Sabtu, 07 Maret 2009

Bejatnya perkataan orang yang mengatakan bahwa:”keinginan rakyat adalah keinginan Alloh”.

Soal :

Saya telah membaca di buku-buku para pemikir
ungkapan yang menyatakan bahwa ‘keinginan Masyarakat adalah keinginan Allah’,
mohon dijelaskan kebenaran ungkapan ini ?

Jawab :

Al-Hamdulillah. Syaikh Abdurrahman Ad-Dusiri
-Rahimahullah– pernah ditanya tentang ungkapan semacam itu. Beliau menjawab:
“Ini jelas dusta besar, sikap nekat herhadap Allah yang dilakukan sebagian Ahli
Filsafat pada sebagian madzhab serta mereka yang terpengaruh pemikiran
tersebut. Sebuah sikap nekat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dalam segala
bentuk kekafiran di sepanjang jaman. Karena paling banter yang diceritakan oleh
Allah tentang kekafiran adalah kebergantungan kaum kafir dengan kehendak Allah,
melalui ucapan mereka:

“Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan
bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan
barang sesuatu apapun”. (Al-An’aam : 148)

Allah mendustakan mereka. Sekarang mereka menjadi
mes yarakan -dalam anggapan mereka– sebagai kata putus, untuk melegitiminasi
program yang mereka terapkan. Kebohongan ini menunjukkan juga kerusakan
berbagai prasarana program tersebut yang menjadi motivasi mereka melontarkan
ucapan tersebut. Karena berdasarkan pendapat mereka yang rusak itu, masyarakat
berhak mengatakan dan berbuat apa saja dalam hidup mereka, dalam kondisi yang
tidak terikat lagi oleh syariat dan Kitab Allah, namun dengan memeperturutkan
hawa nafsu mereka, berdasarkan tuntutan materi dan syahwat serta kekuatan
sendiri, tak ubahnya dengan bangsa-bangsa kafir yang memang tidak memeluk agama
yang diterima oleh Allah, tidak memperdulikan etika moral dan sikap-sikap
kemuliaan.

Itu adalah kebohongan besar yang orang semacam
Abu Jahal dan sejenisnya saja tidak nekat mengatakannya meski mereka demikian
busuk dan jahat. Karena kebusukan ucapan tersebut secara aksiomatik dapat
diterka oleh akal sehat. Perasaan dan tabiat dasar masyarakat sendiri itu
berbeda-beda. Kalau kehendak masyarakat itu dianggap sebagai kehendak Allah,
maka segala kecenderungan Wihdatul Wujud, Komunisme, Nazisme, Zionisme,
Kanibalisme dan lain-lain adalah kehendak Allah yang Allah perintahkan. Segala
yang dikehendaki oleh hawa nafsu manusia yang jahat, kenistaan yang dirindukan
oleh penyakit hati, kebebasan absolut, biusan minuman keras, gelitikan
kehendaki hati, sekedar kehendak pemuas nafsu dengan mengorbankan orang lain,
menjadi perintah Allah itu sendiri.

Maka atas dasar apakah mereka berani mengkritik
orang lain dan menggugatnya habis-habisan apabila kehendak rakyat dan keinginan
mereka itu berasal dari kehendak Allah dalam keputusan yang pasti diridhai oleh
Allah juga? Untuk apa pula Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab,
mensyariatkan jihad, menyuruh amar ma’ruf nahi mungkar kepada umat manusia,
kalau kehendak mereka toh kehendak Allah juga yang diridhai-Nya?
Itu adalah sebuah kemustahilan semata, puncak dari segala kefasikan dan
kesesatan, kebohongan yang selalu mereka klaim tetapi tidak mereka terapkan
pada diri mereka sendiri. Bahkan demi kebohongan itu, mereka memerangi bangsa
yang tidak tunduk kepada kekuasaan mereka dan tidak berjalan di atas
tujuan-tujuan mereka. Seolah olah bangsa yang mereka perintah dengan kekuatan
senjata dan tangan besi adalah bangsa yang merupakan pusat kehendak Allah,
merupakan Tuhan yang diibadahi dengan kehendak Allah sendiri.

Kebatilan itu pasti akan saling bertentangan dan
meneriakan kebatilan bagi mereka sendiri. Mereka telah melakukan syirik yang
besar sekali terhadap Allah, karena mereka menjadi masyarakat itu sebagai
tandingan bagi Allah, menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tandingan bagi Allah
pula dan bagi syariat dan hukum-Nya, sebagai ganti dari pengambilan keputusan
dari Allah, dari berpegangteguh pada hukum-hukum dan syariatnya dan pelaksanaan
seluruh perintah-Nya.

Kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah Li
Muhimmatil Aqidah hal. 77-78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar