Sabtu, 07 Maret 2009

Beda Salafus Shalih dengan Khawarij Modern

Antara pemikiran Liberal dan Khawarij, saya tidak membedakannya. Mereka sama buasnya terhadap Islam dan kaum Muslimin. Jika para Liberaliyun menyerang Islam dari luar, maka Khawarij modern ini menyerang Islam dari dalam. Lihatlah mereka, Khawarij Rabi’iyun itu, agenda hidupnya adalah melawan misi gerakan-gerakan Islam yang komitmen dengan Syariat Islam.

Pada dasarnya mereka tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih, selain klaim yang penuh kepalsuan. Berikut sekian bukti-bukti bahwa Khawarij Rabi’iyun itu tidak serupa dengan Salafus Shalih:

1. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) ketika di Makkah, beliau menyerang sesembahan orang-orang musyrikin, beliau menghancurkan konsepsi ibadah jahiliyah ala orang-orang musyrikin Quraisy. Orang-orang Makkah sangat kewalahan, sampai berkali-kali mengirim utusan dan menawarkan fasilitas-fasilitas untuk melunakkan hati Nabi. Saking marahnya, mereka membuat makar untuk membunuh Rasulullah (Saw). Jadi, dakwah tauhid saat itu benar-benar hebat; konfrontasi antara tauhid dan kemusyrikan sangat hitam-putih. Meskipun disana sifatnya baru konfrontasi dakwah, belum konfrontasi kekuatan fisik. Baru setelah di Madinah, Rasulullah (Saw) diijinkan konfrontasi fisik.

Lalu lihatlah para Khawarij ini! Mana dakwah tauhid mereka? Mana konfrontasi mereka terhadap kemusyrikan? Tidak ada, atau sangat sedikit sekali. Kalau hati mereka peka dengan tauhid, hidupnya tidak akan tenang melihat kemusyrikan merebak dimana-mana. Omong kosong mereka mendakwahkan tauhid. Jauh, jauh, jauh sekali. Dengan mengajarkan Kitabut Tauhid mereka merasa telah “segala-galanya” dalam dakwah tauhid. Kalian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piobang, Imam Bonjol, dll. rahimahumullah.

2. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) di Makkah, mereka rela mengalami berbagai intimidasi, perlakuan keras, bahkan diboikot sampai tiga tahun, demi membela kalimat Laa Ilaha Illallah. Bahkan Khadijah Al Kubra (Ra), isteri tercinta Nabi, wafat dalam perjuangan penuh kesabaran, hingga harta benda beliau habis untuk membela Islam.

Adapun para Khawarij ini justru bermesraan, memuji-muji, bahkan mendoakan regim sekuler yang sebenarnya tidak Islami. Alasannya, taat kepada ulil amri. Mungkin, para Khawarij di Amerika sana juga menyerukan ketaatan murni kepada regim George Bush.

3. Rasulullah (Saw) mengutus Mush’ab bin Umair (Ra) untuk berdakwah ke kaum Aus dan Khajraj di Madinah. Beliau berdakwah penuh bijaksana, hingga ketika Saad bin Mu’adz (kalau tidak salah) hendak menghalangi dakwahnya, beliau berkata dengan lembut, “Tidakkah sebaiknya Anda duduk dulu, dengarkan apa yang saya sampaikan. Kalau yang saya sampaikan baik, terimalah. Tetapi kalau yang saya sampaikan buruk, saya akan berhenti.” Begitu pula ketika Rasulullah (Saw) mengutus Mu’adz bin Jabal (Ra) ke Yaman, beliau berpesan agar Mu’adz berdakwah secara bertahap. Mula-mula disuruh mengajarkan kalimat Laa ilaha illallah, lalu menyuruh shalat, lalu menyuruh membayar zakat.

Adapun Khawarij ini sama sekali tidak bijaksana. Dalam dakwahnya, manhaj mereka adalah mengajarkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antar satu Muslim dengan lainnya. Boro-boro mau bijaksana seperti kaum Salaf, mereka malah merusak citra Salafus Shalih itu sendiri.

4. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) mereka membela Islam bukan hanya dengan ilmu, akidah, ibadah, dan akhlak. Mereka juga membela Islam dengan pedang (al jihad). Ada sejarawan yang mengatakan selama hidupnya Rasulullah (Saw) terlibat 80 kali peperangan. Mungkin maksudnya, termasuk ekspedisi-ekspedisi perang kecil yang beliau perintahkan. Hadits-hadits tentang jihad Nabi ini sangat banyak. Para Imam hadits rata-rata membuat bab tersendiri disana.

Lalu bagaimana dengan para Khawarij ini? Na’udzubillah wa na’udzubillah. Mereka benar-benar telah sesat dari jalan lurus. Seluruh amal-amal jihad yang dilakukan kaum Muslimin di jaman ini, meskipun sifatnya jihad defensif, mereka kecam habis-habisan. Dalam buku MAT itu Luqman Ba’abduh mencela habis-habisan jihad Ummat Islam. Perjuangan almarhum Kartosoewiryo, Relawan Kompak Dewan Dakwah di Ambon, Komandan Ibnul Khattab di Chechnya, mujahidin Afghanistan, sampai-sampai Hamas, Syaikh Yasin, dst. tidak selamat dari lidah api mereka.

5. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan Syariat Islam, menegakkan negara Islami, melindungi Islam dan Ummat dengan Pemerintahan Islami. Hingga ketika Rasulullah (Saw) wafat, para Shahabat lebih mendahulukan mengurus kepastian kepemimpian setelah Nabi, dari mengurus jenazah beliau. Artinya, urusan kepemimpinan Islami itu sangat-sangat penting dan prioritas. Dari jaman ke jaman Ummat Islam melindungi agama dan Ummatnya dengan penegakan Syariat Islam, bahkan dalam konteks Daulah Islam maupun Khilafah Islamiyyah.

Namun sangat aneh dengan para Khawarij ini. Mereka justru sangat memusuhi gerakan-gerakan dakwah yang berjuang menegakkan Syariat Islam. Gerakan-gerakan Islam mereka tuduh sebagai Hizbiyun yang wajib untuk dicela, dimusuhi, disesatkan, diahli-bid’ahkan, ditahdzir, bahkan diboikot. Saya tidak mengerti, atas dasar apa kita menyebut mereka Salafi atau Salafiyun? Justru kalau kebencian mereka kepada gerakan dakwah Islam sudah sedemikian mengkristal di hati dan mengendap di dasar otak, jangan-jangan mereka telah murtad tanpa disadari. Seperti kata Nabi, “Yamruquna minad dini kama yamruqu as sahmu minr ramiyyah” (mereka melesat dari agama ini seperti anak panah melesat dari busurnya).

6. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) membangun peradaban Islam secara menyeluruh. Beliau melibatkan Para Shahabat dengan kemampuan dan spesialis apapun untuk mendukung peradaban Islam. Ada yang terlibat di bidang ilmiyah, ada yang terjun di dunia bisnis, ada yang mengerjakan administrasi, ada yang memelihara hadits-hadits Nabi, ada yang terjun di kemiliteran, ada yang menangani urusan intelijen, ada ahli bahasa, ada pendakwah, ada penyair, ada petani, dst. Nabi (Saw) benar-benar membangun Islam secara kaaffah, seperti yang diminta oleh Pembuat Syariat Islam (Allah Ta’ala).

Namun di tangan Khawarij jaman modern, segalanya jadi berubah. Mereka membenci urusan dunia, mendoktrin pengikut-pengikutnya untuk “belajar din saja”, tidak mau tahu urusan masyarakat, membenci masalah politik, tidak tahu perkembangan ekonomi, informasi, budaya, dst. Bahkan di Ma’had Daarul Hadits Syaikh Muqbil di Yaman, disana tidak ada listrik, rumah-rumah dari tembok tanah, tidak tersentuh teknologi. Padahal Islam hancur justru ketika urusan-urusan dunia diserahkan kepada orang-orang fasik, zhalim, kafir, bahkan musyrik.

7. Rasulullah (Saw) menjaga keutuhan Ukhuwwah Islamiyyah di antara Para Shahabat (Ra) dan Ummat Islam. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar; beliau menjalin ikatan kekeluargaan dengan Shahabat-shahabat utama seperti Abu Bakar As Shiddiq (Ra), Umar bin Khattab (Ra), Utsman bin ‘Affan (Ra), Ali bin Abi Thalib (Ra), dan lainnya; Nabi mendamaikan pertikaian antara kaum Aus dan Khajraj; Beliau mendamaikan perselisihan antara Bilal bin Rabbah (Ra) dan Abu Dzar Al Ghifari (Ra); Beliau tidak bersikap keras kepada Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik, untuk menjaga perasaan orang-orang Madinah pengikutnya; Beliau bersikap lembut kepada pembesar-pembesar Makkah yang mengikuti Perang Hunain, untuk melunakkan hatinya; Beliau memaafkan Ahlul Makkah, khususnya Abu Sufyan dan Hindun, meskipun mereka dulu sangat banyak menyakiti hati beliau; dan seterusnya. Lihatlah Nabi sangat-sangat menjaga keutuhan Ummat, persaudaraan Islam, hingga beliau tidak mau membongkar fondasi Ka’bah, karena khawatir Ummat Islam saat itu belum siap.

Tetapi kaum Khawarij Rabi’iyun ini amal “jihad akbar” mereka justru mematahkan Ukhuwwah Islamiyyah, menyuburkan pertikaian antara sesama Muslim, mengobral penghinaan, pelecehanan, membongkar aib-aib Muslim, merusak kehormatan para dai, menghancurkan nama baik lembaga-lembaga Islam. Kalau ditanya, siapakah mereka? Aku tak ragu untuk mengatakan, bahwa mereka adalah musuh-musuh Islam. Mereka bukan pengikut Salaf, tetapi penghina Salaf.

8. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan akhlakul karimah dalam segala lapangan hidup mereka. Oleh karena itu Islam disebut sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin. Bahkan akhlak Nabi disebut oleh Aishyah (Ra), “Khalquhul Qur’an” (akhlak beliau ya Al Qur’an itu sendiri). Ketika Abdullah bin Rawahah (Ra) diutus Nabi untuk mengatur pembagian jatah hasil kebun di Khaibar dengan kaum Yahudi, beliau hendak disuap orang Yahudi agar mengubah proporsi pembagiannya. Namun beliau menolak tegas dan menyebut orang-orang Yahudi sebagai makhluk yang paling beliau benci. Orang-orang Yahudi justru kagum dan mengatakan, “Dengan inilah (keadilan seperti ini) ditegakkan langit dan bumi.”

Entahlah, apa lagi yang harus dikatakan tentang Khawarij ini. Mereka tidak bisa berakhlak mahmudah, selain hanya dengan kaumnya sendiri. Ya bagaimana akan berakhlak mahmudah, mereka sudah menghalalkan hak-hak Muslim yang telah dijamin oleh Syariat Islam? Sikap keras, mahal senyum, keji mulut, memfitnah, berdusta, menghina, membongkar aib-aib, mengkhianati amanah, bahkan memboikot sesama Muslim.

Saya masih ingat, Irfan Bastian itu dulu telah berjanji akan menyimpan data-data tentang saya. Tetapi kemudian dia khianati, hingga data-data privacy kami tersebar di dunia maya. Tetapi orang itu juga pernah bercerita tentang aib-aib Abu Hamzah Al Atsari (ustadz begituan di Bandung), yaitu berkaitan dengan sumber penghasilan dia, lalu Irfan meminta saya tidak menceritakan hal ini kepada orang lain. Ya, saya tetap menjaga amanah dia, insya Allah dan tidak akan memberitahukan kepada yang lain.

9. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) adalah manusia-manusia yang lembut hati. Mereka mudah rujuk kepada kebenaran yang telah tampak di depan matanya. Nabi (Saw) pernah masam ketika dating Abdullah bin Ummi Maktum (Ra), lalu beliau bertaubat atas hal itu. Beliau juga pernah berusaha mengajak Abu Thalib masuk ke dalam Islam, lalu beliau ditegur oleh Allah. Beliau pernah hendak mengharamkan madu, namun mencabutnya lagi. Abu Dzar (Ra) pernah berguling-guling dalam tanah, sebagai upaya meminta maaf kepada Bilal (Ra). Ka’ab bin Malik (Ra) dan kedua Shahabat (Ra) yang tertinggal dari perang Tabuk bertaubat dari kesalahannya, setelah bumi yang luas terasa sesak bagi mereka. Umar bin Khattab (Ra) jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu, ketika menyadari bahwa Rasulullah (Saw) benar-benar wafat. Umar (Ra) ketika menjadi Khalifah tidak menolak diluruskan dengan pedang, diluruskan oleh Ummu Aiman (Ra), diluruskan oleh seorang ibu, bahkan diluruskan oleh seorang gembala yang mengatakan, “Fa’ainallah” (kalau begitu, dimana Allah?). Meskipun dalam kasus terakhir itu, Khalifah Umar (Ra) hanya ingin menguji rakyatnya. Inilah kelembutan hati manusia-manusia yang tunduk kepada kebenaran.

Adapun di hadapan kaum Kharijiyun ini, apa lagi yang hendak dikatakan? Susah, susah sekali mengajak mereka kepada kebenaran. Kita memberikan nasehat, masukan, pandangan, atau bantahan, seperti apapun, mereka tidak akan terima. Biarpun kita datangnya ayat-ayat Al Qur’an, Sunnah, Sirah, atau perkataan ulama, sulit sekali mengajak mereka rujuk kepada kebenaran. Mereka tidak akan rela tunduk kepada siapapun, sebab IZZAH-nya melarang tunduk kepada al haq. Tetapi, kalau datang wejangan dari Syaikh Rabi’, Syaikh Ubaid Al Jabiri, atau Syaikh Muqbil, tidak usah menunggu lama, mereka akan berhimpun di sekitar wejangan itu dengan penuh semangat dan rasa kehausan. Jangankan kita-kita, lembaga sebesar Rabithah ‘Alam Islamipun dituduh Ikhwani dan tidak ditengok mereka. Bahkan, bukan sekali dua kali saya mendengar, mereka melecehkan Jami’ah Islamiyyah di Madinah (Universitas Madinah). Sesumbar mereka, “Ilmu kan tidak hanya di Madinah, di Yaman juga banyak ilmu.” Apalagi Al Azhar, mungkin sudah tidak ada bentuknya di mata mereka.

10. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) adalah ahlut tauhid, manusia terbaik komitmennya terhadap Tauhidullah. Mereka disebut “Khairu Ummah ukhrijat lin naas”. Komitmen Salafus Shalih dalam tauhid ini tidak diragukan lagi. Umar bin Khattab (Ra) pernah mencium Hajar Aswad sambil mengatakan, bahwa batu itu tidak bisa memberi manfaat atau madharat. Jika bukan karena Umar (Ra) pernah melihat Nabi mencium Hajar Aswad, maka beliau tidak akan melakukannya. Khalid bin Walid (Ra) juga demikian. Beliau telah terlibat dengan banyak peperangan, hingga suatu ketika ketika masih berkecamuk Perang Yarmuk melawan Romawi, tiba-tiba datang surat dari Madinah (Khalifah Umar) agar beliau diganti Shahabat lain. Khalid (Ra) tidak marah atas tindakan itu, sebab kata beliau, dirinya beribadah kepada Allah, bukan kepada Umar. Sama halnya ketika Saad bin Abi Waqash (Ra) memimpin pasukan mujahidin untuk meruntuhkan Kisra Persi, beliau tertahan oleh Sungai Tigris yang dalam dan lebar. Saad (Ra) tidak peduli, beliau memerintahkan pasukannya menerjuni Sungai itu dengan kalimat “Hasbunallah wa nikmal Wakiil”. Dan mereka mampu menyeberangi Sungai Tigris tanpa ada kerugian sedikit pun. Orang-orang Persia sendiri takjub melihat penampilan para mujahidin. Mereka tampak sederhana, kurus-kurus, perlengkapan senjata seadanya, tetapi keberanian dan rasa percaya diri mereka siap melumat Kisra Persia.

Khawarij jaman modern, kemana-mana lidahnya tidak lepas mengatakan, “Salafi, dakwah Salaf, manhaj Salaf, ittiba’ Salafus Shalih, dst.” Seolah merekalah pewaris sah Dakwah Salafiyah. Tetapi nyatanya, mereka beragama karena “takut ustadz”, karena “takut syaikh”, karena “takut teman-teman”. Nasehat-nasehat tidak mereka acuhkan, meskipun dari Al Qur’an dan Sunnah. Demi Allah, jika para pemuda Islam beragama karena “takut ustadz” seperti itu, bukan tauhid murni, seperti yang diajarkan Salafus Shalih, kalian akan hina di dunia dan Akhirat nanti. Bukankah Al Qur’an sudah mengatakan bahwa tauhid itu laksana al ‘urwatul wutsqa (tali ikatan yang sangat kuat), sedangkan sesembahan selain Allah adalah laksana baitul ankabut (rumah laba-laba).

Nah, demikian tentang sebagian bukti-bukti bahwa kaum KBS (Khawarij Berbaju Salafi) itu telah menyimpang dari jalan Salafus Shalih. Mereka adalah kaum yang menodai dan melecehkan kehormatan Salafus Shalih, serta menyimpang dari jalan yang lurus. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 3 Mei 2008.

Al Faqir Ila Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.

Sumber: Dunia Dakwah Islam, MyQuran.org, 3 Mei 2008.

1 komentar:

  1. Jawaban perbedaan mungkin ada di sini
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/29/keterhubungan-salafy/

    BalasHapus