Kamis, 05 Maret 2009

Berinfak Kebiasaan Seorang Mukmin

There Is No God Except Alloh Ta’ala & Muhammad Rasullullah

Tidak ada illah yang berhak diibadahi kecuali Alloh Ta’ala & Muhammad Rasullullah

Dibuat oleh: Abu Hanifah Muhammad Faishal alBantani al-Jawy

Mantan Ketua Divisi Dakwah dan Pendidikan Yayasan Islam Al-Qolam, Bekasi

Muraja’ah Oleh: Al-Ustadz Farid Ahmad Ukhbah, Lc, MA (Lulusan Universitas Ibnu Su’ud, Riyad, Saudi Arabia serta Pengajar Kitab Aqidah & Tauhid Radio Dakta 107 FM).

Sesungguhnya, diantara tanda kemurahan agama Islam ini adalah mendidik umatnya agar senantiasa berkasih sayang kepada sesama manusia maupun kepada segenap makhluk lainnya. Diantara bentuk kasih sayang itu adalah Alloh Ta’ala mensyari’atkan kepada segenap muslimin–muslimat yang memiliki kelebihan harta benda, dll untuk berinfak dan bershadaqah kepada sesama saudaranya yang kekurangan dan yang memerlukan bantuan.

Bismillahirrohmannirrohim

Banyak sekali ayat-ayat Alloh Tabarokta Wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an maupun sabda Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam dalam Hadits-hadits yang Shahih yang menganjurkan kepada kita untuk bersegera dalam beramal shalih dan tidak menunda-nundanya. Diantaranya Alloh Tabarokta Wa Ta’ala, berfirman: “ Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan juga kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan yang suka memaafkan kesalahan orang lain. Dan Alloh Ta’ala itu menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Terjemah Q.S. Ali-Imron: 133-134).

Pengertian “As-Saroo’u” dalam ayat tersebut berarti mudah dan lapang, sedangkan pengertian “Ad-Dloroo’u” adalah sulit dan sempit. (Lihat Kitab Zubdatut Tafsir, Hal: 84). Dalam ayat yang mulia ini terkandung pengertian bahwa diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa dan yang bersegera menuju Alloh Ta’ala dan surga-Nya ialah orang-orang yang senantiasa membiasakan diri mereka berinfak dan bershadaqah, dan beramal di jalan Alloh Ta’ala, baik dalam keadaan mudah dan lapang di kala ia memiliki harta, maupun dalam keadaan sulit dan sempit di kala ia sendiri sangat kekurangan dan membutuhkan harta itu. Wallahu A’lam Bis-Showab. Bila demikian keadaannya, lalu dengan apakah seharusnya seorang mukmin atau muslim menginfakkan harta bendanya?. Jawabnya ditegaskan oleh Alloh Tabarokta Wa Ta’ala dalam firmanya: “ Kalian tidak akan dapat mencapai suatu kebaikan sampai kalian menginfakkan (harta benda -Red) yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian infakkan dari harta benda itu, maka sesungguhnya Alloh Ta’ala itu Maha mengetahui”. (Terjemah Q.S. Ali-Imron: 92).

Pengertian ayat tersebut di atas ialah “Sungguh kalian tidak akan dapat mencapai derajat atau kedudukan Al-Abror (orang-orang yang benar imannya dan baik amal perbuatannya) sampai kalian (benar-benar) menginfakkan harta benda yang sangat kalian cintai itu di jalan Alloh Ta’ala, baik untuk jihad maupun untuk amal-amal ketaatan lainnya”. (Lihat Kitab Zubdatut Tafsir, Hal: 78) jadi jelaslah bagi kita bahwa berinfak dan bershodaqoh itu adalah dari harta benda yang paling kita cintai. Dan tentu saja hal ini berat bagi umumnya manusia, karena memang sifat dasar manusia adalah sangat cinta kepada harta bendanya. Akan tetapi Alloh Ta’ala akan memudahkan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kemudian tentang keharusan dan pentingnya berinfak dan bershodaqoh ini, Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam juga pernah bersabda: “ Tidaklah terbit matahari (setiap harinya), melainkan telah diutus kedua arah sampingnya dua orang malaikat yang menyeru dan yang memperdengarkan (seruan itu) kepada segenap penduduk bumi kecuali dua golongan (yaitu golongan Manusia dan Jin): “Wahai sekalian manusia, marilah kalian pergi (menghadap) kepada Rabb kalian, karena sesungguhnya sesuatu yang sedikit (dari harta yang kalian infakkan) dan yang mencukupi, adalah lebih baik daripada sesuatu yang banyak (hartanya) dan menjadikan lalai”.

Dan tidaklah matahari terbenam (setiap harinya), melainkan diutus di kedua arah sampingnya dua malaikat yang menyeru dan memperdengarkan (seruan itu) kepada segenap penduduk bumi kecuali dua golongan: “ Ya Alloh Ta’ala, berikanlah kepada orang yang menginfakkan hartanya itu di ganti (yakni berupa balasan atau pahala kebaikan di akhirat nanti, atau semakin melimpah dan penuh berkah hartanya di dunia,-Pent), dan berikanlah kepada orang yang enggan menginfakkan hartanya itu (ganti atau balasan) dengan harta benda yang rusak (jelek -Pent)”. (Terjemah Hadist dengan Sanad (Jalan) yang Shahih Riwayat Imam Ibnul Hibban No:2476), Imam Ahmad (5/197), Imam Ath-Thayalisi (No:976), Imam Abu Nu’aim dalam Kitabnya Al-Hilyah (1/226, 233 dan 9/60). Dan di Shahihkan Oleh Al-Allamah Al-Muhadits Syaikh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kitabnya As-Shahihah No: 444).

Ikhwan & Akhwat Fillah yang budiman, inilah sebagian dari ayat-ayat Alloh Tabarokta Wa Ta’ala dan sabda beliau Rasullullah Shallallahu’Alaihi Wa Sallam yang mulia yang menganjurkan kita untuk membiasakan diri berinfak dan bershodaqoh, yang dengan itu kita berbagi suka dan duka dalam bentuk harta yang kita punyai untuk fakir miskin (orang yang tidak mampu) yang membutuhkannya, untuk anak-anak yatim yang merindukannya, untuk janda-janda miskin dan para mujahidin yang tiada meminta-minta tetapi sangat memerlukannya dan merindukannya. Pendeknya, seluruh harta yang kita infakkan, baik banyak maupun sedikit jumlahnya, Insya Alloh Ta’ala akan sangat bermanfaat bagi kebaikan diri kita Khususnya, juga untuk berlangsungnya misi dan visi perjuangan Dienul (Agama) Islam secara umum. Sekian, Wallahul Musta’an, Baarokallahu ‘Fikk (Semoga Alloh Ta’ala Memberkahimu).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar