Jumat, 06 Maret 2009

“ Haramnya Mengucapkan Selamat Natal “

Oleh: Ustadz Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy, Spd, I

Muraja’ah: Al-Ustadz Farid bin Ahmad Ukhbah, Lc, MA

(Direktur Islamic Center AL-ISLAM, Bekasi,

Lulusan Fakultas Syari’ah Universitas Ibnu Saud, Riyadh, Saudi Arabia)

Hari natal adalah hari raya orang Kristen, dimana mereka meyakini bahwa pada hari itu Isa lahir sebagai anak Tuhan. Dilihat dari sudut sejarah, kelahiran Isa ini tidak ada keterangan yang pasti, ada yang mengatakan bulan april, ada yang menyebutkan bulan september dan ada juga yang meyakininya pada bulan januari, bahkan sebagian umat Kristen sendiri ada yang tidak merayakan hari natal karena simpang-siurnya informasi tentang hari pastinya kelahiran Isa.[1]

Al Qur'an telah memberikan kisah untuk dicermati mengenai sejarah kelahiran Nabi Isa, dengan firman-Nya “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan, Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu, Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (QS Maryam : 23-25)

Menurut kajian ilmu geografi dan ilmu alam lainnya, pohon kurma itu hanya akan berbuah di musim panas saja. Sedangkan stigma (opini) yang muncul sekitar perayaan natal adalah adanya salju, pohon cemara (yang sangat sulit tumbuh di gurun pasir), terlebih ditambah dengan adanya sinterklas dan aneka asesoris lainnya di hari natal yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan musim panas disaat pohon kurma berbuah.

MUI sebagai lembaga umat telah memfatwakan bahwa mengucapkan natal hukumnya haram, dengan berbagai alasan. Diantaranya adalah barang siapa yang mengucapkan natal berarti dia merestui keyakinan orang kristen (yang oleh Al Qur'an diklaim kafir) bahwa Isa adalah anak Allah, karena memang begitulah keyakinan mereka (Kristen) terhadap hari natal. Di kalangan umat islam sendiri banyak yang mengatakan bolehnya mengucapkan natal jika hanya sebatas sisi kemanusiaan, selama ucapan itu tidak menggusur akidah bagi orang yang mengucapkannya.

Hal ini pernah dilontarkan oleh seorang pemuka agama islam di indonesia dalam salah satu bukunya dengan cover bertuliskan Best Seller.[2] Beliau mengatakan bahwa Al Qur'an sendiri mengabadikan hari kelahiran Isa dengan mengangkat surat maryam ayat 33 “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Penafsiran Beliau ini tidak merujuk pada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada seorang bayi yang dilahirkan melainkan telah disentuh oleh syaitan. Bayi itu menangis, menjerit karena sentuhan syaitan tersebut kecuali Putera Mariam (Isa as) dan Mariam.[3] Penafsiran yang tepat mengenai ayat diatas menurut ulama salaf (Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan) adalah selamatnya Isa dan Maryam dari sentuhan setan. Ayat di atas bukan berarti Al Qur'an mengabadikan ucapan selamat natal. Terlebih Al Qur'an sendiri telah menyatakan kafir orang yang mengatakan bahwa Allah itu tiga (Al Maidah : 17, 72 dan 73)

Selain itu kebolehan mengucapkan natal juga pernah dilontarkan oleh salah seorang pemimpin organisasi islam yang cukup besar di Indonesia. “Bagi saya, peringatan Natal (Krismas) adalah peringatan kaum muslimin juga. Kalau kita konsekwen sebagai seorang muslim merayakan kelahiran Nabi Muhammad, maka adalah harus konsekwen merayakan malam Natal”.[4]

Sebagai muslim yang taat, harusnya kita berpegang teguh pada Al Qur'an (khususnya) surat Al Ikhlash yang dengan tegas mengatakan bahwa Allah itu Esa, Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan surat Al Kafirun yang menegaskan bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi apa kepentingan kita mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Ironisnya, kita umat islam sering kali takut (merasa tidak enak) terhadap manusia tetapi tidak pernah merasa tidak enak kepada Allah. Bukankah Allah telah memerintahkan agar kita hanya takut kepada Allah saja dan janganlah merasa takut kepada manusia (Al Baqoroh : 150, Al Maidah : 3, 44)

Sejarah telah mencatat, bahwa kepercayaan terhadap anak tuhan (bayi atau orang yang disucikan) sudah terjadi ribuan tahun yang lalu (Dewa Baal, Dewa Iris dan Osiris, Dewa Cybele dan Deoius, Dewa Portuna dan Yupiter, Dewa Kwan Im dan lain-lian).[5]

Seharusnya, orang yang mengatakan bahwa mengucapkan natal itu tidak haram, dia mampu menunjukkan dalilnya, jangan mengeluarkan pernyataan yang didasari dugaan semata tanpa dalil Al Qur'an dan hadis, jika benar apa yang diucapkannya, maka dia dan orang-orang yang mengikuti fatwanya itu tidak akan menemukan masalah, tapi jika fatwanya itu salah dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama, maka ia bertanggung jawab atas dosa-dosa orang mengikuti fatwanya itu.

Rasulullah (dengan petunjuk Allah) telah menetapkan dua hari raya bagi kita yaitu hari raya fitri dan qurban sebagaimana hadis di bawah ini:

“Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: ……, Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai Hari Raya dan ini adalah Hari Raya kami (Jami’suh Shahih, hadis no 492).

Dan kita harus mengamalkan surat al kafirun ; “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Created by: Abu Hanifah Muhammad Faishal AlBantani

(Direktur Departemen. Dakwah & Pembinaan Yayasan Al-Qolam, Bekasi Alamat: Yayasan Islam Al-Qolam, Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi).



[1] Irena Handono, Et Al. Islam Dihujat. Hal

[2] DR. Quraisy Shihab, Membumikan Al Qur'an, Hal 370 - 373

[3] Bukhori-Muslim, Kitab Jami’ush Shahih, No 1381

[4] Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL & FLA, Hal 69

[5] Irena Handono, Et Al. Islam Dihujat. Hal 77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar