Jumat, 06 Maret 2009

Masalah Tarekat Tasawuf

Masalah Tarekat Tasawuf
Oleh: Hartono Ahmad Jaiz

Akibat Menyelisihi Sunnah

عَنْ أَبِي رَبَاحٍ عن سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أنه رأى رَجُلاً يُصَلِّي بَعْدَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ أَكْثَرَ مِنْ رَّكْعَتَيْنِ يُكْثِرُ فِيْهَا الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ فَنَهَاهُ فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلاَةِ قَالَ لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ اللَّهُ بِخِلاَفِ السُّنَّةِ

Riwayat dari Abi Rabah, dari Sa’id bin Musayyab, bahwa dia melihat seorang lelaki shalat setelah terbit fajar, lebih banyak dari dua raka’at, dia memperbanyak ruku’ dan sujud, maka Sa’id bin Musayyab melarangnya, lalu orang itu bertanya: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? Sa’id menjawab: “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena (kamu) menyelisihi sunnah.” (1)


Ini termasuk jawaban bagus dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah, yaitu senjata yang kuat menghadapi pelaku bid’ah, yang menganggap baik banyaknya bid’ah, dengan nama dzikir dan shalat, kemudian mereka mengingkari ahlis sunnah, dengan tuduhan tidak doyan dzikir dan shalat. Padahal ahlis sunnah itu sebenarnya hanyalah mengingkari penyimpangan mereka dari sunnah dalam dzikir, shalat, dan sebagainya. (2)

Kesesatan di Kampung dan di Kampus


Kenapa kebiasaan masyarakat tradisional berupa Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan ini ditulis dan disoroti? Bukankah yang perlu dilanjutkan adalah penulisan seperti pembahasan yang menukik pada kondisi kampus perguruan tinggi Islam (IAIN – Institut Agama Islam Negeri) se-Indonesia yang gejalanya sudah mengkhawatirkan (bahkan membahayakan) dalam perkembangan Islam?


Ya, memang benar. Mengenai IAIN itu, buku yang saya tulis pun judulnya mencolok, yaitu Ada Pemurtadan di IAIN. Dan sebelumnya lagi, tak kalah serunya, yaitu upaya membabat virus liberal yang mengganas, dalam judul buku Menangkal Bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal) dan FLA (Fiqih Lintas Agama).


Pertanyaannya mungkin, kenapa dari membicarakan masalah yang berbahaya di kampus perguruan tinggi Islam, tahu-tahu sekarang membahas masalah kebiasaan yang dilakukan di kampung-kampung, yaitu tahlilan dan maulidan. Ini berarti dari kampus turun ke kampung.

Pembaca yang budiman, justru sebenarnya dengan ditulisnya Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan ini adalah untuk menjelaskan alur dan jaringan yang berkait berkelindan antara yang sesat-sesat di kampus atau di angkasa pemikiran dengan yang di kampung-kampung di areal tradisi sehari-hari. Coba kita tengok, bagaimana ketika Ahmad Dhani (keturunan Yahudi ), (3) penyanyi dari group Band Dewa di Jakarta, dia “terpeleset” dalam kasus karpet yang hiasannya kaligrafi lafal Allah (yang katanya sudah dimodifikasi) dijadikan alas dalam pentas nyanyi. Hingga karpet berhiasan kaligrafi lafal Allah itu dia injak-injak. Maka Dhani diprotes orang, tahun 2005. (4) Ternyata, dalam kasus itu, Ahmad Dhani –yang menjajakan faham-faham tasawuf sesat di antaranya faham hulul (meleburnya diri dengan Tuhan) dari tokoh tasawuf sesat Al-Hallaj lewat nyanyiannya (5) itu—mengaku bahwa Dhani hanya percaya kepada dua ulama. Yang satu dari kalangan kampus IAIN dan pemikir Islam, yaitu Prof Dr Quraish Shihab, dan yang lainnya dari kalangan tradisional yaitu Gus Dur atau Abdurrahman Wahid. (6)


Jangan ditanya lagi, apakah Gus Dur/ Abdurrahman Wahid tokoh NU (Nahdlatul Ulama) yang berfaham liberal dan suka nyeleneh (aneh) itu bagaimana sikapnya terhadap Dhani. Dhani pun minta perlindungan dan pembelaan ke Gus Dur. Tidak salah alamat itu Dhani. Siapa sih yang tidak merujuk ke Gus Dur, kalau mengenai hal yang berseberangan dengan Islam. Lha wong Lia Eden yang jelas-jelas mengaku sebagai isteri Malaikat Jibril (tahun 2005), bahkan berani menghalalkan daging babi yang jelas diharamkan Allah Subhanahu Wata’ala (kemudian divonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Juni 2006) saja masih dibela oleh Gus Dur, di TVRI ketika berdialog dengan Husein Umar (almarhum) Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dengan dipandu Salim Said, 2006. Gus Dur saat itu justru mengkritik pemerintah, dia anggap terlalu mencampuri urusan agama. Tampaknya, seolah kalau yang sekiranya berseberangan dengan Islam, seperti adat kemusyrikan yang telah terkubur misalnya ruwatan mau dihidup-hidupkan kembali, sepertinya tidak afhdol kalau panitianya tidak mendatangkan Gus Dur. Ternyata benar, Februari 2006, Gus Dur mendatangi upacara ruwatan disertai sesajen kepada syetan di Yogyakarta. Na’udzubillah min dzaalik!


Maaf, ini sejenak berbelok ke Gus Dur.


Ya, ini sekadar contoh saja. Bahwa masalah-masalah yang berseberangan dengan Islam, berkait berkelindan. Ada yang di kampus-kampus, ada yang di dunia persangkresan (musik) yang nyanyiannya menyebar ke masyarakat umum, dan ada yang dari tokoh kaum tradisionalis. Di kala ada yang terpeleset dan agak kentara dalam melecehkan Islam atau merusak Islam, maka mereka bertolong menolong untuk menyelamatkan siapa yang lagi mau tercebur.


Oleh karena itu, pembahasan tentang tarekat tasawuf ini justru merupakan alur sambungan dengan buku-buku yang berbicara tentang pemikiran berbahaya di kampus perguruan tinggi Islam. Memang kelihatannya, buku Ada Pemurtadan di IAIN dan Menangkal Bahaya JIL & FLA itu menyangkut dunia kampus dan pemikiran. Sedang Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan ini di dunia perkampungan. Tetapi sebenarnya ada arus bolak-balik antara kampus, pemikiran, dan kampung; di sana ada orang-orang dari praktisi tarekat tasawuf dan ada yang dari kampus dan berpikiran sekuler, tetapi alur kesemrawutannya sama, dan rujukannya sama, yaitu tasawuf sesat.


Untuk menggambarkan satu jalur yang “pas” seperti itu, perlu bukti-bukti yang nyata lagi kongkret. Tidak bisa kita main tuduh atau ngarang semau-maunya. Di sinilah letak kesulitannya, untuk mewujudkan satu gambaran yang hakekatnya sama (yaitu sama-sama menyimpang dan tak sesuai dengan Islam) tetapi secara penampilan dan lokasinya berbeda. Yang satu berada di kampus-kampus dan dunianya pemikiran, yang satunya lagi di kampung-kampung dalam dunia praktis tradisional. Yang satu selaku pelaku yang sadar dan dengan sengaja karena menjalani proyek dengan dana kemungkinan dari orang kafir dan semacamnya, sedang yang lain menjadi obyek dan hanya terbawa arus kesesatan.

Ratusan Tahun Sesudah Wafatnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam Tarekat, tasawuf, tahlilan, dan maulidan itu semua timbul sesudah ratusan tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Tentang munculnya tarekat itu sendiri setelah 500 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Karena awal munculnya di zaman Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang hidup tahun 470-561H/ 1077-1166M. Tarekat-tarekat lainnya baru muncul sesudahnya, dan Tarekat Qadiriyah (dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) itu sendiri mengalami penambahan dengan dzikir-dzikir yang mungkar dan batil, mengandung keyakinan wihdatul wujud, yang bertentangan dengan Tauhid dalam Islam. Ketika dicocokkan dan dirujuk kepada landasan-landasan Islam yang sudah baku terutama Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang diwarisi oleh para sahabat, tabi’ein dan tabi’it tabi’ien, ternyata tidak ketemu.

Dari sisi lain, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan, dalam hadits yang shahih ditegaskan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.

“Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, “Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnah-nya.”) “Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan, maka orang-orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang yang memerangi mereka dengan lisannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.” (HR. Imam Muslim)


Ada yang perlu digaris-bawahi, sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam itu, dalam kaitan pembahasan ini. Ungkapan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang artinya kurang lebih: “Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan,” itu terbukti nyata di sekitar kita. Betapa tidak. Kita mengatakan bahwa kita adalah golongan yang menyebut diri Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang artinya pengikut Sunnah (Al-Qur’an dan As- Sunnah) dan jama’ah (yang tidak memisahkan diri dari Al-Qur’an dan As-Sunnah).


Perkataan kita yang kita bawa-bawa itu, apakah benar, bahwa yang kita lakukan itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah? Bila kenyataannya tidak, maka terkena hadits itu, yaitu ‘mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan‘.


Di samping itu, kita juga mengatakan, bahwa kita mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, bahkan kata-kata ‘cinta Rasul’ sering jadi slogan. Tetapi, benarkah apa yang kita katakan itu benar-benar kita lakukan? Kalau benar, berarti apa-apa yang kita lakukan adalah sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Karena cinta itu harus diujudkan dalam perilaku berupa mengikuti/ ittiba’. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imraan/ 3: 31).


Mencintai Allah, caranya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Demikian pula mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah mengikutinya. Karena dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam itu berarti sudah mentaati Allah Subhanahu wata’ala.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS An-Nisaa’: 80).

Bagaimana kalau mulutnya bilang ‘cinta’ tetapi tangan (perilakunya) berpa-ling? Itulah perilaku yang telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ‘mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan’. Lebih dari itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memperingatkan, ‘dan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan.’ Ini jelas sekali. Yang dikerjakan justru hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, tidak diperintahkan pula oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Dalam pembahasan ini, para pengamal tarekat, tasawuf, tahlilan dan maulidan itu memberlakukan apa-apa yang dijadikan amalan, sedang amalan itu timbulnya sudah ratusan tahun setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan sudah dijelaskan oleh para ulama bahwa tidak ada perintahnya, bahkan tak sesuai dengan perintah. Selanjutnya, Nabi Shallallahu alaihi wasallam berpesan wanti-wanti: ‘maka orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang yang memerangi mereka dengan lisannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun.”


Oleh karena itu, mudah-mudahan tulisan ini sebagai salah satu bukti untuk tidak termasuk dalam kategori yang terakhir itu. Sedangkan terhadap pihak-pihak yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, maka Allah Subhanahu wata’ala firmankan kepada Rasul-Nya,

وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS An-Nisaa’: 80).

Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan da’wahnya. Beliau pun diberi wahyu oleh Allah Subhanahu wata’ala secara sempurna. Hingga Bagaimana nasib orang-orang yang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dianggap sebagai umatnya pun ketika mereka menyelisihinya sepeninggalnya, maka mereka terusir dari telaga di akherat. Secara jelas Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menggambarkan nasib orang-orang yang menyelisihinya, dalam hadits-hadits sahih sebagai berikut:

140 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبَرَةَ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلاً لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أََلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلاَ لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلاَ هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا . ا .

140 Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anh , ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah pergi ke kawasan pekuburan lalu bersabda:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ

Aku sangat gembira sekiranya kita dapat melihat saudara-saudara kita. Para Sahabat bertanya: Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Kamu semua adalah sahabatku, saudara-saudara kita ialah mereka yang belum wujud lagi. Sahabat bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang belum lagi wujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Apakah pendapat kamu sekiranya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Adakah dia akan mengenali kudanya itu? Para Sahabat menjawab: Sudah tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabda lagi: Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudhu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi untuk datang ke telagaku seperti dihalaunya unta-unta sesat. Aku memanggil mereka: Kemarilah kamu semua. Maka dikatakan, bahawasanya mereka telah menukar ajaranmu selepas engkau wafat. Maka aku katakan: Pergilah jauh-jauh dari sini (HR Al-Bukhari dan Muslim).

222 حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ) ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ . .

222 Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anh , ia berkata: Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersama-sama kami, tiba-tiba beliau tersengguk-sengguk seperti mengantuk, kemudian beliau mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya: Apakah yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Baru saja aku dituruni satu surat, lalu beliau membaca:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ )

Yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Kemudian beliau bertanya: Kamu tahukah, apa yang dimaksudkan dengan al-Kautsar? Kami menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Ia adalah sungai yang dijanjikan oleh Tuhanku, yang mempunyai berbagai kebaikan. Yaitu berbentuk sebuah kolam yang dikunjungi oleh umatku pada Hari Kiamat nanti, untuk mengambil airnya. Disediakan gayung- gayung sebanyak bintang di langit. Kemudian salah seorang dari umatku ditarik dari kumpulan mereka. Lantas aku berkata: Wahai Tuhanku, dia adalah salah seorang umatku. Lalu Allah berfirman: Engkau tidak mengetahui, apa yang telah dilakukannya setelah wafatmu (HR Al-Bukhari dan Muslim).

1342 حَدِيثُ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ وَسَيُؤْخَذُ أُنَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ أَمَا شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا بَعْدَكَ يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ قَالَ فَكَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَرْجِعَ عَلَى أَعْقَابِنَا أَوْ أَنْ نُفْتَنَ عَنْ دِينِنَا .

1342 Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anha , ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku berada di atas telaga sehingga aku dapat melihat siapakah di antara kamu yang datang kepadaku dan siapakah orang-orang di bawahku yang akan dihukum, lalu aku berkata: Wahai Tuhanku! Mereka adalah sebahagian dariku dan termasuk umatku. Kemudian dikatakan: Tahukah engkau apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah, mereka terus kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata perawi: Ibnu Abi Mulaikah berdoa: Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon perlindungan kepadaMu agar tidak kembali kepada kekafiran atau tidak difitnah dari agama kami.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

1344 حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَلَأُنَازِعَنَّ أَقْوَامًا ثُمَّ لَأُغْلَبَنَّ عَلَيْهِمْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ .

1344 Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anh, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Aku akan mendahului kamu berada di Telaga. Sesungguhnya aku sempat berebut-rebut dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka, aku katakan: Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka kerjakan sepeninggalmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Demikianlah peringatan-peringatan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Semuanya sudah jelas. Sehingga tinggal kita ikuti. Semoga umat Islam yang taat dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala, di dunia dan akherat. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Untuk lebih komplitnya bisa dibaca di buku Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan, WIP Solo, 2006, cetakan baru 2008. (Hartono Ahmad Jaiz).

——————–


(1) Riwayat Ad-Darimi 1/116, Abdur Razaq 4755, Al-Baihaqi 2/ 466, lihat Irwaul Ghalil oleh Al-Albani 2/236, sanadnya shahih.


(2) Abu ‘Ubaidah Ibrahim bin Mahmud Abdul al-Radhi, Rowai’ul Ajwibah, Darul Iman, Iskandariyah Mesir, 2004, halaman 109.


(3) DHANI THANKS TO: …JAN PIETER FREDERICH KoHLER (THANKS FOR THE GEN). Dhani berterima kasih kepada: …Jan Pieter Frederich Kohler (Terima kasih atas darah keturunannya). Demikian bunyi satu baris tulisan dalam cover album Laskar Cinta, album paling anyar grup musik Dewa. Ditulis dengan huruf kapital seluruhnya. Siapa sebenarnya pemilik nama Jan Pieter Frederich Kohler (JPFK) yang dimaksud pentolan Dewa Ahmad Dhani? Merunut silsilah keluarga, pemilik nama tersebut ternyata ayah dari ibu kandung Ahmad Dhani ‘Dewa’ alias kakeknya. Ibunya sendiri bernama Joyce Theresia Pamela Kohler. “Kakeknya Dhani dari ibu orang Jerman. Kohler adalah nama keluarga, family name, dari keluarga Yahudi Jerman. Jadi jelaslah, Dhani mempunyai kebanggaan akan darah keturunannya itu,” ujar pengamat zionisme yang juga Budayawan Betawi Haji Ridwan Saidi. Bisa jadi, sebab itulah dalam berbagai kesempatan show-termasuk ketika manggung di Transtv yang menginjak-injak karpet dengan motif logo bertuliskan nama Allah yang kontroversial itu, Ahad (10/4)-Dhani ‘Dewa’ selalu mengenakan kalung Bintang David, gimbal Zionis-Israel. (Majalah Saksi Edisi Mei 2005)


(4) Sabtu, 23 April 2005


Habieb Rizieq melalui kuasa hukum FPI, Ary Yusuf Amir tetap akan melaporkan Dewa ke polisi jika somasi yang dilayangkan FPI kepada Dewa tidak ditanggapi. Menurut Ary, ada beberapa tuntutan dalam surat somasi yang dikirimkan kepada Dewa. Di antaranya, menuntut Dewa agar menghilangkan lambang kaligrafi berbentuk bintangbertuliskan Allah dalam cover album Laskar Cinta. Kemudian menuntut Dewa meminta maaf kepada umat Islam secara terbuka di media massa. “Kalau somasi kami tidak ditanggapi, maka kami tidak akan segan-segan melaporkan Dewa ke polisi,” kata Ary.


Menurut Ary, dalam hal ini sudah jelas-jelas Dewa melecehkan Islam dengan menempatkan kaligrafi bertuliskan Allah di lantai saat tampil di Trans TV pada Minggu (10/4) lalu. Dikatakan Ary, dalam tayangan itu jelas terlihat kalau yang digunakan sebagai alas itu berhiaskan kaligrafi Allah. Dengan posisi sebagai alas, maka tulisan kaligrafi Allah itu dengan mudah terinjak-injak. “Padahal, jangankan disengaja dijadikan alas, jatuh di lantai saja kita harus mengembalikan posisinya ke tempat yang benar. Dalam arti tidak boleh diletakan di sembarang tempat,” kata Ary. (Syamsudin W) (Suara Karya Online)

(5) Misal dalam album Laskar Cinta ada lagu berjudul ‘Satu’ yang diciptakan Ahmad Dhani. Isinya menyebarkan paham wihdatul wujud atau yang dikenal sebagai ajaran sesat yang mengatakan bahwa ada kesatuan wujud antara Sang Khaliq dengan Mahluk-NYA. Paham ini dalam bahasa Syekh Siti Jenar dikatakan sebagai, “Manunggal ing kawulo Gusti.” Sesuatu yang pernah diajarkan oleh AI-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Parahnya, ini seakan dibenarkan oleh Ahmad Dhani sendiri dengan menulis di bawah lirik lagu tersebut dalam cover Laskar Cinta versi kaset, “THANKS TO: AL- HALLAZ” (tulisan dalam covernya memang huruf kapital semua). Lalu dalam album yang sama versi CD, juga di bawah lirik lagu ‘Satu’, Ahmad Dhani menulis “THANKS TO: SYEKH LEMAH ABANG”. Asal tahu saja, Syekh Lemah Abang adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar.


Apa maksud Ahmad Dhani menulis lagu dan ucapan terima kasih kepada dua tokoh aliran sesat tersebut? Ada lagi tulisan kontroversial dalam album Laskar Cinta. Kalimat dalam ucapan terima kasih yang diberikan Ahmad Dhani. Dalam tulisannya, Dhani menulis, “ALLAH SWT (LORD OF THE LORDS). Orang awam mungkin akan mengira bahwa tulisan “Lord of the Lords’ sama dengan “La lIaha lllallah’ dalam bahasa Arab.


Namun bagi Ridwan Saidi yang telah mendalami agama Yahudi yang salah satu pilarnya adalah mengajarkanPantheisme (Tuhan banyak), tulisan “Lord of the Lords’ merupakan manifestasi pandangan Pantheisme, mengingat dalam cover yang sama juga tersebar simbol dan lambang Yahudi. “Ada kesatuan logika di sini. Jadi selain memuat simbol dan lambang Yahudi, di sini juga ada tulisan yang memiliki maksud yang sama. Yahudi itu mengenal tuhan banyak. Ada satu tuhan yang paling tinggi disebut Yahweh (dalam bahasa Ibrani YHWH, tanpa konsonan), YHWH itu dikelilingi oleh tuhan-tuhan lain yang lebih kecil yang dinamakan Elohim, Joshua, Horus, Ra, dan lain-lain. Ini maksud sebenarnya,” papar Ridwan. Semua ini, penyebaran symbol gambar, lambang, syair, dan tulisan yang seluruhnya bermuara kepada satu ideologiJudaisme (Yahudi-isme), seperti yang didapat dalam banyak album Dewa, dalam pandangan Ridwan Saidi dan sejumlah tokoh Islam jelas tidak bisa diterima.


Terhadap kalangan yang memandang hal ini sebagai suatu kreativitas seni semata sebab itu tidak perlu disikapi dengan serius, Ridwan Saidi punya satu ilustrasi menarik.


“Di Amerika Serikat, di masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, ada satu penyanyi bernama Tuvak Sakhur.Syair-syairnya mengajak masyarakat agar memerangi polisi. Amerika yang dikenal sebagai negara paling liberal di dunia itu, pemerintahnya akhirnya melarang Tuvak Shakur. Mengapa di sini tidak bisa? Saya melaporkan Dewa ke Kejaksaan agar ditindaklanjuti, nanti semuanya terserah pada mekanisme hukum yang berlaku,” ujar Ridwan. (postingan Suryawhan Arifandi di milis Friendster Nusantara per hari ini, 26 Mei 2005.)

6.Bahkan Ahmad Dhani mengatakan dirinya sudah berkonsultasi dengan sejumlah ulama mengenai hal itu, terutama Gus Dur dan Dr. Quraish Shihab. Dua tokoh muslim yang diakui Dhani sebagai gurunya tersebut tidakmempermasalahkan hal itu. ‘Saya tunduk kepada beliau. Jadi selain beliau, tidak akan saya turuti.’ (2005, GusDur.Net). Dalam tulisan ini, kasus Ahmad Dhani ini hanya mengenai apa yang telah dipersoalkan masyarakat, dia menginjak-injak karpet yang berkaligrafi lafal Allah yang sudah dimodivikasi, dan masalah serius tentang keyakinan yang disebarkannya berupa ajaran tasawuf sesat dari Al-Hallaj. Adapun tema tentang nyanyian dan musik belum diulas di sini, sehingga perlu dibaca dalam artikel tentang haramnya musik, yang juga kami tampilkan insya Allah.

Ustadz Hartono Ahmad Jaiz adalah Penulis Buku-Buku Islam Best Seller seperti Buku Tarekat Tasawuf dan Maulidan, Terbitan: Wacana Ilmiah Press (WIP), Solo, serta Pakar dan Peniliti Aliran dan Paham Sesat.

diambil dari Situs Islam

http://www.nahimunkar.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar