Sabtu, 07 Maret 2009

Mayarakat Islam dan Masyarakat Jahiliyyah

Ciri terpokok dan paling mendasar dari masyarakat Islam adalah masyarakat tersebut berdiri di atas dasar kalimat لا إله إلا الله , yaitu pengabdian dan ketertundukan mutlak hanya kepada Allah. لا إله إلا الله menjadi ciri yang meresap pada pori-pori perasaannya, serta menjadi kenyataan yang riil dalam segala dimensi kehidupannya. Ia adalah masyarakat yang mengarahkan peribadatan kepada Allah semata dalam wujudnya yang lengkap: aqidah, upacara peribadatan (ibadah ritual) serta hukum atau undang-undang yang mengatur semua aspek kehidupannya.

Pengabdian kepada Allah dalam wujud aqidah adalah menyakini seluruh yang datang dari Allah dalam soal keyakinan. Sifat-sifat Allah, termasuk ke-Esaan-Nya dalam Uluhiyyah (ketuhanan), eksistensi malaikat-malaikat-Nya, terjadinya Hari Kiamat, adanya qodlo’ dan qodar, adalah sebagian sesuatu yang Allah beritakan melalui Rasul-Nya, baik sebagai Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Karena itu, hal-hal tersebut harus diyakini sebagai konsekwensi dari kalimat لا إله إلا الله .

Masyarakat yang tidak menyakininya, baik semuanya ataupun sebagiannya, adalah masyarakat yang tidak tegak di atas لا إله إلا الله ; artinya, ia adalah masyarakat jahiliyah, masyarakat kafir. Contoh dari masyarakat ini adalah masyarakat Quraisy sebelum datangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hindu, Budha, komunis, atheis dan sebagian para pengaku Islam yang memberikan sifat ketuhanan kepada keris, pohon, kuburan, arwah, barang-barang ‘keramat’, orang-orang yang dimitoskan, dan makhluk-makhluk lainnya. Bahkan, ketergolongan masyarakat Kristen dalam masyarakat jahiliyyah di antaranya juga dari segi ini, sebab mereka meyakini ketuhanan pada diri Yesus.

Pada segi upacara peribadatan, masyarakat Islam adalah masyarakat yang memperuntukkan segala macam ibadah ritual yang Allah perintahkan dengan cara-cara yang sudah Ia tentukan, hanya kepada Allah semata. Masyarakat yang memperuntukkan ibadah-ibadah ritual, baik yang ia buat-buat sendiri maupun yang ia adobsi dari cara yang Allah tetapkan, untuk selain Allah atau menyekutukan Allah dengan lain-Nya dalam hal ini, adalah masyarakat jahiliyah. Masyarakat paganis adalah masyarakat jahiliyah dari segi ini. Orang-orang yang memberikan sesajen sebagai pemujaan kepada barang-barang tertentu, juga termasuk dalam kategori ini, meskipun di saat yang sama mereka mengaku sebagai orang-orang Islam dan melakukan sebagian ajarannya.

Dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya, pengabdian masyarakat Islam kepada Allah semata adalah dalam wujud menerapkan hukum dan undang-undangnya secara menyeluruh dengan murni, tanpa dicampur unsur-unsur hawa nafsu thaghut. Dengan kata lain, ia adalah masyarakat yang dalam segala aspek kehidupannya hanya mau di atur oleh hukum Allah (syari’at Islam). Hukum Allah sajalah yang berdaulat dan berlaku dalam segala bidang: politik, ekonomi, sosial, kemiliteran bahkan individu-individu mereka.

Masyarakat yang tidak tunduk dan berhukum kepada hukum Allah (syari’at Islam), meski hanya dalam satu perkara saja, atau bahkan tunduk kepada undang-undang buatan manusia, adat atau tradisi yang bertentangan dengan hukum Allah adalah masyarakat yang tidak mengabdi kepada Allah semata. Ia adalah masyarakat jahiliyyah, meskipun nama anggota-anggota masyarakat itu adalah Ahmad, Muhammad, Ali, dsb, kendatipun ribuan masjid yang selalu mereka datangi di setiap waktu bertebaran di tengah-tengah mereka, walaupun adzan berkumandang di sana-sini.

Apabila kita perhatikan wajah dunia saat ini, akan kita dapati bahwa mayoritas kumpulan manusia yang kini orang menyebutnya sebagai “umat Islam” pada hakekatnya bukan masyarakat Islam, tapi masyarakat jahiliyyah! Sebab, secara suka rela dan tanpa perlawanan, kehidupan mereka diatur oleh peraturan produk manusia yang dibuat dengan bumbu hawa nafsu, baik sebagai hukum negara maupun ketentuan, adat dan tradisi yang tidak tertulis secara formal. Hukum Allah tidak tegak ditengah-tengah mereka, meskipun penyebab awalnya adalah penguasa tiran murtad. Banyak di antara kumpulan-kumpulan manusia itu yang memandang bahwa syari’at Islam itu kolot, terbelakang, dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Dalam keadaan terbaik, masyarakat itu tidak mempedulikan apakah hukum Allah yang mengatur kehidupannya ataukah hukum jahiliyah buatan manusia sesama mereka. Mereka merasa tidak memiliki keharusan untuk hanya berhukum kepada hukum Allah saja. Mereka rela apabila peraturan buatan sesama mereka dijadikan hukum untuk mengatur jiwa, harta dan kehormatan manusia. Mereka rela untuk mengabdi kepada thoghut dalam wujud berhukum kepada hukumnya dan mereka pun akhirnya menjadi masyarakat jahiliyyah, keluar dari Islam!

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوْفِنُوْنَ!!

Artinya:

Apakah hukum jahiliyyah yang mereka harapkan? Adakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ أمَنُوْا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَتَحَاكَمُوْا إِلَى الطَّاغُوْتِ وَ قَدُ أُمِرُوْا أَنْ يَكْفُرُوْا بِهِ وَ يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيْدًا

Artinya:

Tidakkah kau lihat orang-orang yang mengaku-mengaku bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu (kitab-kitab terdahulu), mereka ingin berhukum kepada thaghut padahal mereka diperintah untuk kufur kepadanya. Dan syaithon ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.

فَلاَ وَ رَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْافِيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya:

Dan tidaklah, demi pemeliharamu, tidaklah mereka beriman sampai mereka berhukum kepadamu ( wahai Muhammad sas.) pada apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati kesempitan pada diri-diri mereka dari apa yang kau putuskan dan mereka menyerah dengan sebenar-benar penyerahan.

Di tengah-tengah masyarakat jahiliyah tersebut, dengan izin Allah masih tersisa individu-inidvidu muslim yang tidak terkontaminasi dengan kejahiliyahan dalam segala bentuknya yang ada saat ini. Di antara mereka ada pionir-pionir yang tangguh dalam memperjuangkan berdirinya masyarakat Islam yang telah lama tiada. Mereka adalah para mujahid dan da’i yang jujur.

Masa depan ada di tangan mereka, pionir-pionir itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar