Jumat, 06 Maret 2009

“ Jeritan Hati Seorang Pemuda..”

Jeritan Hati Seorang Pemuda..”

Suara sendu seorang wanita pecah tatkala gerobak kelontongannya dihancurkan oleh sekelompok orang di siang hari. Sang suami tak dapat berbuat apa-apa ketika sekerumunan orang berpakaian muslim memecahkan kaca dan merusak peralatan dagangnya. Mata mereka berbinar memohon ampun, namun sayang beribu sayang, suara itu hanya terdengar di telinga mereka..

Katanya bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah..

Waktu yang paling tepat bagi setiap Muslim untuk berlomba-lomba dalam mendapatkan kebaikan. Saat yang sangat dinantikan, penuh dengan berbagai keistimewaan. Dan di sanalah semua do’a seakan dikabulkan..

Katanya pula bulan Ramadhan adalah bulan yang suci..

Waktu yang dipenuhi dengan kedamaian. Yang seyogyanya dijaga dengan akhlaq mulia. Karena di dalamnya seorang Muslim dapat mensucikan dirinya dari segala dosa..

Katanya.. Ada dua golongan yang merugi..

Orang yang bertemu dengan kedua orangtuanya, namun ia tidak sempat meminta maaf dari keduanya..

Dan orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, tetapi ia tidak mendapatkan ampunan darinya..

Sungguh, benar-benar merugi orang tersebut!

Apalagi jika ia mengisi Ramadhan ini dengan hal-hal yang dianggap baik, namun hakekatnya justru merusak keindahan Islam sendiri..

Apatah artinya sebuah ormas Islam jika menghancurkan geladak orang kecil yang menjual makanan di siang hari.. Meski tujuannya adalah amar ma’ruf nahi munkar..

Karena tujuan yang baik tidak melegalkan cara yang bathil..

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdulloh bin Umar rodhiyallohu ‘anhu..

Keburukan itu tetaplah jelek meski kebanyakan orang menganggapnya baik..

Demikian pula yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu..

Betapa banyak orang yang melakukan kebaikan, namun tidak mendapatkan apa pun..

Sebuah klise nyata di zaman ini, saat diriku melihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara seiman saling menzhalimi saudara lainnya dengan cara yang bathil..

Karena memang tidak ada istilah menzhalimi dengan cara yang haq..

Namun inilah yang terjadi saat ini. Menutup celah kezhaliman dengan kezhaliman. Saya tak mungkin bisa membohongi diri sendiri. Walaupun penjual makanan di siang hari bisa disalahkan atas kenekadannya, namun tindakan anarkis yang dilakukan oleh separatis Islam seperti ini juga keliru.

Islam tidaklah semakin indah di mata umat manusia. Ia seakan-akan nampak seperti bom waktu yang siap menggilas kaum lemah yang tak berdaya dan tak berilmu. Seperti roda bergerigi yang melumatkan apa saja yang dilewatinya..

Islam yang demikian agungnya telah memberikan rambu-rambu dalam amar ma’ruf nahi munkar. Hanyalah penguasa kaum Muslimin yang berhak memberikan sanksi semacam ini. Kalau pun seandainya tidak dilakukan, maka dosanya kembali kepada mereka (para penguasa tersebut)..

Tidakkah hati mereka trenyuh dibuatnya? Tentang sebuah potret hidup yang memilukan..

Tatkala melintas di protokol jalan besar yang panas, saya sempat melihat beberapa pengendara motor dengan leganya menikmati segelas es degan di siang hari. Bahkan ada di antara mereka yang menyediakan botol untuk dibawa pulang..

Oh.. mungkin mereka adalah orang-orang non Muslim..

Atau mereka adalah musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh..

Dan tak jauh dari situ...

Nampak beberapa orang pemuda yang sedang nongkrong menghisap sebatang rokok. Lalu setelah itu mereka pun melancarkan aksinya di jalanan. Menggetarkan senar-senar kecil di balik sebuah gitar demi mengharapkan beberapa ratus perak..

Oh.. mungkin mereka belum tahu kalau puasa itu wajib..

Atau mereka belum tahu kalau merokok itu membatalkan puasa..

Kadang saya bertanya-tanya dalam hati. Bisa jadi mereka lebih baik dari saya, dan hal itu mungkin sekali terjadi. Bagaimana mungkin saya bisa menghukumi sesuatu tanpa ada hujjah atas mereka, sementara saya hanya terdiam di atas motor..?

Mungkin saja..

Di antara pengendara motor itu ada yang lupa, jika ia tengah berpuasa. Dan saat ia ingat, ia memohon ampun kepada Robbnya. Dan Alloh menjadikan puasanya tetap sempurna..

Atau di antara pemuda itu, ada yang belum tahu tentang hukum sebatang rokok, dan tatkala ia tahu, ia tersungkur sujud seraya beristighfar mengucapkan, "Robbighfirlii.."

Sungguh indah ucapan itu.. apalagi jika dibarengi dengan kebeningan hati dan kemauan yang kuat..

Ternyata ada di antara mereka, yang di mata manusia dinilai salah menurut adat dan agama, tidak mengetahui bahwa hal itu salah..

Dan ternyata ada di antara mereka, yang mengetahui kesalahan itu, menggunakan cara-cara yang tidak diridhoi oleh adat dan agama..

Hidup memang tak selamanya indah, namun jika kita berupaya mengusahakannya, tidak ada hal yang mustahil terjadi..

Yaitu..

Saat orang-orang yang terlanjur menganggap dirinya baik, tidak merubah keburukan dengan tangan mereka yang nista..

Dan saat orang-orang yang terjerumus dalam nista, mau mengangkat derajatnya dengan memohon ampun kepada Alloh Azza wa Jalla..

Ya Alloh… berikanlah diriku hidayah, yang dengannya bisa kubedakan mana emas di dalam lumpur dan kotoran kucing di atas bejana emas…

Balaa Syahidnaa..

Masih teringat jelas dalam ingatan

Sebuah kisah memilukan dalam diriku

Perjalanan yang membuatku merinding

Bahkan mungkin ini yang disebut ‘reinkarnasi’

Gelayut keringat masih saja membasahi sekujur tubuh. Panas yang menyerang semakin ganas membakar, membuat tubuhku tak kuat lagi menahan rasa sakit di kepala dan perut. Kubalikkan tubuhku ke kanan dan ke kiri, namun tak jua kudapatkan sepotong kenikmatan. Inilah rasanya menderita akibat sakit..

Saat malam berkisah tentang dirinya. Bayangan gelap seakan menghampiri. Berdiri tegak di balik pepohonan, mengintip dari balik jendela yang kelam. Mengincar sesuatu yang ada pada diriku. Malaikat maut, mungkin itu dia. Apakah ia membawa

surat

dari Tuhanku malam ini?

Surat

undangan bertemu dengan-Nya..

Segera kusingkap kain selimut ke seluruh tubuh. Aku terus berdzikir, berharap semua

kan

sirna tatkala aku tidur. Dalam lamunan malam, aku mendengar suara-suara kecil memanggilku. Tapi ternyata bukan diriku. Ia seakan ingin berbicara dengan jiwaku. Suara yang seakan tak asing bagiku. Namun, aku tak tahu siapa mereka.

Keesokan pagi, dalam sujud penuh pengharapan, aku memohon kepada Alloh, untuk meringankan rasa sakit yang kuhadapi. Panas dan mules telah membuat tubuhku semakin tak kuat untuk sekedar berdiri menghadap-Nya. Aku berharap semuanya

kan

segera berlalu.

Suara-suara itu kembali menguat dalam diriku. Aku mendengar rintihan lemah mereka. Semakin lama semakin jelas. Mereka mengucapkan kalimat yang indah, namun aku tetap tak mengerti. Hingga akhirnya suara itu menghilang dalam tetesan embun..

Hari ini, di desaku berpijak. Dalam musholla tempatku bersujud kepada-Nya, sebuah kajian diadakan. Rasa panas yang membenamkan diriku dalam lautan keringat, membuat aku tak bisa melanjutkan tidur panjang. Dengan lantunnya, aku pun menyimak kajian itu. Dan di sinilah, ternyata Alloh menjawab pertanyaanku dengan janji-Nya..

Balaa Syahidnaa..

Alloh telah memanggilku dengan bahasa yang sangat halus, namun aku tak bisa menangkap maksudnya. Ia seakan hendak menegurku, namun aku terlalu jauh dari-Nya. Dialah Robb yang telah menciptakan diriku, dan Dialah yang mengambil sumpah dariku, lalu mengapa aku begitu lengah melupakan dirinya?

Kalimat ini adalah kalimat persaksian. Perjanjian antara aku dengan Dia. Kalimat yang hampir membuatku lupa bernafas. Tatkala suara parauku kembali berulah dan rasa sakit yang meradang, hilang seketika. Entah mengapa, semua anggota tubuhku menyatu dalam raga. Aku seakan dilahirkan kembali. Aku tak sanggup berkata-kata, cukuplah air mata yang berkaca-kaca..

Ya Alloh, sungguh durhakanya diriku. Saat di alam ruh, aku begitu setianya menjawab panggilan-Mu. Namun saat aku dilahirkan ke dunia, aku melupakanMu. Bahkan saat Engkau memanggilku, aku malah tak mengerti maksudMu..

Benar, kami bersaksi..

Waktu pun berlalu. Rasa panas pun mereda. Tubuhku kembali seperti semula. Dan aku bersyukur Alloh telah mengembalikan kekuatanku. Namun satu hal yang takkan pernah kulupakan. Alloh sedang mengawasiku, dan Ia begitu dengan dengan hamba-Nya..

Ya Alloh… Tunjukkanlah diriku jalan untuk lebih mengenalMu. Jika sakit ini semakin membuatku dekat denganMu, maka panjangkanlah derita ini. Agar aku dapat menyesali semua kekhilafanku. Supaya aku bisa menangisi kemaksiatan-kemaksiatan yang berlalu, dan agar aku bisa kembali menjadi hambaMu yang fithroh seperti dahulu..

Ya Alloh, saksikanlah! Sesungguhnya aku seorang Mu’min, insyaAlloh..

Ya Alloh, benarlah Engkau Robb kami, dan kami menjadi saksi atas hal ini..

Aku dilahirkan dalam keadaan Mu’min dan akan kembali dalam keadaan Mu’min karena sumpahku telah terpatri dalam Lauhul Mahfuzh sebagai bukti kesetiaanku padaMu..

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al A`roof ayat 172)

Cinta, Apakah Dia..?

Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat yang ada di depan.

Kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu kanan sehingga kita dapat mendengar dari kedua sisi. menangkap pujian maupun kritikan, dan mendengar mana yang benar.

Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Tak seorangpun yang dapat mencuri isi otak kita, yang lebih berharga dari segala permata yang ada

Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup satu mulut. Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh. Lebih baik sedikit bicara tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, tapi banyak mendengar dan melihat ayat-ayat Alloh.

Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati dicintai, tetapi jangan mengharapkan orang lain untuk mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan..

Kita telah diciptakan oleh-Nya dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, patutlah kita mensyukurinya anugrah yang telah Alloh berikan.

Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka Anda akan menemukan bahwa hidup ini akan menjadi lebih indah.

Dikutip dari artikel seorang sahabatku...

Tulisan ini dikumpulkan Oleh:

Al-Ustadz Abu Hanifah Muhamad Faishal alBantani al-Jawy, Spd, I

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar