Jumat, 06 Maret 2009

“ Mengikuti Jejak Langkah Para Shahabat (Salafush Ash-Shalih) “


Oleh: Ustadz Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy, Spd, I

“ Laqod taroktu fiikum amroini lan tadillu maa tamasaktum bihimaa ba’di abada, kitabulloh wa sunnati “. (HR. Ashabus Sunan).

“ Sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara, yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnahku “ .

Itulah diantara pesan Rasululloh, bahwa kita harus benar-benar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka kita tidak akan sesat selama-lamanya, tetapi jika kita melihat umat islam, diantara kelompok-kelompok islam, mereka juga berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi mengapa diantara mereka masih saja berselisih paham yang menyebabkan perpecahan, ternyata salah satu faktornya adalah mereka memahami Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pikirannya sendiri, dengan hawa nafsunya sendiri, sehingga mereka menjelaskan dan menafsirkan dengan pikirannya sendiri, tidak berdasarkan pemahaman yang diberikan Rosululloh kepada para shahabat, yang telah dijelaskan oleh para ulama besar dalam kitab-kitab mereka.

‘an Irbadibni Sariyyah Radhiyallohu anhum, qola Rosululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam: man yaish minkum fasayaroo ikhtilafan katsiran, fa’alaikum bisunnati wasunnati khulafaurrasyidin al mahdiyina min ba’di, addu alaiha binnawajizi, waiyyakum walmuhdasatil umuri, fainna kulla bid’atin dholalah “. (HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi, Hadist Hasan shahih, dll).

Dari Irbad bin Sariyyah Radhiyallohu anhum, Rosululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Barangsiapa diantara kalian yang hidup (berumur panjang), maka kelak akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku, gigitlah sunnah itu dengn gigi gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara baru karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.

Dari hadist tersebut Rosululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk berpegang teguh kepada sunnah Rosul dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelah Rosululloh. Siapakah Khulafaur Rasyidin itu ? merekalah para Shahabat yang berjuang bersama Rosululloh dalam membela dan mempertahankan Islam, merekalah yang mendapatkan didikan langsung dari Rasululloh. Alloh dan RosulNya telah memuji perjuangan mereka, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam hadist.

“ Dan generasi yang terdahulu dn pertama-tama (masuk Islam) diantara kaum muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh telah ridha kepada mereka dan merekapun ridha terhadap Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang agung “. (QS. At-Taubah: 100). “ Kalian adalah umat terbaik yang telah ditampilkan untuk manusia, kalian telah beramar maruf dan nahi munkar dan beriman kepada Alloh,…”. (QS. Ali Imran: 110). Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: Khoirulinnasi qorni, tsummaladzina yalunahum, tsummaladzina yalunahum, tsumma yajiu qoumun tasbiqu syahadah ahadihim yaminahu, wayaminuhu sayahadah “. (HR. Bukhari IV/189, Muslim VII/184-185, Ahmad I/424). “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in). sesudah itu akan dating kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya “.

Oleh karenanya kita harus benar-benar mengikuti jejak langkah Rosululloh dan para Shahabat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, janganlah kita memahaminya dengan akal pikiran sendiri yaitu dengan menerima sebagian dan menolak sebagian dari apa-apa yang dating dari Rosululloh. Sekarang bagaimanakah caranya untuk mengetahui pendapat-pendapat para Shahabat, yaitu dengan cara membaca kitab-kitab para Ulama yang Hafidz Al-Qur’an dan hapal beribu-ribu Hadist, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Hanafi, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam-imam lainnya yang mengikuti jejak langkah para shahabat. Seperti ucapan Indah Imam Malik “ Lan yasluhu akhiru hadzihil ummati illa bimaa soluha bihi awaluhaa “. “ Tidak akan baik keadaan umat terakhir ini kecuali dengan apa yang menjadi baik dengannya generasi pertamanya (shahabatnya) “.

Sangat jarang sekali kita temukan jaman sekarang ini orang yang benar-benar menghidupkan sunnah Rosul, apabila ada kita temukan di jaman sekarang ini mungkin mereka akan dianggap asing oleh masyarakat, hal ini telah dierangkan oleh Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam dalam Sabdanya: “ Innal Islaama badaa ghoriban, wasayaudu ghoriban kama badaa ghariban, fatuba lil ghuroba, qilla waman hum ya Rosululloh ? qola : alladzina yuslihuna idza fasadannas “. (Hadist mutawatir, dari Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dll). “ Sesungguhnya Islam dating dalam keadaan asing, dan akan kembli asing, siapakah mereka orang yang asing itu ya Rosululloh ? Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan ketika manusia rusak “.

Kita tidak perlu khawatir dengan celaan orang-orang, dalam menegakkan Sunnah ini, sebab Alloh akan menolong kita selama kita terus mencari keridhaan Alloh, Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Manil tamasa ridollahi bisuhktinnas, kafahullahu mu’natannas, wamnil tamasa ridonnasi bi sukhtillah, wakalhullahu ilannas “. (HR. Ibnu Hibban I/247, Tirmidzi 9/151, dari Aisyah Radhiyallohu’ Anha). “ Barangsiapa mencari ridho Alloh, dengan kemurkaan manusia, maka Alloh akan mencukupkan dari apa yang ada pada manusia, barangsiapa yang mencari ridho manusia, dengan kemurkaan Alloh, Alloh akan mewakilkannya (menyerahkannya) kepada manusia.

Alloh Azza wa Jalla akan memberikan gnjaran yang berlipat ganda kepada orang yang benar-benar melaksanakan Sunnah Rosululloh, Rasululloh Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Man sanna sunnatan hasanatan falahu ajruhu wa ujuru manittabahu min ghairi ayyanquso min ujurihim saiun, waman sanna sunnatan sayyiatan fa’alaihi wijruhu wa awjaru manittabaahu min ghairi ayyanquso min auzarihim saiun “. (HR. Muslim dengan Sanad Shahih). “ Barangsiapa yang melakukan Sunnah yang baik maka baginya pahala darinya dan dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun, dan barangsiapa yang melakukan Sunnah yang jelek maka baginya dosa darinya dan dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun “. Sekian, Semoga bermanfaat. Barakallohu’ Fiik, Wallohu’ Ta’ala A’lam bish Showab.

Dibuat Oleh:

Orang yang mengharap ampunan dan Ridha Raab-Nya

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy bin Shalih Abu Ramadhan, dkk.

(Direktur Dept. Dakwah dan Pendidikan Markaz Dakwah Islam Al-Qolam, Bekasi serta Penasehat IPM di Madrasah Aliyyah Muhammadiyah, Kota Bekasi)

Editor: Al-Akh Ovry K Adrianto Alumnus MAN 1 Kota Bekasi thn 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar