Jumat, 06 Maret 2009

” Menangkal Kristenisasi ”

” Menangkal Kristenisasi ”

Al-Ustadz Farid bin Achmad Ukbah, Lc, M.A. (Mudir Islamic Center Al-Islam, Bekasi)

Gejala pemurtadan yang dialami umat Islam di Indonesia mengalami eskalasi yang luar biasa. Hal itu ditandai dengan data statistik yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990. Tercatat bahwa dari 200.000.000 (dua ratus juta) jiwa, prosentasi umat Islam menjadi 87,3% (dibulatkan menjadi 90%). Sementara, umat Kristen protestan 6%, umat Katolik 3,6%, Hindu 1,8%, Budha 1% dan agama lain 0,3%. Kita tak boleh berbangga dengan besarnya angka-angka mayoritas di atas. Sebab, data-data terkini mencatat bahwa jumlah umat Islam menurun drastis dari 90% menjadi 75% (Tabloid SIAR edisi no. 43, tanggal 18-24 November 1999 hlm. 14).

Oleh karena itu, kita harus berusaha menyelamatkan mereka yang menjadi target pemurtadan tersebut. Semoga dengan mengungkapkan fakta dan data realitas pemurtadan yang dialami oleh umat Islam dapat kiranya memperoleh perhatian serius untuk membuat langkah-langkah kongkrit guna menangkalnya. Karena, membela agama adalah kewajiban dasar bagi setiap Muslim.

Tiga Serangkai

Kristenisasi, orientalisme, dan penjajahan menjadi tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya mempunyai tugas untuk mengahancurkan umat Islam. Kristenisasi bertugas untuk merusak akidah, orientalisme memporak-porandakan pemikiran Islam, dan penjajahan melumpuhkan kekuatan fisik. Mereka bersusah payah siang malam untuk memadamkan cahaya agama Allah. Namun, walau bagaimanapun akhirnya kemenangan berada di pihak Islam. Allah SWT menyatakan (yang artinya), “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sedang Allah tidak menghendaki, kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir benci.” (At-Taubah: 32).

Penjajahan fisik sudah berakhir di dunia Islam, namun tujuan penjajahan masih terus dicanangkan dan dijalankan oleh kristenisasi dan orientalisme. Hanya saja, sarananya berbeda. Sarana yang dipergunakan oleh musuh Islam, yang dimotori oleh jiwa kristiani, adalah planning budaya melalui lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, yayasan penyantun, bantuan-bantuan, media cetak, media elektronika dan sebagainya.

Pada tahun 1924, Raymond Lull berhasil menemui Paulus V. Dia mengajukan dua buku yang mencakup dua rancangan Lull untuk mengkristenkan umat Islam.

1. Pertama, menjadikan ilmu dan sekolahan sebagi sarana kristentisasi. 2. Kedua, kristenisasi umat Islam dengan kekerasan, jika tidak dapat dicapai dengan cara halus.

Adwin Balls, menyatakan dalam bukunya Sejarah Ringkas Misionarisasi, bahwa Raymond Lull yang berkebangsaan Spanyol, sebagai orang pertama yang mengemban kristenisasi di dunia Islam setelah kegagalan Perang Salib. Ia bersusah payah belajar bahasa Arab dan berkeliling dunia Islam untuk mendebat ulama Islam.

Tujuan utama misionaris zending adalah menyeret orang-orang Islam ke Kristen. Jika hal itu sulit dilakukan, akan ditempuh dengan bagaimana cara mengaburkan pengertian Islam bagi mereka. Dari segi religi, apakah mereka masuk Kristen atau tetap Islam, itu tidak penting. Dari segi politik, misioner sebagai antek-antek dan mata-mata penjajah Eropa demi merusak kesatuan Islam. Tujuan itu diperjelas oleh Pendeta Simon bahwa misionaris adalah faktor penting sebagai penghancur kekuatan persatuan umat Islam.

Negara yang pertama kali mengembangkan kristentisasi adalah Belanda, yang pernah menjajah Indonesia dan memecah Jawa menjadi kawasan-kawasan yang dibangun untuk gereja dan sekolahan. Kemudian langkah tersebut diikuti oleh negara Eropa lainnya. Memang, musuh-musuh Islam sangat memperhitungkan kekuatan Islam, melihat pengikut yang demikian cepat bertambah banyak, sehingga apabila mereka menjadi satu di bawah satu kesatuan bendera untuk menuju cita-cita Islam, akan menjadi momok bagi dunia. Maka, upaya pemecahannya terus dilakukan untuk menghindarkan titik temu tersebut, di samping memang ajaran kitab suci Kristen mengharuskan penyebaran agama.

Strategi penyebaran ditujukan pada sasaran non Cristian world (negara selain Kristen) dan non Roman Catholic world (negara selain Katolik Roma), termasuk warga Kristen yang bukan di bawah pengaruh Paulus, disebut juga Schismatics dan Heretucs. Di dunia terdapat dua blok gereja Katolik: Terra Catholica (bagian negara-negara Katolik) dan Terra Missions (bagian negara-negara yang di bawah misionaris). Selain itu, terdapat juga dua macam organisasi misionaris yang dinamakan Mission Aid Societies dan Mission Zending Societies.

Pergolakan pengaruh di dunia memang cukup terasa, sehingga menjadikan kalangan pemimpin menunjukkan kekhawatirannya, terutama pada pengaruh Islam, sebagaimana pernyataan Sowrens Brown, “Banyak para pemimpin yang khawatir akan bahaya berbagai bangsa, tapi kekhawatiran itu sebenarnya kurang beralasan. Mereka takut pada Yahudi, Jepang, dan Komunis. Padahal, sebenarnya Yahudi adalah sahabat kita, komunis adalah sindikat kita, dan Jepang, masih ada negara-negara demokrat yang akan melawannya. Tapi, kami melihat bahaya sebenarnya itu terdapat pada Islam.”

Jadi, Islam selalu dikerumuni oleh musuh dari segala arah. Dari dalam digerogoti oleh munafikin (kelompok hipokrat), fasikin (kelompok yang menamakan dirinya Islam tapi mereka meninggalkannya), dan mudhallibin (kelompok yang berafiliasi pada Islam tapi merobek-robek dari dalam), misalnya, Ahmadiyah, Islam Jama’ah, kelompok tarekat, dan lain-lain). Sedangkan dari luar, Islam terus dicurigai dan diserbu oleh kafirin (kelompok di luar Islam yang selalu memeranginya, seperti Komunis, Zionis, dan lain-lainnya). Tidak ketinggalan juga Kristen, yang menjadikan Islam sebagai musuh dalam medan. Itulah yang mejadikan Mr. Bills menerangkan bagaimana perkembangan kristernisasi di Afrika. Agama Islam merupakan penghambat utama terhadap kemajuan kristenisaisi di Afrika, dan hanya Muslimlah (orang-orang Islam saja) musuh paling tengik.

Demikian itu merupakan tujuan di dunia luar. Sekarang marilah kita melihat lebih dekat lagi mengenai perkembangan kristenisasi di Indonesia. Dalam wawancara dengan majalah Al-Ummah tahun 1986, Dr. Fuad Fachruddin menyebutkan, “Menurut statistik Dewan Gereja Indonesia (DGI), di Indonesia terdapat 10.000 gereja Protestan, 4.000 pendeta Protestan, dan 9.000 misioner. Katolik mempunyai 8.000 gereja, 3.000 pendeta, dan 6.000 misioner.”

Sebagai bahan contoh, berdasarkan pada data Departemen Agama (Depag) tahun 1997, jumlah pendeta Kristen di Provinsi Irian (Papua) sebanyak 9.564 orang, pendeta Katolik 541 orang dan dai Muslim sebanyak 2.489 orang. Sementara, jumlah gereja Kristen mencapai 5.128 buah, gereja Katolik 1.280 dan masjid mencapai 1.169 buah.

Selanjutnya, kita ikuti penjelasan Prof. Dr. Rasyidi dalam konferensi yang telah diadakan pada tahun 1968 di Tokyo. Beliau mengemukakan realita yang dihadapi umat Islam di Indonesia, yang buruknya keadaan ekonomi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dimanfaatkan oleh pihak misionaris zending untuk mengkristenkan orang-orang Islam Indonesia, dengan cara-cara berikut.

* Gereja dibangun di tengah-tengah desa Islam dan daerah pertanian. * Misionaris membeli tanah di daerah strategis dengan harga tinggi (berlipat dua, bahkan tiga) dengan tujuan membangun gereja. * Bila pemilik tidak rela menjualnya, maka seseorang dikirim untuk membeli atas nama pribadi, kemudian dijual kepada pihak misionaris. * Gereja membagikan beras, pakaian, dan uang. * Gereja meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan, dengan syarat mau menyekolahkan anaknya ke sekolah misionaris. * Para bekas anggota partai Komunis yang sedang mendekam di penjara, didekati oleh misioner untuk mengajukan bantuan beras dan keuangan kepada famili mereka secara kontinyu, selama mereka mau menandatangani perjanjian bahwa mereka masuk Katolik. * Para pekerja perusahaan tekstil yang kehilangan pekerjaannya ditawari bantuan seperti beras dan uang. * Rumah-rumah besar milik orang kaya yang meninggal dunia dan ditinggalkan untuk ahli waris dibeli oleh misionaris. * Beberapa toko dan tempat tinggal diubah menjadi gereja. * Klub, ruang baca, perpustakaan, kolam renang, dan lapangan olahraga dibangun untuk pemuda non-Kristen. * Wanita-wanita Kristen berusaha merayu pemuda Muslim. * Pemuda-pemuda Kristen, berusaha merayu wanita Muslim. * Pemuda-pemuda Kristen membujuk pemuda-pemuda Muslim agar mau menonton bioskop dan datang ke tempat-tempat rekreasi untuk memberi rangsangan, kemudian diajak menemani mereka ke gereja. * Guru-guru agama Islam yang kebetulan menerangkan Al-Qur’an yang berhubungan dengan Yesus ditangkap oleh pejabat Kristen atau diadukan kepada pemerintah oleh pemuda-pemuda Kristen. * Rumah-rumah keluarga Muslim, termasuk rumah saya (Rasyidi) didatangi misionaris yang mendesak agar mau mendengarkan keterangan kepercayaan Kristen. (diambil dari The One World Only).

Demikianlah sekilas tentang gambaran mengenai kristenisasi, baik di dunia luar maupun di Indonesia.

Solusi Menghadapi Kristenisasi

* Menguatkan kesadaran berislam. * Meningkatkan ukhuwah Islamiyah. * Memberdayakan lembaga-lembaga Islam: ormas, pendidikan, pesantren, perguruan tinggi, dll. * Mengintensifkan kajian dan pelatihan tentang bahaya kristenisasi dan cara penangkalannya bagi aktivis dakwah. * Mengirim para dai yang sudah dibekali pengetahuan yang cukup tentang Islam dan tantangannya ke daerah-daerah terpencil, terutama daerah basis kristenisasi. * Terus-menerus memberi penyadaran kepada umat Islam akan bahaya kristenisasi lewat berbagai media, baik elektronik, cetak, maupun pengajian, dan majlis taklim. * Menyelenggarakan lembaga khusus untuk kaderisasi penangkalan. * Selalu mengadakan studi lapangan tentang kondisi umat dan perkembangan kristenisasi dengan membuka berbagai macam termasuk berkedok Islam. * Mengefektifkan para muhtaddin atau mualaf sebagai counter attack kepada gerakan-gerakan kristenisasi dan membuat jaringan bagi mereka bersama dengan para kristolog Muslim. * Mengungkap fakta dan data kristenisasi kepada semua pihak terutama kepada para pejabat Muslim dengan metode power point agar mereka terbelalak atas kerja mereka. * Mengantisipasi gerakan penyusunan kekuatan kristenisasi melalui laskar-laskar mereka, seperti laskar kristenisasi, laskar mahoni, dan lain-lain. * Menggalang kekuatan ulama dalam menangkal kristenisasi, termasuk kebangkitan internasional dunia Islam.

Wallahu a’lam. diambil dari situs: http://www.alislamu.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar