagian orang bermudah-mudah menuduh sesama Muslim sebagai Khawarij, dan menetapkan bagi mereka sanksi-sanksi seperti yang menimpa Khawarij di jaman dulu. Sesama Muslim dituduh sebagai “anjing-anjing neraka”, “seburuk-buruk makhluk di kolong langit”, dilancarkan tahdzir, jarah, dan hajr, serta mereka direkomendasikan agar ditumpas sampai ke akar-akarnya oleh aparat negara.

Dialog dengan pihak yang dituduh tidak pernah ditempuh, debat terbuka belum dilakukan, menghilangkan keraguan, kejahilan, dan halangan-halangan belum ditempuh, tetapi sudah masuk ke area sanksi tertinggi. Seperti disebut dalam ungkapan, “Mereka hendak menaiki kepalanya sendiri.”

Alasan mereka sangat sederhana, siapa saja yang memberontak kepada penguasa yang sah, itulah Khawarij. Paham seperti ini tidak dikenal dalam Islam, sebab memang tidak ada dasarnya dan teladan dari jaman Salaf. Bisa jadi para pejuang Islam di Indonesia pada jaman dulu akan juga dituduh Khawarij karena memberontak kepada penguasa Kompeni Belanda. Atau Ummat Islam yang menentang Pemerintah NASAKOM di era Orde Lama juga disebut Khawarij. Bahkan kaum Sunni di Iran yang tertindas setelah berdiri Revolusi Syiah Iran, mereka juga disebut Khawarij. Para pejuang Moro di Mindanao disebut Khawarij, pejuang Pattani disebut Khawarij, pejuang Kashmir disebut Khawarij, dan seterusnya.

Tuduhan Khawarij akhirnya menjadi fasilitas yang sangat lezat untuk melanggengkan kekuasaan, apapun bentuk dan orientasi kekuasaan itu. Seolah, ajaran Islam seperti “centeng” yang menjaga kekuasaan apa saja, baik yang halal atau haram. Na’udzubillah min dzalik.

Tidak Setiap Pemberontakan Disebut Khawarij

Sifat Khawarij itu sudah satu paketan, tidak dipisahkan satu sama lain. Mereka memisahkan diri dari Ummat Islam (dengan membentuk komunitas eksklusif), mengkafirkan kaum Muslimin (termasuk menghalalkan darah, harta, dan kehormatannya), dan memberontak kepada Kepemimpinan Islami (atau Imam kaum Muslimin). Ketiga-tiganya harus ada dalam satu golongan, sehingga mereka berhak disebut Khawarij sepenuhnya.

Adapun perilaku memberontak Imam kaum Muslimin saja tidak bisa begitu saja disebut Khawarij. Alasannya, sejak jaman Shahabat Ra. telah terjadi banyak pemberontakan kepada Penguasa Islami dengan berbagai alasan. Tetapi para ulama tidak menghukumi mereka sebagai Khawarij.

Contoh pemberontakan itu ialah apa yang dilakukan Abdullah bin Zubair Ra. di masa Yazid bin Muawiyyah. Begitulah dengan perbuatan Husein bin Ali Ra. yang hendak mendirikan kepemimpinan di Kuffah, namun beliau terbunuh di Karbala. Sebelum itu, lebih hebat lagi ialah peperangan antara kubu Aisyah Ra., Thalhah bin Ubaidillah Ra., dan Zubair bin Awwam Ra. dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra. dalam Perang Jamal. Tidak ada satu pun ulama yang menyebut isteri Nabi dan kedua Shahabat beliau itu sebagai Khawarij.

Mungkin akan ada yang membantah, “Tetapi mereka itu berijtihad, jadi bisa saja memberontak.”

Katakanlah, para Shahabat Ra. itu berhak berijtihad, sebab mereka sepadan secara ilmu, perjuangan, dan ketakwaan. Tetapi bagaimana dengan pemberontakan Muawiyah bin Abi Sufyan Ra. dan Amru bin Al ‘Ash Ra. terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib? Apakah mereka sepadan ilmu, perjuangan, dan ketakwaannya? Satu pihak termasuk As Sabiqunal Awwalun dan peserta Perang Badar, sedang di pihak lain baru di kemudian hari masuk Islam. Jika menghitung ijtihad, tentu pendapat Khalifah Ali lebih kuat dan utama.

Bukan hanya di jaman Shahabat Ra., tetapi di jaman-jaman kemudian, pemberontakan itu terjadi. Berdirinya Khilafah Bani Abbassiyyah dimulai dengan pemberontakan kepada Khilafah Bani Umayyah. Bahkan sudah dikenal luas dalam catatan sejarah, berdirinya Abbassiyyah dimulai dengan pembantaian berdarah terhadap anggota keluarga Bani Umayyah. Apakah lantas Khilafah Abbassiyah disebut sebagai Khilafah milik orang Khawarij?

Begitu pula berdirinya Andalusia di Spanyol juga merupakan bentuk pemberontakan terhadap Khilafah Abbassiyah yang berpusat di Baghdad. Hingga ia disebut sebagai Khilafah Umawiyyah Barat. Ibnu Hazm rahimahullah yang corak fiqihnya banyak diikuti oleh saudara-saudara kita dari kalangan Salafiyun, berasal dari Andalusia ini. Sangat sering terjadi dalam sejarah Islam pemberontakan suatu kaum terhadap Penguasa kaum Muslimin, sehingga terbentuk keimaman atau keamiran baru. Berdirinya Kerajaan Saudi juga dimulai dengan peperangan menghadapi Khilafah Utsmaniyyah Turki. Bahkan berdirinya banyak kerajaan Islam pada saat yang sama, baik di wilayah Timur Tengah atau di Nusantara dulu, hal itu juga menandakan ada pemberontakan secara terselubung, sebab pada hakikatnya kepemimpinan Islami itu hanya satu, tidak boleh lebih.

Dari Abdullah bin Umar Ra., bahwa Nabi Saw. bersabda, “Siapa yang telah membaiat seorang imam, maka dia harus mentaatinya dengan senang hati, selagi dia sanggup mentaatinya. Maka jika datang orang lain ingin mengambil kekuasaannya, maka penggallah leher orang itu.” (HR. Muslim). Hal ini menandakan bahwa Kepemimpinan Islami bersifat tunggal, pada asalnya.

Sering terjadi pembangkangan, pemberontakan, bahkan peperangan antar sesama kaum Muslimin dalam sejarah Islam. Tetapi tidak lantas para “pemberontak” itu disebut Khawarij, anjing-anjing neraka, seburuk-buruk makhluk di muka bumi. Jika demikian caranya, tentu akan sangat banyak yang masuk kategori Khawarij. Patokannya, selama sifat-sifat utama Khawarij belum berkumpul dalam satu kelompok, jangan mudah-mudah memvonisnya sebagai Khawarij.

Justru sangat menarik, sekelompok orang yang semula memberontak kemudian berhasil, lalu mereka menjadikan ayat-ayat tentang larangan memberontak untuk melindungi kekuasaannya. Hal seperti itu terjadi dalam sejarah dinasti-dinasti Islam di masa lalu. Lagi-lagi, ayat-ayat Syar’i akhirnya hanya menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan. Padahal dalam Al Qur’an disebutkan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (Al Mumtahanah: 8).

Isu Khawarij di Tangan Penguasa

Ketika kita bicara tentang isu Khawarij, maka pihak yang paling mensyukuri hal ini adalah para penguasa. Di mata mereka, isu Khawarij bermanfaat dalam dua hal: Satu, memberi mereka alasan yang kuat untuk memberangus para pemberontak sampai ke akar-akarnya; Dua, melindungi kekuasaan mereka sepenuhnya dari siapapun yang berusaha merebut kekuasaan itu. Dengan dua fasilitas itu, mereka berpeluang tetap menguasai kekuasaan politik sesuka hatinya.

Ternyata, isu Khawarij digunakan bukan hanya oleh Imam-imam kaum Muslimin, tetapi oleh semua penguasa di negeri-negeri Muslim. Biarpun kekuasaan mereka berbasis nasionalisme, sekularisme, demokrasi, bahkan komunisme, mereka sangat diuntungkan dengan isu Khawarij itu. Kenyataan ini benar-benar terjadi di negeri-negeri Muslim.

Di Mesir, Syaikh Hasan Al Banna dan Ikhwanul Muslimin yang berjihad menyerang Israel dianggap pengacau sehingga organisasinya dibubarkan, tokoh-tokohnya dibunuh dan ditangkapi, serta aset-asetnya dibekukan. Begitu pula, di jaman Gamal Abdul Nasher dan penerusnya, Pemerintah Mesir memanfaatkan Fatwa Al Azhar untuk melindungi diri dari berbagai rongrongan politik yang dilancarkan gerakan-gerakan Islam disana. Para pemimpin sosialis di Timur Tengah menindas gerakan-gerakan Islam dengan alasan yang kurang lebih sama. Mereka memanfaatkan dalil “larangan memberontak” untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum Muslimin. Termasuk pembantaian terhadap puluhan ribu pemuda-pemuda FIS di Aljazair, juga dibangun di atas pemikiran yang sama.

Untuk kasus di Aljazair, ada sesuatu yang sangat ironis. Setiap orang beriman pasti akan merasa belas-kasih kepada penderitaan puluhan ribu pemuda-pemuda Islam disana (ada yang menyebut hingga 50 ribuan jiwa). Mereka meninggal dalam upaya membangun negeri Aljazair yang lebih Islami. Padahal FIS telah menempuh cara damai, yaitu ikut pemilu demokratis. Presiden Aljazair waktu itu didesak agar membatalkan kemenangan FIS, tetapi dia berpandangan bahwa FIS telah memenangkan pemilu secara fair. Dia tidak mau membatalkan hasil pemilu. Akhirnya pemuda-pemuda FIS ditumpas dengan kekuatan senjata. Apakah cara itu efektif? Tidak, bahkan ia telah menghancurkan hati bangsa Aljazair itu sendiri. Sejak saat itu dan entah sampai kapan, permusuhan selalu tumbuh di tengah-tengah bangsa Aljazair. Di atas semua ini, pemuda-pemuda FIS dicela, “Ini semua gara-gara kalian yang terjerumus praktik demokrasi!” FIS tidak memberontak disalahkan, FIS menang pemilu disalahkan, FIS ditumpas habis, masih juga disalahkan. Lalu sebenarnya kita sedang berbicara dengan siapa? Manusia atau syaitan?

Di atas penderitaan para pemuda FIS itu, muncul seorang alim yang diklaim sebagai “Ulama Sunnah”. Dia melakukan studi sedemikian rupa yang isinya mencela keterlibatan FIS dalam lapangan politik di Aljazair, dan menyalahkan tokoh-tokoh politik FIS sebagai biang kerok pertikaian. Hebatnya, “Ulama Sunnah” ini tidak sedikit pun mengarahkan penanya untuk mengkritik penguasa militer Aljazair sebagai biang penindasan kaum Muslimin. Untuk kesekian kalinya, dalil-dalil Syar’i diletakkan tidak pada tempatnya. Seolah tidak ada gunanya Allah Ta’ala menurunkan ayat berikut ini, “Dan di antara yang Kami ciptakan, ada segolongan Ummat yang memberi petunjuk dengan kebenaran, dan dengan kebenaran itu pula mereka menegakkan keadilan.” (Al A’raaf: 181). Saya juga tidak tahu, bagaimana Sunnah bisa menghasilkan kebengisan hati? Na’udzubillah min dzalik.

Begitu pula di Indonesia. Soekarno yang berideologi NASAKOM memberangus gerakan Darul Islam dan menyebutnya ahlul bughat (pemberontak). Soekarno tidak melihat terhadap pelanggaran konsitusional yang dia lakukan, tetapi sangat mudah memvonis sebagian Muslim sebagai pemberontak. Kasus yang hampir sama terjadi ketika Soekarno memperlakukan gerakan PRRI di Sumatera Barat. Ia lagi-lagi disebut sebagai pemberontakan, pelakunya disebut pemberontak, dan tak berhak mendapat penghargaan apapun. Bandingkan dengan sikap Soekarno terhadap G30S/PKI, apakah dia juga bersikap keras? Tidak sama sekali. Soekarno tidak ada kemauan membubarkan PKI, meskipun organisasi itu hampir membuat bangsa Indonesia menjadi negeri komunis. Na’udzubillah min dzalik.

Lihatlah perlakuan para penguasa itu! Mereka tidak seperti Khalifah Ali Ra. yang sabar menghadapi Khawarij. Khalifah Ali tidak seketika memberangus Khawarij, tetapi memberi kesempatan diskusi, dialog, dan berbagai cara lain. Sedangkan para penguasa itu, mereka berbuat semena-mena, sangat mudah menuduh orang lain sebagai Khawarij, tanpa memberi kesempatan pembelaan.

Saya teringat sebuah catatan sejarah, ketika almarhum Bapak Prawoto Mangkoesasmito, Ketua Umum Masyumi waktu itu, menghadap Soekarno. Beliau meminta supaya Soekarno merehabilitasi nama baik Masyumi. Soekarno bersedia merehabilitasi Masyumi dengan syarat: Masyumi mau mengutuk tokoh-tokoh mereka yang terlibat dalam pemberontakan PRRI. Apa jawaban dari Allahuyarham Bapak Prawoto? Beliau mengatakan, kurang-lebih, “Sebelum kami mengutuk mereka, kami akan mengutuk Bapak terlebih dulu!” Sangat tegas dan tegas! Itulah tipe pemimpin sejati. Mereka bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Mereka tidak melanggar ayat Allah ini: “Dan janganlah kalian mencampur-adukkan antara yang haq dan yang bathil, lalu kalian sembunyikan yang haq itu, padahal kalian mengetahuinya.” (Al Baqarah: 42).

Isu Khawarij akhirnya menjadi dagangan paling empuk yang dijajakan ke pintu-pintu penguasa, untuk mencari keridhaan dan keampunan mereka, lalu Islam dan Ummatnya menjadi korban pemaknaan atas dalil-dalil Syar’iyyah yang tidak pada tempatnya. Seperti perkataan Khalifah Ali Ra. ketika mensifati perilaku kaum Khawarij di masa lalu, “Kalimatul haq yuridu bihil bathil” (Kalimat yang benar, tetapi dipakai untuk membenarkan kebathilan).

Isu Khawarij dan Gerakan Islam

Seperti telah disampaikan di atas, isu Khawarij akhirnya menjadi primadona para penguasa di negeri-negeri Muslim untuk melindungi kekuasaannya. Tidak peduli, kepemimpinan mereka ditegakkan di atas ideologi nasionalisme, sekularisme, demokrasi, sosialisme, kapitalisme, atau komunisme. Siapapun ingin melindungi kekuasaannya, dengan segala cara yang memungkinkan. Seperti sebuah ungkapan terkenal, “The power tends to corrupt” (kekuasaan itu cenderung bersikap korup).

Termasuk ketika mulai bangkit gerakan Kebangkitan Islam (Shahwah Islamiyyah) di negeri-negeri Muslim, banyak penguasa bersikap keras terhadap gerakan-gerakan Islam yang membawa misi Ishlahul Ummah (perbaikan kehidupan Ummat). Hampir-hampir tidak ada satu pun Pemerintahan di Dunia Islam yang concern mendukung gerakan kebangkitan itu. Mereka lagi-lagi menempatkan para aktivis Islam sebagai pemberontak yang boleh ditindas sesuka hati. Na’udzubillah bi ‘Izzatillah wa Nashrihi min qaumiz zhalimin wa kaidihim.

Ketika di negeri-negeri Muslim menyebar fitnah nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, kapitalisme, demokrasi, dll. maka menjadi kewajiban Ummat Islam untuk mengatasi semua itu. Kita harus berusaha sekuat tenaga menyebarkan akidah dan fikrah Islami sebagai ganti atas semua fitnah itu. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Hendaklah ada di antara kalian segolongan Ummat yang berdakwah ke arah kebaikan, menyuruh berbuat makruf, dan mencegah perbuatan munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Ali Imran: 104). Juga sabda Nabi yang sangat terkenal, “Siapa saja yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, maka ia adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri Ra.).

Tersebarnya fitnah nasionalisme, sekularisme, sosialisme, kapitalisme, dll. adalah kemungkaran besar, sebab semua itu berdiri di atas ideologi materialisme yang menolak keberadaan Allah dan wewenang-Nya dalam kehidupan manusia. Singkat kata, semua itu adalah ideologi yang bertabrakan secara diametral dengan akidah Islam. Bahkan semua itu adalah kompetitor Islam di muka bumi.

Alangkah naif dan sangat ironis, ketika gerakan-gerakan Islam berusaha menata usaha untuk menyebarkan dakwah Islam dan mengembalikan ‘Izzah Ummat Islam, mereka berhadapan dengan penguasa-penguasa politik yang bersikap tangan besi. Alih-alih mendukung, mereka justru membombardir gerakan-gerakan Islam dengan tuduhan Khawarij, pemberontak, dan seterusnya. Padahal dalam ideologi para penguasa itu, mereka tidak mengenal sama sekali istilah Khawarij.

Apa yang diperjuangkan gerakan Islam bukan bentuk pembangkangan atau pemberontakan kepada Kepemimpinan Islami, sebab kepemimpinan seperti itu memang tidak ada (kecuali di negara-negara tertentu). Mereka bukan memberontak, tetapi menunaikan amar makruf nahi munkar, atau berjihad meninggikan Kalimat Allah di muka bumi. Alangkah jauhnya nilai vonis itu; pihak yang divonis berdiri di ujung Barat, sementara dalil untuk memvonisnya ada di ujung Timur. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Jika pemberontakan-pemberontakan di era sejarah Islam terhadap Imam kaum Muslimin tidak serta-merta pelakunya disebut Khawarij, sebab disana ada isteri Nabi, para Shahabat, ulama Salaf, dan kaum Muslimin. Lalu apa yang hendak kita katakan, terhadap gerakan-gerakan Islam masa kini yang memperjuangkan Syariat Islam secara damai, tidak melakukan pemberontakan, dalam rangka meninggikan Kalimat Allah di atas paham nasionalisme, sekularisme, sosialisme, kapitalisme, demokrasi, dan sebagainya? Apakah mereka layak disebut Khawarij? Ya Allah ya Karim, janganlah Engkau masukkan kami ke dalam golongan manusia yang Engkau sebut dalam Kitab-Mu ini, “Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak berakal.” (Yunus: 100).

Pelanggaran Terhadap Kaidah Fiqih

Kita telah tahu, bahwa Khalifah Ali Ra. telah memerangi Khawarij di Nahrawan. Hal ini kemudian menjadi pelajaran yang bisa dicontoh dalam memperlakukan para pengikut sekte Khawarij. Tetapi ada sebagian orang yang menyimpulkan tindakan Khalifah Ali itu secara tendensius. Mereka membuat kesimpulan, “Siapapun yang memberontak kepada penguasa, mereka Khawarij dan berhak diperangi sampai ke akar-akarnya.” Ini adalah pemikiran primitif yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari pemikiran Ummat Islam.

Sebenarnya, Islam sejak semula telah mengajarkan pemberontakan. Dengan pengertian, memberontak terhadap segala hal yang diibadahi selain Allah. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Maka hendaklah kalian mengibadahi Allah dan jauhilah thaghut.” (An Nahl: 36). Rasulullah Saw. sendiri yang mencontohkan sikap pemberontakan terhadap thaghut. Sejak di Makkah, beliau telah melancarkan serangan-serangan pemikiran terhadap sesembahan kaum Quraisy. Beliau bahkan menyuruh sebagian Shahabat hijrah ke Habasyah, beliau mencoba hijrah ke Thaif, beliau dan Bani Hasyim mengalami boikot berat, dan puncaknya beliau hijrah ke Madinah. Di mata kaum Quraisy, Nabi adalah seorang pemberontak terhadap keyakinan dan tradisi nenek-moyang mereka di Makkah.

Bahkan sebenarnya, Jihad fi Sabilillah dalam perluasan wilayah-wilayah Islam bisa dianggap sebagai pemberontakan juga, yaitu pemberontakan terhadap penguasa di wilayah-wilayah yang diduduki. Jika demikian pemahamannya, berarti tidak ada lagi yang tersisa dari ajaran agama ini, selain Khawarij dan Khawarij. Seluruhnya disebut Khawarij karena alasan memberontak penguasa yang sah.

Seharusnya, sebelum menetapkan hukum dalam suatu perkara, kita memperhatikan kaidah Ushul Fiqih seperti yang diuraikan oleh para ulama. Cara demikian sangat penting, agar kita bisa menempatkan hukum fiqih sesuai posisinya. Dalam kasus penghukuman Khawarij itu, setidaknya ada dua kaidah fiqih yang diabaikan, yaitu:

[Satu], kaidah yang berbunyi, “Laa tutimmul ahkam, illa bi wujudi syurutiha wa intifa’ mawani’iha” (tidak sempurna suatu hukum, melainkan dengan terpenuhinya syarat-syaratnya dan hilangnya rintangan-rintangannya).

Ketika Khalifah Ali Ra. memerangi kaum Khawarij, beliau telah memperhatikan semua syarat-syaratnya dan melenyapkan semua penghalang-penghalangnya. Syaratnya antara lain, disana telah ada pembangkangan, ada upaya memisahkan diri, melakukan takfir dan menghalalkan hak-hak kaum Muslimin, serta telah ada kekuatan bersenjata bersama sekte tersebut. Untuk melenyapkan penghalangnya, Khalifah Ali telah memberi waktu, menyampaikan hujjah, membujuk para pengikut Khawarij. Setelah itu, barulah ditempuh upaya memerangi Khawarij.

[Dua], kaidah yang berbunyi, “Al hukmu yaduru ma’a illatiha thabutan wa ‘adaman” (hukum itu tergantung faktor penyebabnya, apakah ia bersifat menguatkan atau melemahkan).

Dalam menghukumi tidak bisa hantam-krama, asal ada kecocokan langsung diberi vonis sesuka hati. Harus dilihat berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Contoh yang sangat terkenal, daging babi haram menurut Syariat. Namun dalam situasi darurat, ketika tidak ada pilihan makanan lain, daging itu boleh dimakan untuk bertahan hidup. Tetapi itu pun secukupnya saja. Begitu juga, sebelum shalat diwajibkan berwudhu. Namun jika seseorang sakit atau sulit menemukan air, wudhu bisa diganti tayammum. Pengamalan metode seperti ini sudah sangat populer.

Ketika di tengah-tengah Ummat Islam muncul peringatan besar terhadap bahaya Khawarij, hal itu ditujukan untuk melindungi Kepemimpinan Islami, melindungi agama Ummat, dan menjaga ketenangan hidup masyarakat. Namun jika dalam kenyataannya, isu itu dijadikan alasan untuk menindas kaum Muslimin, menghalangi upaya dakwah Islam, atau mempertahankan ideologi materialisme, jelas ia salah tempat. Kenyataan seperti itu tak lebih dari melindungi kepentingan politik dengan cara apapun yang memungkinkan. Sungguh menggelikan, jika ada penguasa sekuler yang menuduh aktivis dakwah Islam sebagai Khawarij. Mereka setiap hari merusak agama, kemudian ketika perbuatannya diingatkan agar diperbaiki, pihak yang mengingatkan malah dituduh sebagai Khawarij.

Khalifah Ali Ra. di masanya adalah seorang Amirul Mukminin. Beliau memimpin negeri Islam yang menegakkan Syariat Allah dan Rasul-Nya. Beliau telah berlaku adil dan memenuhi hak-hak Ummat. Tidak ada alasan sedikit pun untuk memberontak kepada beliau, sebab kebenaran ada di pihaknya. Seandainya pemberontakan itu akhirnya terjadi, belum tentu pelakunya disebut Khawarij. Kecuali jika mereka juga memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin dan mengkafirkan orang-orang di luar kelompoknya. Oleh karena itu, dalam Perang Jamal, Perang Shiffin, dan yang semisalnya, para pelakunya tidak disebut Khawarij. Khawarij hanya ada di Nahrawan yang terkumpul padanya sifat-sifat Khawarij secara sempurna.

Sebuah Perbandingan Hukum

Khawarij adalah salah satu sekte bid’ah dalam Islam. Para pelakunya disebut sesat dan menyesatkan. Pada suatu kondisi, kaum Khawarij boleh diperangi, jika telah terpenuhi syarat-syaratnya dengan sempurna. Kalau dibandingkan, fitnah kemurtadan (ar riddah) lebih berat dari fitnah Khawarij, sebab disana seseorang sudah sepenuhnya keluar dari lingkaran Islam. Sedangkan dalam kasus Khawarij, masih memungkinkan mereka sadar dan bertaubat dari kesesatannya. Kalau murtad, sudah jelas sanksi pidananya, sedangkan sanksi bagi kaum Khawarij membutuhkan ijtihad Imam kaum Muslimin dan para ulama.

Lalu lihatlah bagaimana Islam memperlakukan orang-orang murtad? Apakah mereka segera ditangkapi, dilucuti tubuhnya, lalu dipenggali lehernya seperti tukang jagal memotong leher hewan-hewan ternak? Seperti itukah?

Dalam kitab Mulakhas Fiqhiy bab Ahkamur Riddah, Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan mengatakan, “Siapa yang murtad dari jalan Islam, maka dia wajib diminta untuk bertaubat dan dipenjara selama tiga hari. Bisa jadi dia akan bertaubat, jika tidak dia dibunuh. Hal ini sesuai perkataan Khalifah Umar Ra. ketika sampai kepada beliau berita seseorang yang murtad dari Islam, lalu dipenggal lehernya sebelum diminta untuk bertaubat. Beliau berkata: ‘Mengapa tidak kalian penjarakan dia selama tiga hari, kalian beri dia makan setiap hari dengan roti besar, dan kalian minta dia untuk bertaubat? Siapa tahu dia akan bertaubat dan kembali kepada agama Allah. Ya Allah, aku tidak hadir dan tidak ridha (dengan hukuman itu) ketika ia sampai kepadaku.’” (HR. Imam Malik dari Al Muwattha’).

Selanjutnya Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Dan murtad itu tidak terjadi, melainkan karena syubhat (suatu keraguan), dan (syubhat) itu belum dihilangkan. Maka wajib dilakukan diskusi tentang pandangan yang dianggap meragukan itu. Adapun dalilnya tentang wajibnya membunuh pelaku murtad jika dia belum sadar (dari kemurtadannya) ialah perkataan Nabi Saw., “Siapa yang mengganti agamanya (dengan kekafiran), maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud). Demikian disebutkan dalam kitab Mulakhas Fiqhiy, jilid 2, hal. 452.

Untuk kasus murtad saja, perlakuan tidak semena-mena. Ia bertahap dan sangat menusiawi. Lalu bagaimana dengan tuduhan Khawarij yang membabi-buta, lalu menghasut penguasa agar segera membabat orang-orang tertentu yang dituduh Khawarij dan menyita aset-aset mereka? Apakah semua itu berdiri di atas Keadilan Islam? Ya, Anda semua bisa menjawabnya dengan sangat cerdas!

Lalu bagaimana pula dengan nasib para aktivis dakwah yang memperjuangkan Syariat Islam agar berlaku di bumi, agar ummat manusia mentaati Allah dan Rasul-Nya, lalu mereka dituduh Khawarij, dituduh anjing-anjing neraka, dengan tidak ada diskusi, tidak ada dialog, tidak ada tahapan apapun, selain tuduhan dan celaan? Jawabnya adalah: Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Konsekuensi Sangat Mengerikan

Khalifah Ali Ra. pernah memerangi Khawarij di Nahrawan sampai mereka tertumpas. Kemudian hal itu menjadi dalil bagi sebagian orang untuk menumpas siapapun yang melakukan pemberontakan terhadap penguasa. Jika cara pendalilan seperti ini diterima, maka kita akan menghadapi konsekuensi-konsekuensi sangat mengerikan. Hendaknya, siapapun yang memiliki dalil agar memeriksa kembali cara pendalilalannya, sebelum mereka jatuh dalam kehinaan.

Berikut berbagai konsekuensi berat jika pendalilan seperti di atas diterima, yaitu:

[Satu] Siapapun yang pernah memberontak dalam sejarah Islam otomatis akan dituduh sebagai Khawarij, termasuk isteri Nabi, para Shahabat, para ulama, pendiri Bani Umayyah, pendiri Bani Abbassiyyah, pendiri Khilafah Umawi di Barat, dan seterusnya. Termasuk konflik antar kerajaan-kerajaan dalam sejarah Islam, juga bisa disebut praktik Khawarij.

[Dua] Mereka menuduh Khalifah Ali Ra. serupa dengan para penguasa sekuler, nasionalis, sosialis, kapitalis, dll. yang ada di jaman ini. Mengapa demikian? Sebab Khalifah Ali memberantas Khawarij, sementara para penguasa modern itu menindas gerakan-gerakan Islam yang mereka tuduh sebagai Khawarij. Artinya, posisi Khalifah Ali tidak dianggap berbeda dengan posisi para penguasa sekuler, nasionalis, sosialis, kapitalis, dll. itu.

[Tiga] Menyamakan antara keimanan dan kekafiran. Sebuah negara yang tegak di atas Syariat Islam adalah negara Islami, dengan segala kelebihan dan kekurangan di dalamnya. Sebaliknya, negara yang tegak di atas landasan selain Syariat Islam adalah negara jahiliyyah. Maka tuduhan sebagai Khawarij secara mutlak terhadap semua penentang penguasa politik, meskipun penguasa itu tidak menegakkan Syariat Islam, hal itu sama saja dengan menyamakan keimanan dengan kekafiran, padahal perbedaan antara keduanya sangat jauh.

[Empat] Lenyapnya sistem Kepemimpinan Islami, sebab semua kepemimpinan yang ada sudah dianggap Islami, dengan bukti mereka berhak memerangi Khawarij yang sesat. Dari sisi lain, gerakan-gerakan Islam tidak pernah bisa mewujudkan perbaikan, sebab selalu ditumpas dan dituduh Khawarij oleh penguasa.

[Lima] Mereka meniadakan amar makruf nahi munkar terhadap segala jenis penguasa secara mutlak. Penguasa hanya boleh dinasehati secara diam-diam, tidak dipermalukan, ditarik tangannya ke tempat sepi, lalu dinasehati empat mata. Selain itu tidak boleh. Mereka tidak boleh dicela, didemo, dikritik, apalagi diganggu kekuasaannya. Mengapa mereka tidak sekalian saja menuduh Khawarij terhadap Rasulullah Saw. yang telah memberontak terhadap agama dan sistem jahiliyyah di Makkah? Na’udzubillah min dzalik. Padahal kata Nabi, agama ini nasehat, salah satunya untuk “aimmatil Muslimin wa ammatihim” (untuk imam-imam kaum Muslimin dan rakyat awamnya).

[Enam] Jika semua gerakan dakwah yang bertentangan dengan kepentingan penguasa disebut Khawarij, maka hal itu sama saja dengan menihilkan tujuan-tujuan mulia dari dakwah itu sendiri. Dakwah dianggap tidak berguna, tidak perlu, dan harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Artinya, peluang ke arah perbaikan kehidupan Ummat Islam ditutup serapat-rapatnya. Hanya para “ulama plat merah” yang boleh berdakwah, sebab mereka sepenuhnya “steril” dari Khawarij.

[Tujuh] Orang-orang kafir dari kalangan nasionalis, sekuler, sosialis, kapitalis, komunis, dsb. akan memperoleh senjata paling tangguh untuk melanggengkan kekafiran mereka, dan menghancurkan kekuatan Islam. Dengan isu Khawarij, siapapun yang memberontak akan diatasi, kalau perlu ditumpas dengan tangan besi. Hal ini sama saja dengan menghalalkan penumpahan darah Ummat Islam yang sebenarnya sangat dilindungi Syariat Islam.

[Delapan] Memecah-belah barisan kaum Muslimin dan menyebarkan kebingungan hebat di kalangan mereka. Betapa tidak, mereka menjadikan dalil-dalil agama untuk menunaikan tujuan-tujuan hawa nafsu. Sebagian Ummat mengatahui kebathilan mereka, dan sebagian lain hanya ikut-ikutan belaka. Hal ini berpotensi menimbulkan kebingungan dan gelisah.

[Sembilan] Tersebar fitnah hebat tentang posisi ajaran Al Qur’an dan para ulama yang berkecimpung di dalamnya. Pembelaan secara membabi-buta terhadap penguasa dengan dalil-dalil Syariat yang sangat dipaksakan, akan memunculkan penilaian buruk terhadap dakwah Islam. Masyarakat akan menilai para dai sebagai penjilat, menjual murah ayat-ayat Allah, dan selalu bersandingan dengan kepentingan penguasa. Hal ini akan memunculkan sikap kecewa, tidak simpati, sampai antipati terhadap dakwah Islam dan para dai, termasuk terhadap mereka yang tidak berdakwah dengan cara-cara tercela itu.

[Sepuluh] Mendiamkan kemungkaran sistem kekuasaan dan bersikap keras terhadap upaya-upaya perbaikan kehidupan Ummat adalah jenis pengkhianatan besar dalam Islam. Ia adalah usaha merobohkan Kalimat Allah, melestarikan kebatilan, dan menghalang manusia dari jalan-Nya. Hendaknya, orang-orang itu merasa takut, sebelum ketakutan menjadi tidak berguna baginya.

Demikianlah, banyak konsekuensi mengerikan ketika kita menerima pendalilan, bahwa setiap yang menentang penguasa adalah Khawarij, tidak peduli bagaimanapun keadaan penguasa itu. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari kesesatan. Amin.

Tentang Ide Pemberontakan

Jika diterangkan perkara ini sedemikian rupa, bukan berarti kita setuju dengan pemberontakan bersenjata atau menghasut Ummat Islam agar berbuat seperti itu. Bagaimanapun, kita tetap memilih cara dakwah Islam, memberikan penjelasan kepada Ummat, dan menghindari cara-cara kekerasan. Insya Allah, Syariat Islam masih memungkinkan diperjuangkan dengan cara-cara hikmah.

Saya teringat gerakan Hamas (Harakah Mujtama’ Islamiyyah) di Aljazair. Ia bukan Hamas di Palestina. Ketika berkecamuk konflik politik hebat di Aljazair sekitar akhir dan awal 90-an lalu, Hamas muncul dengan menawarkan konsep dialog. Mereka berpegang kepada sebuah ayat Al Qur’an, “Qul haatu burhanakum in kuntum shadiqin” (Katakanlah: ‘Datangkanlah bukti-bukti kalian, jika kalian adalah orang yang benar’. Al Baqarah: 111). Meskipun gerakan Hamas ini tidak efektif, tetapi spirit perdamaian atau dialognya perlu didukung.

Begitu pula, bagi para pendukung Syariat Islam, mereka tidak otomatis akan mengkafirkan penguasa, pejabat birokrasi, dan rakyat suatu negeri. Kita mengingkari sistem dan undang-undang sekuler (non Islam) yang diterapkan, sebab seorang Muslim tidak boleh ridha dengan semua itu. Ketika Anda melapangkan hati terhadap sistem sekuler, hal itu sama saja dengan melapangkan hati terhadap kekafiran. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Lagi pula kalau dipikir-pikir, apa manfaatnya mengkafirkan saudara sendiri? Islam tidak pernah dimenangkan dengan cara mengkafirkan orang-orang yang tidak boleh dikafirkan.

Demikian yang bisa dikemukakan. Semoga Allah memberi kemudahan, kelapangan, barakah, dan ampunan-Nya. Semoga Allah menuntun kita meniti jalan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Ardhillah, Syawal 1429 H.

AM. Waskito.
diambil dari situs Islam http://abisyakir.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar