Jumat, 06 Maret 2009

Biografi Syaikh Ibnu Baaz

“ Penegak Bendera Alloh Ta’ala serta Sunnah Rasullullah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam ”

Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah Ta’ala

(Mantan Ketua Mufti/Qadhi Kerajaan Saudi Arabia)

Ulama tunanetra yang karyanya menjadi referensi para ilmuwan. Biasa mengoreksi buku atau kitab hanya dengan hafalan.


Di buat Oleh:

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani bin Shalih Abu Ramadhan

Muraja’ah:

Ustadz Abu Yahya Marwan Hadid bin Musa


Bismillahirrohmannirrohim

Rektor sebuah perguruan tinggi ternama namun tidak punya rumah pribadi. Itulah Almarhum Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, mantan Rektor Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Bukan tak mampu membeli, melainkan karena sikap zuhudnya. Sebenarnya dari gaji yang diperolehnya Syaikh Abdul Aziz dapat membeli rumah pribadi yang layak. Namun selama hidupnya ia hanya mengambil uang seperlunya dari gajinya, sisanya digunakan untuk kepentingan ummat.

Ia lebih memilih tinggal di rumah sewaan. Pernah Dr. Az-Zahrani, salah seorang teman sejawat Syaikh Abdul Aziz, berniat membeli rumah sewaan itu untuk dirinya. Namun Syaikh Abdul Aziz menolak. “Alihkan pemikiran dari masalah ini. Sibukkan diri dengan kebutuhan-kebutuhan ummat Islam,”Katanya. Hingga kemudian Raja Arab Saudi (King Faishal)’memaksa’ memberikan hadiah sebuah rumah besar. Akhirnya Syaikh Abdul Aziz menerima rumah tersebut, dengan catatan, kepemilikan rumah itu bukan atas nama dirinya. Ia menghendaki rumah itu sebagai rumah dinas. “Tulislah atas nama Rektor Universitas Madinah, sehinga jika nanti datang penggantiku dia bisa menempati rumah ini, “pintanya”.

Ilmu Sepanjang Hayat.

Nama lengkapnya Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz. Beliau lahir di kota Riyadh, Arab Saudi pada bulan Dzulhijjah 1330 H (1909M). Sebagaimana tradisi para ulama besar, Syaikh Abdul Aziz menghabiskan masa kecilnya dan membangun fondasi keilmuannya dengan menghafal Al-Qur’an, Ilmu Hadits, Dll. Sebelum mencapai aqil baligh, ia sudah menuntaskan seluruh hafalannya. Dan Kemudian belajar ilmu Tajwid dan Tahsin kepada Al-Allamah Syaikhul Islam Sa’ad Waqash Al-Bukhari Rahimahullah Ta’ala di Kota Makkah.

Setelah menyelesaikan hafalannya, Syaikh Abdul Aziz terus menuntut ilmu dari beberapa Ulama besar di Riyadh. Juga beliau berguru pada Ulama besar di Najd, seperti misalnya Al-Allamah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan Allu’ Syaikh. Dari mana yang terakhir ini beliau paling banyak menimba berbagai disiplin ilmu Islam dan Sastra Arab.

Bagi Syaikh Abdul Aziz, menuntut ilmu adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat. Penipu, katanya, bila proses belajar itu berhenti hanya karena sudah lulus sebagai Santri/Siswa. Sikap seperti di atas memang melekat kuat pada diri Syaikh Abdul Aziz. Ilmunya sudah cukup mumpuni, namun ia terus-menerus menggali keilmuan. Padahal ia terhalang oleh keterbatasan indera penglihatan sejak umur 16 tahun. Waktu itu ia terserang penyakit mata. Makin hari sakitnya kian parah, hingga pada usia 20 tahun ia mengalami kebutaan total. Alhamdulillah kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk terus mendalami berbagai disiplin ilmu seperti Tafsir, Hadits, Fiqh, Ilmu-Ilmu Ushul, Sastra, dan lain sebagainya. Beberapa karya besar telah dia hasilkan. Di antaranya Majmu’ Fatawa, Al-Fawa’id al-Jaliyyah Fil-Mabahits al-Fardiyah, Kaifiyah Shalat an-Nabi, Bayaanu Ma’na Laa Ilaaha Illallah, Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Fatawa An Nazhar Wal Khalwah Wal Ikhtilath, dan masih banyak lagi hasil karya besar Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baaz.

Karena kepakarannya, ia dipercaya menjadi Qadhi (penasehat) saat berumur 27 tahun (1936). Jabatan ini dipangku selama empat belas tahun. Pada tahun 1372 H/1951 M ia mendapat amanah mengajar di beberapa Ma’had Ilmiyah (semacam sekolah tinggi) di Riyadh. Amanah itu terus ditekuni hingga Universitas Islam Madinah didirikan. Syaikh Abdul Aziz ditunjuk sebagai Wakil Rektor, mendampingi Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Ibrahim Allu’ Syaikh sebagai Rektornya.

Komitmen kepada Al-Qur’an & Sunnah Rasul/Nabi menurut para Shahabat Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam.

Syaikh Abdul Aziz sangat komitmen menjaga kemurnian Islam dengan menempatkan Firman Alloh Azza Wa Jalla dan Sabda Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam di atas perkataan & perbuatan siapapun. Banyak persoalan yang diulas oleh seseorang dengan menyebutkan “Menurut Madzhab ini begini. Menurut Madzhab itu begitu”. Bagi Syaikh Abdul Aziz, “Kami tidak berpendapat berdasarkan Taqlid (mengikuti) Madzhab ini dan Madzhab itu. Kami berpendapat berdasarkan Dalil dari Firman Allah Azza Wa Jalla (Al-Qur’an-Nya) dan Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam (Sunnah/Hadits-nya)”.

Sebenarnya Syaikh Abdul Aziz tidak menafikan Madzhab. Namun ia tidak sepakat hanya berpegang kepada Madzhab dalam arti Taqlid. Jika mengikuti Madzhab, harus ada pedoman rujukkannya dari Al-Qur’an & As-Sunnah/Hadits, “ingat pula pesan beliau jangan mendepankan Aqli (pikiran) serta Ro’yu (Nafsu) tetapi haruslah sebagai umat Islam mendepankan segala sesuatu hal/cara dengan Dalil Al-Qur’an & Sunnah/Hadits yang Shahih minimal Hasan serta Harus mengikuti Manhaj/Pemahaman Para Shahabat Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam yang di jamin Surga (Insya Alloh Ta’ala), itulah peganggan bagi seorang Muslim sejati dambaan Umat Agama Islam”. Ingat pula haruslah kita budayakan Ibadah & Taklim agar dapat memahami Ilmu Syari’at Agama Islam dengan benar yang di Ridhoi Dienullah (Agama Alloh Ta’ala) yaitu Agama Islam.

Tidak suka di puji

Mewarisi sifat Ulama besar, Syaikh Abdul Aziz adalah sosok yang menjauhi sanjungan dan pujian. Seorang Mahasiswa pernah menulis sebuah Qashidah yang berisi pujian kepadanya. Beberapa saat kemudian Fahd al-Bukran dari majalah Dakwah membacanya. Syaikh Abdul Aziz bertanya, “Apakah anda ingin memuatnya di majalah Dakwah?”. “Ya, jika anda Syaikh mengijinkannya,” Jawab Fahd. Seketika Syaikh Abdul Aziz menyatakan, “Tidak, tidak, tidak. Sobek saja, sobek saja”. Selanjutnya Fahd menceritakan, “kemudian Syaikh mengalihkan wajahnya ke arah lain. Kemudian beliau berkata sambil beristighfr dan mengucapkan, ‘La haula wa la quwwata illa billah, La haula wa la quwwata illa billah, La haula wa la quwwata illa billah, Dan wajah beliau berubah”.

Pada tahun 1994M koran Madinah edisi ke-4 secara ekslusif ingin memuat profil pribadi Syaikh Abdul Aziz. Edisi itu telah disiapkan dan siap dicetak. Rupanya Syaikh Abdul Aziz tahu tentang rencana penerbitan edisi itu, sehingga ia segera bertindak mencegahnya. Syaikh Abdul Aziz beralasan, seorang hamba beramal dengan ikhlas dan menyembunyikan amalnya dari orang lain serta berharap Alloh Azza Wa Jalla menerima amalnya. Ia memang selalu berusaha menyembunyikan amalan baiknya. Hanya saja, Alloh Azza Wa Jalla menghendaki amalan-amalan itu tampak karena Alloh Azza Wa Jalla mengetahui kelurusan niat dan jihadnya yang sungguh-sungguh demi Al-Islam yang benar dan Dien (agama) yang lurus yang di Ridhoi Allah Ta’ala.

Kuat Hafalan

Di antara anugerah besar yang diberikan oleh Alloh Azza Wa Jalla kepada Syaikh Abdul Aziz adalah hafalan beliau yang kuat. Begitu kuatnya kemampuan hafalan Syaikh Abdul Aziz sehingga ia mampu mengingat topik suatu buku/kitab berada pada bab dan halaman berapa. Ia juga biasa melakukan koreksi terhadap suatu buku/kitab melalui hafalan saja. Al-Allamah Syaikh Syinqiti Rahimahullah Ta’ala adalah guru Syaikh Abdul Aziz yang pada saat itu hafalannya tidak tertandingi. Suatu saat, Syaikh Syinqiti membahas satu Hadits yang disebutkan Al-Imam Ibnul Katsir di dalam Kitab Tafsirnya. Hadist itu terdapat di dalam Sunan Abu Dawud. Syaikh Syinqiti berusaha mencarinya, namun tak kunjung menemukan hadits itu. Saat itulah Syaikh Abdul Aziz datang. Baru saja mengucapkn salam di sisi pintu dan belum sampai masuk, Syaikh Syinqiti langsung bertanya, “Wahai Syaikh Abdul Aziz, Al-Imam Ibnul Katsir mengatakan bahwa hadits ini ada di dalam Sunan Abu Dawud. Sejak Subuh saya mencarinya dan belum ketemu. Dimana hadits itu?”. Syaikh Abdul Aziz tangkas menjawab, “Hadits itu ada, di dalam kitab ini dan di halaman ini”. Setelah diperiksa, ternyata benar. Begitu banyak kemuliaan yang bersemayam di dalam diri Syaikh Abdul Aziz. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat pemurah, dermawan, serta suka memberi nasihat. Sangat tahan dan sabar dalam berbuat ketaatan. Meski usianya sudah terbilang lanjut, gerak dan aktifitasnya masih tampak seperti orang muda. Semangat dan jiwanya memang selalu menyala-nyala seperti anak muda. Tetapi benar apa yang disabdakan oleh Rasullullah Muhammad Shallallahu’Alaihi Wa Sallam bahwa jika Allah Azza Wa Jalla hendak mencabut ilmu, maka tidak dicabutnya dari bumi, tetapi dengan memanggil para Ulama ke haribaan-Nya. Pada tahun 13 Mei 1999 M. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz wafat. Semoga Alloh Ta’ala merahmatinya dan Keluarga Beliau.

Dunia Islam abad ke-20 kehilangan salah satu mutiaranya. Semangat, perjuangan, dan karya warisan Syaikh Abdul Aziz akan menjadi peninggalan yang berharga bagi Ummat Islam. Sekian, Barakallahu’ Fiik (Semoga Alloh Ta’ala memberikan barokahnya kepada kalian), Wallahu’Allam bi Ash-Showab. Semoga Shalawat serta Salam kita haturkan kepada Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam, Keluarganya, para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, Para Ulama serta pengikutnya yang setia selalu mengikuti Bendera Hijbulloh (Partai Alloh Azza Wa Jalla) yaitu Al-Qur’an-Nya serta Rasul/Nabi yaitu Sunnah/Hadits-nya.

Salam Taqdim, Bekasi, 23 Rajab 1425 Hijriah.

Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani bin Shalih Abu Ramadhan

Di sebarluaskan oleh: Markaz Dakwah Islamiyyah Yayasan Al-Qolam, Pengasinan, Rawalumbu, Bekasi Timur, Kota Bekasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar