Minggu, 08 Maret 2009

MENGENAL JAMA’AH ANSHARUT TAUHID




Berjama’ah Perintah Allah dan Rasul-Nya

Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah memerintahkan ummat manusia agar hidup berjama’ah, berkumpul, saling meringankan dan melarang dari berpecah belah, bercerai berai, juga saling menjatuhkan satiu sama lainnya.

Banyak nash-nash Al Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam yang mengisyaratkan akan hal tersebut, diantaranya,

Firman Allah SWT :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dam jaganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran 3: 103)

Dalam menafsirkan ayat ini Al Imam Ibnu Katsir mengatakan : “… ayat ini mengandung perintah untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an, berjama’ah serta menggalang persatuan dan bersatu, serta larangan untuk bercerai berai”.

Beliau menambahkan lagi dengan menyitir hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda yang artinya :

Sesungguhnya Allah ridho kepada kalian akan tiga hal dan marah akan tiga hal juga. Ia ridho kepada kalian akan hal bahwa kalian beribadah kepada-Nya saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yang oleh Allah ditaqdirkan memegang urusanmu. Dan Ia marah kepada kalian akan hal, banyak bicara tanpa tahu sumber dari yang dibicarakan, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (HR. Muslim) (2

Rasulullah SAW juga bersabda :

Aku perintahkan kepada kalian agar berjama’ah dan jauhilah berfirqoh, maka sesungguhnya syaithon itu bersama seorang yang sendirian dan ia dari dua orang lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (mewahnya) Jannah, maka hendaknya ia berpegang kepada Jama’ah. (HR. Tirnidzi, Hakim, Ahmad, dan disepakati Adz Dzahabiy dan Ibnu Abi ‘Asim)

Dan masih banyak nash-nash lain yang menunjukkan kepada kita betapa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar kaum muslimin hidup berjama’ah dan tidak hidup sendiri-sendiri.

Pemahaman Ulama tentang Makna Jama’ah

Pemahaman tentang kehidupan berjama’ah oleh kalangan ulama diartikan menjadi dua bentuk :

1. Berjama’ah berarti berpegang teguh kepada nilai Al Haq (nilai kebenaran) dan tidak melepaskannya sama sekali.

2. Berjama’ah dalam arti hidup bersama dalam sebuah kelompok dengan mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin yang ditaati selagi memerintahkan kepada kebenaran.

Maka menurut pemahaman pertama, siapapun yang tidak berjama’ah pasti telah keluar dari ajaran Allah dan Rasul-Nya, atau dalam kata lain jika seseorang tidak mau berpegang kepada nilai-nilai Al Haq yang telah disepakati oleh kaum muslimin, maka secara otomatis dia telah terkeluar dari ajaran kebenaran dan berada di jalur yang bathil.

Begitu juga berjama’ah dalam artian yang kedua, merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, siapapun yang enggan malaksanakannya maka secara otomatis akan hidup nafsi-nafsi (sendiri-sendiri) yang berakibat fatal pada kekuatan dan kesatuan ummat.

Maka dari itu usaha untuk menyatukan ummat adalah hal yang penting, tetapi penyatuan itu hendaknya dibangun di atas pondasi kebenaran dan bukan mengikuti cara atau ajaran apapun selain dari Al Haq (Qur’an dan Sunnah) yang telah diturunkan bagi kita.

Jama’ah Ansharut Tauhid

Alhamdulillah, seiring dengan kesadaran akan kewajiban hidup berjama’ah sesuai pemahaman di atas, hari ini di Jakarta, tanggal 17 Ramadhan 1429 H/ 17 September 2008 M yang bertepatan dengan hari kemenangan kaum muslimin di medan Badar 1500 tahun yang lalu, kita deklarasikan berdirinya sebuah jama’ah yang InsyaAllah akan menjadi bagian dari wadah kaum muslimin untuk melaksanakan kewajiban berjama’ah. Sebuah jama’ah yang diberi nama Ansharut Tauhid yang telah berdiri sejak tanggal 24 Rajab 1429 H/ 27 Juli 2008 M di Solo oleh beberapa ulama dan aktifis gerakan dakwah dengan usaha sepenuh hati untuk menegakkan ajaran Ilahi dan menghidupkan sunnah nabi-Nya.

Jama’ah Ansharut Tauhid di bawah kepemimpinan Ust. Abu Bakar Ba’asyir bertekad bergerak dalam usaha untuk Iqomatudien (menegakkan Dienullah) menuju kesatuan jama’ah kaum muslimin sedunia dalam bentuknya yang syar’I Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin Nubuwwah (Khilafah yang lurus sesuai Manhaj Nabi SAW).

Jama’ah Ansharut Tauhid yang berpondasikan Aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih ini berdiri di atas asas Al Qur’ah dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih sebagai jaminan pemahaman yang bersih dan murni seperti yang telah dijaminkan oleh Nabi SAW dalam sabdanya :

Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian yang setelahnya kemudian yang setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap muslim tentu tahu benar bahwa para sahabat adalah orang-orang yang paling faham dengan ajaran Nabi SAW, karena mereka hidup bersama Nabi SAW, dan para tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi) adalah orang-orang yang paling banyak menimba ilmu dari para sahabat Nabi SAW dan generasi berikutnya adalah generasi yang masih sangat murni menerima ajaran islam dari generasi sebelumnya. Maka sudah sewajarnya untuk kita mengambil pemahaman tiga generasi itu sebagai acuan yang paling selamat untuk mengamalkan Dienullah.

Ketika Allah menjadikan Amar Ma’ruf Nahi munkar menjadi syarat utama agar ummat ini menjadi ummat yang terbaik dan menjadi saksi atas ummat-ummat yang lainnya, maka Ansharut Tauhid menjadikan Dakwah dan ber-Amar Ma’ruf Nahi Mungkar menjadi manhaj utama dalam perjuangannya kedepan, hingga pada saat yang telah memenuhi persyaratannya maka hijrah juga menjadi salah sebuah konsep perjuangan yang harus ditempuh serta mengibarkan bendera Jihad fi Sabilillah ke seantero dunia.

Semoga Ansharut Tauhid menjadi salah sebuah bintang yang berkilau di langit perjuangan ummat, yang terus memancarkan cahayanya untuk memerangi perjalanan ummat islam menuju kemenangan dunia akhirat. Sebagaimana manhaj Iqomatudien yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada ummatnya.

1) Di sini kami tidak mencantumkan semua nash-nash terkait dengan perintah berjama’ah dan sudah dimuat dalam buku “Jama’ah ketika Tiada Khilafah”

2) Tafsir Ibnu Katsir I/516-517

3) Baca Jama’atul Muslimin, Dr. Sholah Showiy

MARI BERGABUNG DENGAN JAMA’AH ANSHARUT TAUHID

ALLAH ‘Azza wa jalla dan rasul-Nya telah memerintahkan ummat manusia agar hidup berjamaah, berkumpul, saling membantu, saling meringankan dan melarang berpecah belah, bercerai berai, juga saling menjatuhkan satu sama lainya (semua nash terkait perintah berjamaah dapat di baca di buku “jama’ah ketika tiada khilafah”
banyak nash2 al qurannul karim dan hadist rasulallah SAW yg mengisyaratkan akan hal tersebut diantaranya, firman Allah dalam ” dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali(agama)Allah dan janganlah kamu bercerai berai,(Qs.Ali Imran:103)
dalam menafsirkan ayat ini Al imam ibnu katsir mengatakan : ayat ini mengandung perintah untuk berpegang teguh dengan al Quran, berjamaah serta menggalang persatuan dan bersatu serta larangan bercerai berai,
beliau menambahkan lagi dengan dengan menyitir hadist dari Abu huroiroh, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda yg artinya:
Sesungguhnya Allha ridho kepada kalian akan 3 hal dan marah akan 3 hal juga, Ia ridho kepada kalian akan hal : bahwa kalian beibadah hanya kepadaNya saja dan jangan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun agar kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai berai, dan agar kalian saling menasehati orang yg Allah di taqdirkan memegang urusanmu.Dan Ia marah kepada kalian akan hal ; BAnyak bicara tanpa tahu sumber dari yg di bicarakan,banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.(HR Muslim)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Aku perintakan kepada kalian agar berjama’ah dan jauhilah berfiqroh,maka sesungguhnya syaitan itu bersama seorang yg sendirian dan ia dari dua orang lebih jauh. Barang siapa yg menginginkan tengah-tengahnya (mewahnya) surga ,maka hendaklah ia berpegang kepada jama’ah” (tirmidzi,hakim,Ahmad dan di sepakati Adz Dzahabiy dan Ibnu abi ashim)
dan masih banyak nash2 lain yg menunjukkan kepada kita betapa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan agar kaum muslimin hidup berjama’ah dan tidak hidup sendiri-sendiri
PEMAHAMAN ULAMA TENTANG MAKNA JAMA’AH
pemahaman tentang kehidupan berjamaah oleh kalangan ulama di artikan menjadi dua bentuk:
  1. BErjamaah berarti berpegang teguh kepada nilai AL Haq(nilai kebenaran)dan tidak melepaskannya sama sekalli.
  2. Berjamaah dalam arti hidup bersama dalam suatu kelompok dengan mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin yg di taati selagi memerintahkan kepada kebenaran.
maka menurut apemahaman pertama siapapun yg tidak berjamaah pasti telah keluar dari ajaran Allah dan rasulnya, atau dalam kata lain jika seseorang tidak mau berpegang kepada nilai AlHaq yg telah di sepakati oleh kaum muslimin, maka secara otomatis dia telah keluar dari ajaran kebenaran dan berada di jalur yg bathil.
begitu juga berjamaah dalam artian yg ke 2, merupakan perintah Allah dan Rasul Nya , siapaun yg enggan melaksanakannya maka secara otomatis akan hidup nafsi2 (sendiri2)yg berakibat fatal pada kekuatan dan kesatuan umat.
maka dari itu usaha untuk menyatukan umat adalah hal yg penting, tetapi penyatuan itu hendaknya dibangun di atas pondasi kebenaran dan bukan mengikuti cara atau ajaran apapun selain dari al Haq (Quran dan Sunnah) yg telah di turunkan bagi kita.
JAMA’AH ANSHARUT TAUHID
Alhamdullah , seiring dengan kesadaran akan kewajiban hidup berjamaah sesuai kedua pemahaman diatas ,hari ini di jakarta ,tanggal 17 ramadhan 1429H/17 september 2008 M bertepatan dengan hari kemenangan kaum muslimin di medan badar sekitar 1500 tahun yg lalu, kita deklarasikan berdirinya sebuah jamaah yg Insya Allah akan menjadi bagiandari wadah kaum muslimin untuk melaksanakan kewajiban berjamaah. sebuah jamaah yg di beri nama Ansharut Tauhid yg telah berdiri sejak tanggal 24 rajab 1429/27 juli 2008 M di solo oleh beberapa Ulama dan aktifis gerakan dakwah dengan usaha sepenuh hati untuk mengekkan ajaran Ilahi dan menghidupkan sunnah nabi-Nya.
JAMA’AH ANSHARUT TAHID di bawah kepempinan Ust.Abu Bakar Baasyir berrtekad bergerak dalam usaha untuk iqomatudien (menegakkan Dienullah)menuju kesatuan jamaah kaum muslimin sedunia dalam bentuknya yg syar’i khilafah rasyidah.

Kembali (khilafah yg lurus sesuai manhaj Nabi SAW.)
Jama’ah Ansharut Tauhid yg berpondasikan aqidah Ahlu sunnah wal jama’ah sesuai dengan pemahaman salafusholih ini berdiri di atas al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafusholih sebagai jaminan pemaham paling bersih dan murni seperti yg di jaminkan oleh nabi SAW dalam sabdanya:
Sebaik baik zaman adalah zamanku,kemudian setelahnya kemudian yg setelahnya(HR.Bukhari dan Muslim)
setiap muslim tentu tahu benar bahwa para sahabat adalh oerang2 yg paling paham dengan ajaran Nabi SAW, karena mereka hidup bersama Nabi SAW ,dan para tabi’in (generasi sesudah sahabat nabi) adalah orang yg paling banyak menimba ilmu dari para sahabat Nabi SAW .Dan generasi berikutnya adalah generasi yg masih sangat murni menerima ajaran islam dari generasi sebelumnya.maka sudah sewajarnya untuk kita mengambil pemahaman tiga generasi itu sebagai acuan yg paling selamat untuk mengamalkan Dienullah.
Ketika Allah menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar menjadi syarat utama agar umat ini menjadi yg terbaik dan menjadi saksi atas umat lainnya ,maka Ansharut Tauhid menjadikan dakwah dan ber Amar ma’ruf Nahi Munkar mejadi manhaj utama dalam perjuangan nya kedepan,hingga pada saat yg telah memenuhi persyaratanya maka hijrah juga menjadi salah sebuah konsep perjuangan yg harus di tempuh serta mengibarkan bendera Jihad fi sabilillah ke seantero dunia.
semoga Ansharut Tauhid menjadi salah sebuah bintang yg berkilau di langit perjuangan umat , yg terus memancarkan cahaya-Nya untuk menerangi perjalanan umat islam menuju kemenangan dunia akherat .sebagaimana Iqomatudien yg di perintahkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya.
kini saatnya kita beramal berlandaskan syariat islam yg benar.
segera gabungkan diri dan komunitas anda untuk bersama sama menegakan syariat islam di muka bumi dalam wadah Jama’ah Ansharut Tauhid.

info :
1.Ustadz Haris AF (0813 1023 7775) jakarta/ Jawa barat.
2.Ustadz Afif AM (0813 2956 2924)Jawa tengah.
3.Ustadz Akhwan (0813 3407 0909)Jawa timur.

Diambil dari Situs Islam Oleh Al-akh Muhammad Lukman as-Sundawy di
http://my-littledream.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar